Ini hari ke tiga ratus empat puluh.
Dan aku masih menunggumu di sini.
Ini sudah hampir setahun.
Dan aku masih menggantungkan asaku padamu.
Hai, sahabatku. Oke, maaf, aku ralat. Hai, kau yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku.
Tadinya aku ingin menuliskan "apa kabar?", tapi itu terlalu klasik dan terkesan basa-basi. Ya, bukan sifatmu. Bukan aku juga, yang selalu bicara to the point.
Iya, aku tahu kau ingin sekali meremat surat ini dan melemparnya jauh ke tong sampah, atau kalau bisa kau bakar saja sekalian. Jangan. Sekali ini saja, jangan, dan aku tidak akan meminta apapun lagi darimu.
Oke, aku berbohong. Aku tidak mungkin tidak meminta apapun jika surat ini sudah sampai di tanganmu. Tapi sebegitu sulitkah untukmu memberinya padaku sampai aku harus melalui tiga ratus empat puluh hari yang begitu menyiksa ini? Sebegitu tidak relanya kah dirimu?
Aku hanya meminta satu hal. Dua mungkin. Atau tiga. Maafkan aku. Kembalilah di sampingku. Habiskan waktumu bersamaku seperti dulu.
Dulu. Ah, kadang aku benci sekali mengatakan dulu. Atau masa lalu dan hal sejenis tentang waktu yang telah berlalu.
Karena tiga ratus empat puluh hari yang lalu itu, juga karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diulang. Hanya dikenang, dan dijadikan pelajaran.
Kau,lelaki yang dekat denganku selama satu setengah tahun, tanpa status--samar, dan meninggalkanku tiga ratus empat puluh hari yang lalu dengan berbagai tanya.
Kau, lelaki kurus dengan kulit pucat, mata cokelat, rambut hitam kecoklatan, yang tak pernah kutemui, hanya kutemui lewat foto. Hanya kutemui lewat kata-kata dalam pesan singkatmu di handphoneku.
Kau, lelaki teroptimis yang pernah kukenal, lelaki yang kukagumi karena kelihaianmu bermain berbagai alat musik, lelaki yang banyak berbagi satu setengah tahun belakangan.
Lelaki yang juga tidak sengaja dan tidak sadar aku sayangi.
Haha, aku agak menyesal tidak mendengarkan kata orang.
"Witing trisno jalaran soko kulino"--cinta itu tumbuh dari kebiasaan.
Saat itu aku hanya tertawa, hanya menanggapinya sambil lalu. Dan sekarang, aku memakan tawa itu. Mereka benar.
Ah, waktu cepat sekali berlalu ya. Dan sekarangpun aku masih saja rindu padamu. Padahal tidak pernah bertemu.
Asalkan kau tahu. Banyak hal yang aku sesali.
Mengapa kita terlalu asyik terbuai dengan obrolan di pesan singkat?
Mengapa kita sama-sama tidak berani bertatap muka?
Mengapa aku begitu bodoh menorehkan setitik kecewa padamu?
Mengapa kau tidak kunjung memaafkanku?
Mengapa kau tidak mau menjelaskan semuanya?
Mengapa kau malah berbalik membenciku?
Mengapa?
Mengapa?
Banyak mengapa berkelbat di otakku, kau tahu?
Dan satu pertanyaan yang telah lama kupendam.
Apa status kita selama ini? Teman kah? Sahabat kah? Apa arti satu setengah tahun kebersamaan kita?
Namun kau membisu, enggan menjawab.
Kau membiarkanku bertanya tanpa pernah terjawab.
Tapi, kuhargai keputusanmu. Mungkin ini yang terbaik. Mungkin.
Ah, air mataku mulai jatuh lagi. Ya, aku masih cengeng. Haha.
Asalkan kau tahu, aku memang menyesal, kesal, kadang marah karena kau pergi begitu jauh dan tak terjangkau hanya karena kesalahan sepele.
Tapi aku juga bersyukur.
Aku bersyukur kau sempat mampir d hidupku, bersyukur kau mengajariku sabar dalam mencinta tanpa pernah kau sadari, bersyukur untuk semua waktu yang tidak dapat di ulang.
Aku bersyukur untukmu.
Aku juga berdoa. Untukmu lagi-lagi.
Untuk kau. Kau yang mengetuk pintu hatiku nyaring tanpa aku dan kau sadari sama sekali kala itu. Untuk kau, lelaki yang selalu aku kagumi.
Ini hanyalah sebuah surat cinta biasa. Sebuah surat dengan kata-kata biasa.
Namun surat cinta ini luar biasa untukku. Ini adalah surat yang mengirim sepotong rinduku padamu. Sepotong rindu untuk waktu yang lama. Sepotong rindu untuk sepotong kenangan.
Untuk kau yang masih memandang langit yang kupandang, merasakan rintik hujan yang kurasa, menikmati hangatnya mentari yang menyinariku.
Maukah kau kembali suatu saat?
Jangan biarkan aku menggantung asa tanpa sedikitpun harapan.