Monday, December 31, 2012

denting piano


denting piano menyeruak dalam kepala.
denting pianomu merusak batin, menghancurkan angan-angan.
denting indah pianomu membuat saya layaknya boneka kayu.
saya muak.
ingin muntah rasanya di hadapanmu.
denting palsu. merusak melodi. merusak tangga nada.
pergi saja.
denting palsu piano tuamu.
hilanglah saja, tenggelam dalam keheningan.
bangun saja pusaramu sendiri.
kubur jasad nadanya dalam tanah basah yang merah.
bermainlah lagi, tuan.
tunjukkan denting nada yang sempurna.
ia telah mati, mengubur nadanya sendiri.
perdengarkan lagi pada saya, tuan.
denting indah yang lama saya rindukan.


titik

hari ini aku berharap aku bermimpi. hari ini aku berharap mimpi itu datang kepada malam-malamku. aku berharap Tuhan mengijinkan aku mengintip sedikit petunjuk tentang masa depan. hari ini, asalkau tahu, Tuan. aku meringkuk ketakutan. aku tidak tahu kemana harus melangkah. aku tidak tahu kemana harus sembunyi. bahkan tidak tahu harus tetap berjalan atau lebih baik berhenti. aku tidak takut akan apapun. tapi kali ini berbeda. aku takut tidak akan menemukanmu. aku takut tidak akan menemukan masa depan. titik. titik itu menggangguku, aku tak dapat menemukan cahayaku. titik

Saturday, December 1, 2012

gila

sebut aku gila, karena kamulah semestaku.
sebut aku tidak waras, karena segala hal tentangmu selalu menjadi menarik.
sebut aku sinting karena segala hal tentangmu selalu terasa benar.
sebut aku ketiganya karena menyapamu saja aku tak bernyali

Friday, November 30, 2012

putaran

jangan salahkan semesta.
jika hidupku, berputar di sekelilingmu.
jangan salahkan Tuhan.
jika pusaranmu terlalu menarikku kuat menuju semestamu.
jangan salahkan kamu, tuan.
jika kamu menjadi pusat perputaranku.


terbang

kudengar angin menyampaikan namaku, darimu.
mendadak gravitasiku hilang, tuan.
aku terbang, tanpa sayap, tanpa daya.
aku terbang, tuan.
aku terbang menuju semestamu

Saturday, November 17, 2012

Catatan kematian

aku menggali lagi tanah yang masih merah itu. telaga rindu itu kembali terkuak, air mengalir deras dari dalamnya. hanya saja, air telaga itu tak lagi menyakitiku. ia hanya membuatku mengambang, tanpa asa, tanpa rasa. maka, kutenggelamkan diriku tanpa ragu. kutulis sendiri nisanku di atasnya. semoga semesta mengirim kabarnya padamu.

We are awesome, as usual!

Jadi, sekitar sekitar sebulan yang lalu sekolah saya ngadain studi tour gitu ke Jogja buat nyambangin UGM dan sisanyaaa jalan-jalaaan~. So, ini beberapa foto yang bisa saya upload. Here we go...

w/ youngster, di rumah makan baru nyampe Jogja

foto semacam aib w/ fake twin sista dan pak loeki

again w/ youngster fam di museum x,y yang namanya nggak bisa aku inget

still in the same museum

Prambanan!
(perhatiin sensei deh.....)

UGM
 museum agaiin
 the most favorite photo for me

nyamnyam sarapan

okay, this is umam. the most insane boy in the world


 Okay, saya semacam bukan pendongen yang baik jadi tebak aja sendiri ceritanya. Hehe. Thanks for reading :D

w/ love,
sarah aghnia husna


Wednesday, November 7, 2012

Lelaki Matahari

Lelaki matahari--biarlah kamu kusebut begitu.
Tawamu mengembang, duniaku berputar.

Friday, November 2, 2012

Obrolan Secangkir Teh




Aku merasakan radarmu memanggilku, memintaku bergegas. Ah, ternyata aku sedikit terlalu menikmati hangatnya matahari. tenang saja, aku tidak berhenti mencarimu, tidak akan. aku hanya menerima jamuan minum teh dari waktu.
Waktu mengajakku singgah sejenak dari perjalananku. Kami banyak mengobrol. apalagi topiknya kalau bukan kamu. Kami berandai-anadai dan waktu terus memberondong pertanyaan. Bagaimana jika seandainya kamu tidak lagi menungguku? Bagaimana jika seandainya semesta meminta waktuku? Bagaimana jika seandainya perjalannanku masih jauh? Tidakkah aku lelah? Aku hanya tertawa, menjawab sekenanya. Aku tidak mengkhawatirkan hal-hal itu. Aku lebih khawatir dengan pikiran terburuk yang bercokol di otakku.
Bagaimana jika seandainya aku memutuskan untuk berhenti mencari kamu?
Bagaimana jika seandainya itu terjadi? Bagaimana jika seandainya aku menyerah? Apakahkamu masih menungguku? apakah aku sanggup berhenti dan merelakan kamu?
 Aku meletakkan cangkir tehku dan berpamitan pada waktu. ia memberengut--belum puas, tapi tetap mengantarku ke depan pagar rumahnya, ramah. Memintaku singgah lagi kapan-kapan. Aku tersenyum saja, tidak mengiyakan. Aku masih memikirkan perkara kamu.

Bukankah seharusnya sebuah hubungan selalu seperti secangkir teh? Cangkirnya menjaga teh agar tidak tumpah, agar tetep aman di sana. Walaupun tahu teh itu tidak akan selamanya mengepul. Sedangkan teh? Ia bukannya sengaja menghilangkan panasnya. Keadaan yang memaksanya. Kalau bisa, ia ingin mengepul selamanya. Tapi apa daya, ia hanyabisa mempersembahkan apa yang ia punya--sepenuh hati. Aroma dan rasa manis dari butiran gula yang larut.

Radarmu kembali memanggil.

Tunggu saja. Aku akan datang. Aku pasti datang.

Jadi pastikan kamu masih di sana dan menyambutku dengan hangat. Atau mungkin dengan sepenuh hati--apapun bentuknya.

30.10.12

Sarah Aghnia Husna

Monday, October 29, 2012

Perahu

Perahu.

Perahuku mengambang, ditengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda.
***
Aku tidak menemukanmu, begitupun kamu. Tiba-tiba saja semesta mengaturnya. Membuat sebuah konspirasi kecil. Secara tidak sadar, aku mulai membuat perahuku. Secara tidak sadar, aku menjadikanmu pelitaku. Secara tidak sadar, keberanian merasuk dalam jiwaku. Aku berlayar, ke laut lepas. Aku tak punya alasan khusus. Hanya sebuah kalimat sederhanamu yang menggiringku ke laut, "Aku suka biru, karena laut itu biru."
Bahagiaku kian sempurna. Ada laut biru--aku berlayar di pundaknya, merasakan ombak--anak-anak rambutnya ikut menari. Ada langit biru. Dan ada kamu. Cukuplah bagiku. Aku tak keberatan jika esok tak datang lagi.
Namun, entah bagaimana kamu pergi. Aku terlalu menikmati ketidak sadaranku. Aku lupa dan selalu lupa mengikat kamu erat. Kamu pergi, tanpa memberiku apapun. Sisa pelitamu, kompas, pun pesan. Hanya sirna begitu saja, seperti terbawa ombak, seperti menguap menjadi awan.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Tanpa arah, tanpa pelita, tanpa kamu."
Perahu ini hanya mengambang, gamang. Seperti aku.
Mungkin kamu bukan pelitaku. Mungkin kamu hanya seeekor kunang-kunang. Mungkin hanya aku yang buta, hanya aku yang tuli, hanya aku yang bisu. Atau kamu yang mati rasa? Karena bersamamu, semua terasa benar.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Semua mengambang, gamang. Mana yang lebih baik? Mencari pelita baru dengan perahu yang sama? Atau karamkan saja sekalian? Masa bodoh dengan pelita. Atau lebih baik pulang dan menata hati?"
***

27.10.12
Sarah Aghnia Husna

Wednesday, October 10, 2012

Kisah Hujan, Bumi dan Matahari

Hujan memeluk bumi, menebus tetes demi tetes rindu yang tersimpan lama.Bumi bukannya tidak suka pada matahari, matahari menghangatkannya, sungguh. Matahari begitu setia. Hanya saja ia  butuh hujannya. Rindu itu usai sudah. Terbayar lunas. Goresan pelangi menandakan perpisahan mereka. Mereka-- hujan dan bumi berpisah, membawa asa. Semoga semesta kembali berkonspirasi mempertemukan mereka. Hujan menitip pesan bagi matahari, agar menjaga buminya selama ia pergi. Manusia yang menggerutu ketika hujan tiba hanyalah mereka yang tidak tahu, betapa bumi dan hujan saling merindu. Mereka adalah yang tidak tahu betapa mereka menunggu semesta mempertemukan mereka. Mereka adalah yang seharusnya mulai belajar bahwa cinta tidaklah harus selalu bersama. Mereka adalah yang harus belajar bahwa sedikit saja kebahagiaan adalah sesuatu yang layak dibalas dengan syukur.

Oktober 2012,
sarah aghnia husna

Thursday, September 27, 2012

percakapan pohon oak

pohon oak kepada daun:
aku hanya tidak ingin membiarkannya terus menggantung. ia hanya akan lelah dan tak akan sanggup bertahan sampai musim semi tiba.
daun kepada pohon oak:
aku hanya tidak ingin memberatkan dia dengan keberadaanku. ia hanya akan terus menjagaku dan itu tidak membuatnya merasa nyaman. aku akan menggugurkan diriku dan membiarkan yang lain mengisi hidupnya.

Tuesday, September 11, 2012

aku

aku lelah.
aku ingin pulang.
aku jengah.
aku rindu rumah.
aku ingin terbang.
bebas.
aku ingin terjun.
lepas.
kemudian.
rumah bernyanyi untukku.
burung menari bersamaku.
tanah seempuk kapas.
dan aku kembali
seperti selembar kertas.

Saturday, September 8, 2012

#hari ketiga :Kepada Kamu

Kepada Kamu.
Apa kabar? Di sana pasti kamu senang sekali, ya.
Pagi  ini gerimis mendekap bumi dengan hangat. Aku senang sekali. Bukankah kamu pernah bilang, saat awan mendung menggantung kamu akan lekas berdoa untukku. Agar setiap tetes gerimis yang menyentuh kulitku, terkandung doa tulus darimu. Aku merasa kamu sedang memelukku hangat. Kamu pasti sudah menduga gerimis akan datang dan kamu pasti sudah berdoa kan? Aku juga sudah, tenang saja.
Flowers cut and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you're free
Tadi malam aku bermimpi, aku bermimpi tentang kita. Rasanya baru kemarin. Rasanya baru kemarin kamu mendekap aku hangat di pelukanmu. Baru kemarin kamu menggandeng aku sambil berjalan menyusuri bibir pantai. Bukankah memang baru kemarin, kamu mengecup puncak kepalaku sambil mengacak rambutku? Iya, kan?

The ache I feel inside
Is where the life has left your eyes
I'm alone for our last goodbye
But you're free
  
Asal kamu tahu, aku rindu sekali padamu. Aku ingin pergi ke tempatmu, secepat yang aku bisa. Karena kamu tak mungkin menyusulku, kan? Tidak apa. Aku akan berangkat sendiri. Aku saja yang menyusulmu. Tapi kenapa kemarin kamu melarangku?
I remember you like yesterday, yesterday
I still can't believe you're gone, oh...
I remember you like yesterday, yesterday
And until I'm with you, I'll carry on

Jarak ini menyiksaku, kamu tahu? Bukan. Kalau cuma jarak tidak apa. Aku bisa mengunjungimu. Semua ini benar-benar menyikasku. Jarak, waktu, bahkan mungkin. Dimensi.

Adrift on your ocean floor
I feel weightless, numb, and sore
A part of you in me is torn
And you're free

Kamu bilang kamu akan menungguku. Aku tahu kamu pasti tidak akan berbohong. Tapi bagaimana denganku? Bagaimana aku bisa bersabar? Bagaimana aku bisa tanpamu? Sungguh, aku ingin segera menyusulmu.

I woke from a dream last night
I dreamt that you were by my side
Reminding me I still had life
In me
Kepada Kamu.
Aku rindu sekali.
Aku rindu caramu tertawa.
Aku rindu caramu mengacak rambutku.
Aku rindu caramu menggenggam tanganku.
Aku rindu caramu mendekapku.
Aku rindu wangi tubuhmu.
Aku rindu.
Sungguh, aku rindu.
I remember you like yesterday, yesterday
I still can't believe you're gone, oh...
I remember you like yesterday, yesterday
And until I'm with you, I'll carry on
Kepada kamu.
Bisakah kamu sampaikan pada Tuhan agar menjaga kamu selama aku belum tiba di sana? Bisakah kamu sampaikan agar Tuhan memepercepat waktu pertemuan kita?

tertanda, kekasihmu.
kepada kamu, kekasihku di Surga.

Friday, September 7, 2012

untitled

debaran itu mungkin kecil, tapi konstan.
menimbulkan perasaan nyaman yang besarnya tak terdefinisi.
sentuhan itu mungkin hampir tak terasa tapi membuat letupan kecil dalam hati.
tatapan itu mungkin hanyalah sorot normal saja.
tapi mampu merobek dinding yang lama kokoh.
lengkungan senyum terbentuk di bibirku.
apakah itu kamu?

Wednesday, September 5, 2012

(seharusnya)#hari kedua : Kita

aku ingin menjadi daun pohon oak pada musim gugur.
agar relanya menyatu dalam jiwaku.
merelakanmu mencari yang lebih baik.
agar aku dapat mengikhlaskanmu pergi dari relungku.
aku ingin menjadi pelita dalam ruang dan waktu yang berbeda
agar aku dapat menyinarimu tanpa pamrih di hari gelapmu.
aku ingin menjadi sisi lain dari seorang lelaki baik-baik
agar aku dapat menjagamu dan mencintaimu dengan  "terlihat" baik-baik.
aku ingin menjadi seorang politikus, agar dapat mengumbar maafku tanpa ego yang tinggi.
aku jengah dengan segala riuh tak wajar dalam hubungan kita
aku lelah dengan segala jerit dan pekikan nyaring dalam setiap percakapan kita.
berisik.
aku bosan dengan semua pendapat mereka.
berisik.
aku terganggu dengan suara-suara di kepalaku.
aku mencintaimu, aku membutuhkanmu dan sebaliknya pun begitu kan?
tidakkah itu cukup bagi kita?
tidakkah itu adil?
tetaplah di sini.
tetaplah di sisiku.
tetaplah melengkapi kata kita dalam hidupku.

 ditulis dengan dendang Bad Boy-Bigbang
Bad Boy lyric:
I was too harsh that night
I didn’t know you would really leave
The words, “I’m sorry”, is too difficult for us that we take it to the end
Because I’m ill-tempered
We fight over stupid things numerous times a day
You take off crying, I look around and think,
‘She’ll come back tomorrow. She’ll definitely call me first in the morning’
Baby, I can’t, I’m so bad that I want to be good to you but it’s hard
Every day and night I’m so mean cuz I’m so real so I’m sorry (but I can’t change)
I’m the one you love but sorry I’m a bad boy
Yes, just leave me, good bye, you’re a good girl
The more time passes, the more you get to know me, only disappointments will remain but
Baby don’t leave me, I know you still love me
Why, yes, I’ll tell you the truth, I need you
My lay lay lay lay lady
My lay lay lay lay lady
You say that I’m different than other guys so it’s hard
You’re still like a young girl with a soft heart
For you, who is always smiling next to me, I’m still too young
With the excuse that I’m busy, I postpone our date
Because I’m sorry, because I’m frustrated, I turn my head
The bride in my dreams is just a friend now
Upset over the breakup, we are silent
Baby, I can’t, I’m so bad that I want to be good to you but it’s hard
Every day and night I’m so mean cuz I’m so real so I’m sorry (but I can’t change)
I’m the one you love but sorry I’m a bad boy
Yes, just leave me, good bye, you’re a good girl
The more time passes, the more you get to know me, only disappointments will remain but
Baby don’t leave me, I know you still love me
Why, yes, I’ll tell you the truth, I need you
My lay lay lay lay lady
My lay lay lay lay lady
Don’t say a thing
I act tough but I’m not inside
Don’t abandon me
You know that there’s no one who will understand me like you, baby
Oh you, come back to me ye ye ye
I’m the one you love but sorry I’m a bad boy
Yes, just leave me, good bye, you’re a good girl
The more time passes, the more you get to know me, only disappointments will remain but
Baby don’t leave me, I know you still love me
Why, yes, I’ll tell you the truth, I need you
My lay lay lay lay lady
My lay lay lay lay lady
I’m the one you love but sorry I’m a bad boy
Sorry I’m a bad boy, Sorry I’ma bad boy
Yes, just leave me, good bye, you’re a good girl
You’re a good girl, you’re a good girl

Saturday, September 1, 2012

secangkir rasa

secangki kafein di gelas ini sudah tidak lagi mengepulkan asapnya.
asapnya hilang, entah, membawa rinduku menguap bersamanya.
secangkir kafein di gelas ini sudah kehilangan kehangatannya, entah, membawa pergi hangatnya senyummu dalam benakku.
meski kusesap dalam diam, meski kusesap pelan-pelan.
akankah secangkir rasa ini ikut menguap seperti secangkir kafein?
entah

sebuah tanya kecil

am i falling in love? jatuh cintakah saya? saya sendiri tidak yakin. sudah dua tahun saya diam saja berusaha mengabaikan getaan kecil dalam hati saya. kemudian kupu-kupu itu datang dan mengganggu perut saya lagi. menumbuhkan tunas yang saya biarkan agar mati. memupuk rindu yang lama usang terabai.
bolehkah saya jatuh cinta? bolehkah kepada yang ini?
rasanya saya ingin menghajar akmu, kalau boleh. saya sudah berusaha mematikan segala rasa yang tumbuh--seperti racun yang mematikan kecoa. tapi kamu malah tersenyum pada saya ketika saya sudah membuat sekarat kecoa itu--maksud saya perasaan saya.
sudahlah, mana mungkin say jatuh cinta lagi pada kamu.mana mungkin? iya kan?
tapi kalau benar saya jatuh cinta lagi pada kamu, apa yangharus saya perbuat?

Friday, August 31, 2012

kepadamu, tuan

kepada tuan masa depan.
aku menunggumu, meringkuk, lapuk
menunggu kau menyapaku dengan hangat seperti secangkir kafein pekat di pagiku yang kelabu.
aku memejamkan mataku erat, berharap saat aku membuka mata kau sedang mendekapku hangat.
aku menyimpan semua perasaanku, tawaku, di dalam sebuah kotak.
agar saat kau ketemukan nanti, kau bisa menikmati semua  letupan-letupan kecil yang lama kupendam sendiri.
agar saat kau menemukanku nanti, kau tahu betapa aku begitu ingin menemukanmu.
kepada tuan masa depan, datanglah segera.

Tuesday, August 28, 2012

Setoples

aku masih menagih janjimu.
aku rela membiarkan waktu memburuku dan membunuhku demi janjimu.
tepatilah segera.
aku haus dan lapar.
kenyangkan aku.
puaskan aku.
beri aku janjimu.
demi janjimu, setoples penuh kenangan dengan bumbu canda dan tawa.

Thursday, August 16, 2012

Mimpi

Aku menunggu gelisah, hari sudah merangkak menuju kegelapan.
Kemudian kau datang, dengan sepeda tuamu itu. Menawarkan sebuah tumpangan untuk kembali.
Aku mengangguk pasrah dan membaca apa yang kau pikirkan.
Bagaimana aku tahu, jika sekalipun tidak dia menyandarkan kepalanya padaku sebagai tempat singgah dan merasa aman?
Aku tersenyum menyambutmu. Aku duduk dan memelukmu erat sembari menyandarkan kepalaku di punggungmu.Dan aku menikmati irama jantungmu yang tak keruan menyambutku.
Sepeda tua itu beranjak jauh. Dan sampai di pemberhentian yang seharusnya.
Dan aku mengucapkan terimakasih yang seharusnya.
Kau menggenggam tanganku dan melepaskanku pergi.
***
Aku membuka mataku yang silau disapa sinar matahari. Membaca situasi sekeliling ranjangku.
Hanya mimpi. Sial.
Aku kembali menarik selimut dan memasukkan tanganku ke balik bantal.
Ada sesuatu mengganjal. Setangkai mawar kering menyembul dari balik bantal.
Lelaki dalam mimpiku itu rupanya membiarkan aku menyimpan pemberiannya semalam.
***

Saturday, July 28, 2012

Tarian Aurora

Aku berjalan menyusuri hampa bernama angkasa. Langkahku tertancap pada tumpukan batu penghalang raksasa, tempatku bersua dengan waktu dan pengap yang kian menghimpit. Aku melihat denyut nadiku melemah, seperti siap menyapa ajal. Namun ketakutan itu kembali menghampiri, menyeretku ke kenyataan yang kadang sudah tak bersekat dengan kefanaan. Jadi kuputuskan mengambil sebuah pil untuk ditelan.
Suara langkah mendekat mengusik sepi yang kucintai. Seorang gadis berambut ikal berjalan mendekat membawa sekarung kecil entah apa berwarna cokelat. Rambutnya yang berwarna azure membuatku memaafkan kelancangnnya mendekati  wilayahku. Warna azure--warna langit yang diam-diam lama kurindukan sekaligus warna terlarang.
Siapa kau?
Tak akan lagi penting siapa aku ketika asa mulai menyesakkan dadamu dan menghimpitmu dalam keputusasaan
Gadis tadi duduk di batu sebelahku.
Ini napas simpananku. Aku jarang menggunakannya dan lebih sering menyimpannya,
Ia menunjuk karung kecil yang ia pegang dengan wajah hampa. Ia melanjutkan bicaranya yang kuanggap racauan saja.
Seumur hidupku, aku tak akan menggunakan napas sebanyak ini. Aku pasti akan terus menyimpannya. Tetapi sebuah bunga tidak akan mekar terlalu lama. Ia harus mengorbankan kematiannya demi generasi yang baru.Seperti aku, aku rela mengorbankan apapun demi melihat kedua orang tuaku di Bumi.
Bumi--planet yang disebut-sebut planet terlarang--
Ia berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan melintasi batu penghalang raksasa dengan tenang. kulihat kakinya banyak berdarah. ia tetap berjalan sampai ke puncak walau sudah kularang.
Namaku Aurora, kuharap kau akan mengingatnya.
Ia menghabiskan seluruh napas yang ia kumpulkan sepanjang hidupnya dan menghilang setelah melompat dari puncak batu penghalang.
Di balik batu itu. Tempat gadis itu melompat. Tempat aurora  terjun adalah lubang hitam. Yang menyerap siapa saja ke dalamnya. Banyak mitos yang mengatakan lubang itu menembus ke planet terlarang bernama Bumi. Namun entah.
**
Lama setelah aku kembali kuat menatap angkasa tanpa gelisah dan resah yang lama menghampiriku, semua orang ribut membicarakan hal aneh. Seberkas cahanya berwarna azure melintang indah di atas angkasa.
Azure?
Aurora. Aurora pasti sedang menari di atas sana.
***

Wednesday, July 11, 2012

Puisi Rangga dalam Sebuah Film

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
kulari ke pantai kemudian teriakku
sepi, sepi dan sendiri
aku benci

Aku ngin bingar
aku mau di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga 
jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya
biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh

Ah...ada malaikat menyulam
jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan
belok ke pantai .........

.


"How can I love when i'm afraid to fall?"
--Christina Perri- A Thousand Years

Tentang Kematian


                Seorang lelaki berlari membelah malam. Peluh mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Ia tampak lelah, namun sesekali ia menoleh ke belakang. Waspada. Walau begitu, ia tetap memaksa mengayuhkan langkahnya yang kian memendek karena energinya yang menipis setelah seharian lebih ia berlari. Juga karena dahan-dahan dan ranting-ranting pohon yang mulai mengganggunya.
                Dua Hari yang lalu, mimpi itu kembali datang. Ia akan mati besok, artinya ia kan mati setelah hari ini dalam beberapa jam ke depan. Seseorang datang ke dalam mimpinya dan mengatakan hal itu padanya. Sebelumnya selama seminggu tidurnya tak lagi nyenyak. Ia terus bermimpi tanpa ujung yang jelas. Mulai dari rentetan masa kecilnya hingga sebuah mimpi dimana ia melihat seluruh keluarganya menangisi jasadnya.
                Sempat ia mendatangi “orang pintar” dan bertanya perihal mimpi-mimpinya. Lelaki tua di hadapannya mendadak pucat pasi setelah menyembur air yang entah apa campurannya ke dupa yang terbakar. Wajahnya seputih jenggotnya yang panjang hampir sedada. Saat ia bertanya apa yang lelaki tua itu lihat, lelaki itu berulang kali berkata, Sebentar, dan kembali merapal mantra.
                Bau dupa bakar kian menyengat, menyeruak ke seluruh ruangan menusuk hidungnya yang mulai tak nyaman. Lelaki tua yang katanya “orang pintar” itu akhirnya mendesah, menyerah kemudian berkata, Kau akan mati. Besok. Di saat fajar pertama mulai menyinari bumi.
                Ia tersentak. Bagaimana orang pintar ini tahu pesan di mimpi terakhirnya bahkan sebelum ia mengatakannya? Namun, ia kembali bertanya, Dimana?
                Saya tidak tahu, saya hanya membaca dan menafsirkan apa yang datang dalam mimpimu, lelaki tua itu berujar sambil menggeleng.
                Ia hampir gila. Atau mungkin sudah. Ia akan mati besok! Pikiran pertama yang melintas di kepalanya adalah ia tidak boleh tidur. Itu hanya akan mempermudah kematian menyergapnya tanpa permisi. Ia lantas hampir seharian menyusuri kota, mencari kafein terbaik yang paling ampuh untuk membuatnya terjaga.
                Waktu memburunya. Genderang kemar=tian terasa memekakkan telinganya.
                Ia berlari menjauhi kota. Berharap ada tempat persembunyian baginya. Dimana tiada sesuatupun disana, hanya dirinya. Kalau perlu ia ingin sekali berkelana menembus dimensi, menipu waktu juga takdirnya. Dan hari mulai berganti malam. Kelam menyeliimuti bumi. Suasana mencekam menggelayutinya di antara atmosfer dalam hutan ini.
Waktunya tak banayk untuk kabur dari kematiannya. Jika ia berhasil kabur setidaknya hingga fajar datang sekali lagi saja, mungkin ia bisa lolos.
                Otaknya mulai tidak beres. Ia berkhayal seperti apakah wujud malaikat yang akan menjemputnya? Seperti apakah rasanya mati? Sakitkah? Ia terkekeh.
                Namun sepersekian detik kemudian ia mengusir pikiran-pikiran gila dalam benaknya dan kembali mempercepat larinya. Ia terus berlari dan sesekali melirik jam di tangannya. Sebentar lagi. Hanya sedikit lagi. Detik terakhir di hari itu matahari mulai tampak bersinar walau masih malu-malu.
                Dan ia bebas!
                Ia tidak melihat sosok itu. Sosok yang beberapa menit yang lalau sibuk ia bayangkan. Ia merasa ringan. Ringaaaaan sekali. Ia menghela napas lega. Namun aneh. Ia tak merasa lelah setelah hampir sehari lebih ia berlari. Ia tak merasa….
                Dimana detak jantungnya? Dimana embusan napasnya? Dimana hangatnya suhu tubuhnya?
                Ia menoleh ke bawah dan mendapati raganya tergolek bermandikan darah di dasar sebuah jurang. Lelaki itu tak dapat berpikir banyak. Ia berusaha mencari tahu dengan melihat sekeliling. Matanya tibia-tiba membelalak saat melihat suatu sisi.
                Kemudian gelap.
                Genderang kematian kemudian mengantarkannya menuju tujuan selanjutnya. Malaikat pencabut nyawa, Tuhan, penghuni langit dan bumi mungkin terkekeh dengan usahanya yang sia-sia. Sebuah asa tanpa harapan nyata.
                Tak akan ada yang dapat lolos dari kematian. Pun saat kau bersembunyi di tempat yang tak akan dapat dijangkau siapapun di dunia yang fana ini.
Kematian adalah pasti. Kematian adalah sebuah keniscayaan. Dimana ia akan mengantarmu untuk pemberhentianmu yang selanjutnya dari hiruk pikuk duniamu.

Thursday, June 28, 2012

Lelaki Bersayap Hujan


Saya baru pertama melihat kamu, tadi siang. Tuhan mempertemukan kita saat hujan turun ke bumi, menyapa saya dengan gerimis kecil. Juga dengan desah lembut angin yang terkadang mampir di antara kulit saya. Saya merapatkan lipatan tangan saya di depan dada, berharap dinginnya akan berkurang. Percuma. Saya menyeringai merutuki usaha sia-sia saya.
Lalu kamu datang, dan kita bertukar pandang layaknya kisah cinta dalam sebuah novel. Mata kita beradu sepersekian detik. Kilatan sepersekian detik itu memacu jantung saya untuk memompa lebih cepat. Untuk berlari lebih heboh layaknya pacuan kuda. Tapi kamu segera berlalu sesaat.
Ah. Ini bukan tempat dan waktu yang tepat. Saya merajuk kepada takdir yang tidak menjadwalkan segalanya dengan tepat dan cermat—setidaknya belum. Saya menunggu kamu keluar dari sana, sebuah tempat pencetakan foto kecil di sudut jalan. Saya baru sadar kamu sedari tadi menenteng sebuah kamera yang juga menggantung di lehermu yang terlihat jenjang, indah.
Tetapi, tidak akan terjadi percakapan. Persis seperti yang saya ramalkan sebelumnya. Saya tidak punya banyak waktu. Dan seperti mengerti, kamu muncul  dengan seorang teman. Tidak, saya masa bodoh dengan temanmu. Saya lebih tertarik dengan sesuatu di balik punggungmu. Saya berharap saya berimajinasi karena saya melihat untaian sayap indah melengkung terbentuk oleh butiran gerimis yang membelah bumi. Saya mengerjapkan mata, takjub.
Lalu kamu mengobrol. Ah. Saya rasa kamu perlu mendapat sebuah medali. Kamu sukses membuat saya jatuh cinta, tenggelam dalam imajinasi liar bernama asa. Termakan oleh cahaya yang terlihat berpendar di wajahmu yang berseri.
Kulitmu cokelat, terbakar teriknya matahari.
Badanmu yang tegap dan tinggi, saya mungkin hanya sepundakmu.
Matamu. Saya benar-benar jatuh cinta. Matamu yang tampak seperti garis tipis di bawah bingkai alismu yang tebal. Sipit, tapi memancarkan kehangatan yang sempurna.
Kemeja lengan pendek berbahan flannel kotak-kotak cokelat dengan celana pendek warna senada melekat indah membalut ragamu.
Ah. Rambutmu, saya suka sekali. Beberapa helai menjuntai layu dan basah menyentuh dahimu akibat terpaan gerimis yang kamu tembus.
Saya masih mengamati kamu. Dan terus begitu.
Saya harap temanmu mulai jengah dan membisikkanmu kata-kata semacam ini; Hei, gadis itu terus memandangimu. Saya rasa dia tertarik padamu. Datang dan sapalah dia.
Saya masih terus menunggu kamu datang, di bawah gerimis yang mulai reda dan menyeret matahari untuk segera bertugas lagi. Saya masih berdiri sendiri mengagumi setiap jengkal titipan Tuhan yang dipercayakan melekat di ragamu.
Tapi.
Saya sudah bilang waktu saya tidak lama. Saya sudah bilang saya tidak punya cukup, apalagi banyak waktu. Seseorang menghampiri saya, membuyarkan fantasi gila saya dan menyeret saya pada kenyataan. Saya masih memandangi kamu. Berharap kamu sedikit saja berpaling melihat saya. Dan hanya ekor mata itu yang terakhir saya tangkap. Ekor mata yang menunjukkan bahwa kamu menyadari keberadaan saya.
Taukah kamu, lelaki bersayap hujan? Saya terus berdoa pada Tuhan hingga kini.
Tuhan, bolehkah saya berharap? Bolehk ah saya bertemu dengan dia lagi—lelaki bersayap hujan? Bolehkah saya sejenak saja sekali lagi mengagumi ciptaanmu? Bolehkah saat waktu itu tiba segala ketidakmungkinan menjadi mungkin, dimana segala sesuatunya terasa tepat? Bolehkah saatnya nanti takdir mampu menjadwalkannya dengan sempurna? Bolehkah saya?

Thursday, May 24, 2012

Bahagia

Kebahagiaan itu sederhana.
Sesederhana kata hai dalam percakapan, tapi memulai semuanya.
Sesederhana kalimat 'apa kabar?' dalam sebuah percakapan, namun menghangatkan percakapan.
Sesederhana mengorek memori lama, lalu mensyukuri setiap detik yang terlah berlalu.
Dan
kebahagiaan saya sesederhana melihat kamu bahagia tanpa sepotong kata hai atau apa kabar lalu mensyukuri setiap detik yang telah saya lalui bersam kamu.
Sesederhana itu.

#firstgame

Tadi itu saya--Sarah. Yang kamu terima bukan permen--coklat.
Suka?

saya punya cerita rahasia

Kamu sedang berada dalam permainan kecil saya. Dimana aturannya saya yang menentukan. Cukuplah kamu penasaran saja dengan kejutan saya. Karena, saat kamu tahu siapa saya--saat saya terungkap, selesai sudah. Permainan ini akan berakhir. Permainan ini seperti bom waktu saya tidak pernah tahu kapan akan meledak. Tapi saya tahu pasti akan meledak.

Tuesday, May 15, 2012

Kemarin, saya sempat membuka postingan-postingan lama saya dari blog saya yang lama. Ya ampun. frontal.
Jadi hari ini saya akan mencoba memakai bahasa lama. yeah, check this out aja lah ya.
Well, sebenernya aku nggak tau sih apa yang bakal aku bahas hari ini. Di hadapanku sekarang guru bilogiku tercinta, Bu Ellen lagi koar-koar masalah biologi yang merembet kemana-mana. Ngalor ngidul. *sigh
Oya, aku baru inget. Aku pengen share masalah kelasku aja lah ya. Walaupun ada orang-orang freak di sini, tetep, aku sayang sama mereka. Adaa aja yang bikin aku kangen sama mereka. Kecuali sama beberapa orang, yah. Yang ga akan aku sebut namanya demi nama baik dia. Dan lagi aku nggak pernah mau ingin kayak dia. Ngumbar nama orang di blog buat diomongin karena ga suka. No way.
Okay. Lanjut. Di kelasku, XI IPA 1 ini, aku punya kalau nggak salah itung 9 temen deket cewek. Terus ada beberapa temen deket cowok yang mungkin bisa ikut aku itung. Sisanya nggak terlalu deket, dan ada dua orang yang aku rasa freak. Freak? Why? Secret kali ya.
Terus, abis ini aku UAS *pentingamat*, sedihnya sih jadi bakal ganti kelas.
Udah ah, malah ga seru. Yaudah lah ya.
Ciao.

Monday, May 7, 2012

Mesin waktu


Kita berandai-andai, solah telah lama mengenal dan hanya mengungkit masa kanak-kanak.
Kita saling berbagi seolah kita telah jauh melangkah bersama.
Tapi kita selalu lupa mengikat semuanya erat dalam  genggaman dalam sebuah ikatan.
Atau tidak peduli sama sekali.
Andai kala itu Tuhan menunjukkan padaku sebuah mesin waktu.
Andaikan boleh melongok ke depan waktu itu, mungkin saat ini
kita tidak terpisah dan terpencar mengejar asa masing-masing.

Tuesday, May 1, 2012

clue

Saya tidak tahu apakah kamu akan mengikuti clue yang saya berikan. Bahkan saya juga tidak pernah tahu apakah kamu sempat membaca surat yang saya berikan. Yang jelas, saya akan teap menulis ini walaupun kamu belum tentu akan membukanya.
Hai. apa kabar? Saya serius berkata bahwa saya akan merindukanmu. Haha. Lancang sekali saya berkata seperti itu pada orang yang tidak saya kenal.
Ini saya.

Monday, April 9, 2012

tentang sebuah hubungan

Semua orang bilang kalau sebuah hubungan terbangun dari sebuah komitmen. Tanpa komitmen hubungan itu tidak akan berhasil alias GAGAL. Tapi buat saya, hubungan tanpa komitmen akan jauh lebih menyenangkan, tidak mengikat dalam hal ini saya tidak berbicara mengenai pernikahan. Saya beranggapan masa remaja seperti yang sedang saya alami tidak akan menyenangkan jika harus berkomitmen. Jadi saya lebih memilih untuk tidak berkomitmen. Ambigu mungkin, bahakan tabu. Tapi ya ini opini saya.

sepi

Sakit. Rasa kesepian bahkan lebih sakit dari luka di tangan saya. Di saat waktu terus berputar dan saya hanya bisa menyaksikan. Saat semua orang enggan untuk sekerdar bersua. Dan keheningan mencekat menikam saya perlahan. Menikmati setiap detik rasa sakit itu menyusup dalam raga saya. Membunuh sya perlahan tanpa ampun. Saat itu, sejenak saya tidak ingat bagaimana caranya bahagia. Saya lupa rasanya terjebak dalam lautan manusia. Yang ada hanya saya. Dan waktu. Dan hampa. Dan dari situlah saya belajar untuk menghargai setiap detik luapan bahagia, menyimpan letupan-letupan kecil untuk setiap ekspresi. Dan menikmati setiap lembaran baru kehidupan untuk di ingat, sebagai memori abadi hidup.

april 2012, sarah aghnia husna

Tuesday, April 3, 2012

The Last Wish : Sebuah Film

Boleh saya teriak?
AAAAAAAAAAAA!
Film garapan pH asam-basa (ngaco) yang digawangi saya dan kawan-kawan memenangkan lomba film di sma 8 dan masuk nominasi di malang film festival.
speechless.

Monday, April 2, 2012

Kita

Ingatkah kamu sore-sore yang telah kita lalui bersama? Dan. Hangatnya matahari jam setengah empat sore favorit saya yang selalu kamu herankan. Juga, dua bangku yang selalu menjadi saksi bisu pertemuan-pertemuan kita yang menyenangkan. Taukah kamu, saya merindukan kamu dengan sangat? Merindukan candaan kita tentang hidup. Merindukan dua cangkir kafein pekat yang selalu saya sajikan untuk kita berdua. Namun entah kenapa akhir-akhir ini tidak tersentuh olehmu. Orang bilang saya gila. Mungkin. Mereka bilang, kamu tidak nyata. Hanya siluet, hanya bayangan yang lewat. Tapi saya yakin, kita masih ada. Ya. Kita. Semua tentang saya dan kamu. Semua waktu yang terlewat bersama antara saya dan kamu. Mereka mungkin hanya iri atau mengada-ada. Iya, kan? Saya rindu kita. Jadi, maukah kamu kembali mengisi bangku kosong di hadapan saya dan kembali mengisi hati saya dengan butiran kebahagiaan? Saya harap, ya.

Tuesday, March 27, 2012

Secarik Pesan Rindu

Lagi-lagi saya mendesah dengan secangkir kafein di hadapan saya. Asapnya tidak lagi mengepul seperti awalnya karena terlalu lama saya abaikan. Pikiran saya terlalu liar melalang buana sampai kadang enggan pulang. Terlalu menikmati perjalanan fantasi mengejar bayangan kamu. Dan pada kenyataannya saya terlalu lelah untuk berlari mengejar kamu. Kamu tahu sendiri, saya tidak suka pelajaran berlari. Haha. Bercanda.
Sudah setahun ini kamu jadi jauh sekali. Menampar saya dengan ketidak jelasan. Menghempaskan saya dalam kebingungan. Kamu hanya pergi, berlari, jauh tak terkejar. “Jangan hubungi saya lagi!”. Hanya itu kalimat terakhirmu. Saya mencoba berlari, bertahan dan mengejar kamu setahun ini. Tapi asa itu akhirnya menguap. Saya terlalu lelah.
Tapi saat kelelahan itu menghampiri, kamu datang. Menyelinap dalam mimpi saya dan membawa asa kembali pulang. Ah. Kamu selalu tahu cara membuat saya kembali. Tapi selalu tidak lama. Sampai saya kembali pada hari ini. Hari dimana secangkir kafein dingin menjadi saksi air mata saya jatuh ke pipi. Hari dimana hujan datang, seperti pertama kita bertemu, yang sekaligus menjadi hari saya memutuskan untuk berhenti mengejar kamu.
Pahit. Seperti kafein di cangkir saya.
Kamu, si mata kenari. Jangan pernah lagi menyusup dalam mimpi saya seolah semua baik adanya. Jangan pernah membiarkan saya meraih asa dan berlari jauh. Biarkan saya di sini, melepas kamu, melepas lelah dan melihat kamu bahagia.  

Thursday, March 8, 2012

Metamorfosis

"Telur, telur, ulat, ulat. Kepompong, kupu-kupu, kasian deh lo."
Ah. Lagu kanak-kanak yang lugu. Rindu rasanya dengan mas` menyenangkan tanpa masalah berarti. Tapi, bukan itu yang mau saya bagi, tapi metamorfosis. Bukan pada ulat. Tapi kita. Manusia. Banyak hal yang berubah, bertahap, membentuk pribadi baru. Nah. Ini sebuah kisah seorang gadis yang (mungkin) memikirkan omongan saya. Untuk lebih terbuka dan tidak jadi pendiam. Dengan tidak blak-blakan tentunya. Entah berdosa atau tidak saya. Dia berubah. Drastis, tanpa tahap, tidak butuh waktu lama. Tetapi berhasil berubah. Menjadi jauh lebih mengerikan dari apa yang saya bayangkan. Bukan, hentikan imajinasi liarmu. Dia terlihat berubah dalam waktu singkat dan malah terlihat aneh. Bukan jadi dirinya, terkesan seperti orang lain. Dan. Ehm. Sedikit kecentilan untuk sebagian orang. Mungkinkah dia salah mengartikan perkataan saya? Ah. Tuhan. Ampuni saya.

Monday, March 5, 2012

tentang 4 maret dan hari sebelumnya : pesan yang tak pernah sampai

sedikit mengutip posting sebelumnya.
15 Februari 2012, 5;29 pm

Sudah dua kali kamu mampir dalam mimpi-mimpi saya. Membuai saya seolah tidak ada apa-apa. Bisakah kamu berhenti hadir dalam mimpi saya dan menyapa saya dalam kehidupan nyata saja?
Asal kamu tahu, saya terkadang lelah mengharapkan kamu kembali. Tetapi kamu malah jadi sering mampir dan mengajak rindu bermain di hati dan pikiran saja. Jangan melenakan saya akan hal yang tidak pasti.
Saya rindu kamu, saya ingin kamu. Dalam kenyataan, bukan ketidakpastian seperti ini.
29 Februari 2012, 8:32 pm
Saya rindu. Empat hari lagi kamu berulang tahun. Empat hari lagi setahun sudah saya menunggu kamu. Empat hari lagi entah apa yang akan terjadi. Saya tetap rindu kamu. Mudah-mudahan seterusnya terus begini. Atau musnah samasekali. Saya tidak ingin terus-terusan menengok masa lalu, seperti kamu. Tapi bagaimanapun juga saya bersyukur untuk satu setengah tahun belakangan. Terimakasih banyak, ya.
Hari yang sama, 8:41 pm
Andai kamu tahu saya khawatir saat diam-diam saya melihat timeline kamu. Dislokasi? Ah. Andai saja saya masih bersama kamu. Tentu saya akan menjadi orang pertama yang kamu beritahu kan? seperti saat asma kamu kambuh, atau saat kamu wawancara di radio untuk pertama kali.
Saya khawatir melihat tulisan kamu. "Dislokasi :(" Begitu, kan tulisanmu? Haha, saya memang masih peduli. Sulit sekali mengenyahkan kamu dari pikiran. Yang ada tambah sakit kepala saya. Ya, seperti setahun belakangan ini, saya tidak lagi bisa menyentuh kamu, atau mendengar ocehanmu. Maafkan saya, ya. semoga kamu cepat sembuh.
Hari yang sama, 9:13 pm ; rencana.
happy new age and sweet 17, Gi. Smg bandmu tambah sukses dan cepet punya cewek biar ga dikatain homo. wishlistnya sebutin aja, ntar diaminin. Mau kado apa nih? Enjoy your day ya.


Save in draft? Yes.


1 Maret 2012, 9:10 pm
Sedang apa kamu sekarang? Ingin sekali saya bertanya padamu. Tapi untungnya logika saya selalu mengingatkan untuk tidak melakukannya. Karena saya hanya akan terus berpura-pura yakin kamu sedang sibuk dan terlalu lelah untuk sekedar menjawab dan menyapa. Karena hanya akan membuat semua terasa selalu menyakitkan. Ah, kapan kita bisa bersama lagi?
2 Maret 2012; 05:07 am
Haha lagi-lagi kamu datang ke mimpi saya. Tapi kali ini saya senang. Karena kamu tampak bahagia dan nyata. Apakah ini sebuah pertanda baik? atau hanya pikiran  tentang kamu yang mengendap lalu menguap detik itu juga?
Hari yang sama, setelah sebuah gelas pecah, 5:46 am
Apakah kita seperti gelas pecah yang tak mungkin bersama lagi?
Hari yang sama, 6:44 pm
Haruskah saya membuang kamu jauh-jauh dari pikiran dan hidup saya? Dan kalau memang iya, alasannya jelas. Kamu bukan lelaki baik, katanya. Tapi, kenapa keharusan itu terasa sangat berat?
3 Maret 2012, 06: 22 pm
Kurang lima jam dua puluh dua menit lagi kamu ulang tahun. sekarang pukul delapan belas lebih dua puluh delapan menit. Saya gugup. Ah, bukan. Takut. Saya belum mau berhenti mengharapkan kamu kembali. Tapi saya harus. Life must go on although without ya, right?
Hari yang sama, 8: 04 pm
Kafein. Ya, lagi-lagi kafein. Pelarian saya ketika banyak pikiran, stres, atau. akmu yang terlalu lama bercokol di otak saya, lebih dari biasanya. Mama saya selalu bilang, jangan sering-sering, tidak baik untuk kesehatan. Tapi toh saya tetap begini. Menegak kafein kala suntuk seperti sekarang. Saya bukan pecinta kafein seperti kebanyakan. Saya hanya butuh teman untuk merilekskan dan menjernihkan pikiran saya. Membuka pikiran dan mata saya lebar-lebar dan menjaga otak saya untuk selalu ingat. Kita berbeda. Terlalu jauh berbeda. Tidak mungkin  bersama. Kecuali Tuhan yang membuat kita bersama lagi. seperti dulu. dulu. Kata yang kadang saya benci. Dulu berarti waktu yang terlewat dan takkan bisa terulang. Dulu berarti sudah. Seperti kita. Seperti kebersamaan kita. Kata yang kadang menyakitkan untuk diingat, tetapi tidak rela dibuang begitu saja. Ah. Pahit, seperti kafein di cangkir saya.
Hari yang sama, 9:31 pm
Ah, kenapa jadi seperti akan berpisah jauh? Padahal kita masih bernaung di bawah langit yang sama. saat ini waktu terasa menyiksa. seperti memburu saya untuk lekas melepas kamu. Ah. Kenapa jadi sedih? Malah berkelbat potongan kenangan kitta-itupun kalau bisa dibilang kenangan. Sepertinya semua orang menyangka kamu tidak baik, berkebalikan dengan apa yang saya rasakan. Mereka hanya menduga dan asal mengecap. Tanpa tahu apa-apa. Ph, tidak. Belum tahu. Tapi orang bilang kita tidak bisa menilai orang saat kita merasa nyaman dengan mereka. Mungkin. Tapi bukankah pada dasarnya semua manusia itu baik? Kamu juga. Haha, kali ini saya berusaha tidak menangis. Tidak ada yang perlu ditangisi, kan? 
Saya dan hidup saya. Kamu dengan hidup kamu. Stelah ini (mungkin) tidak akan ada lagi 'kita'. Dan semoga gelisah dan rindu ikut hilang bersama kamu.
4 Maret 2012, 00:00
Happy birthday, nugie.

Akhrirnya hanya ini yang terkirim

Semoga Tuhan selalu melindungi kamu, Gi

Thursday, February 23, 2012

ffs-festival film smansa

hai.
hari ini saya ingin share tentang acara tahunan sekolah saya. festifal film smansa.
pada ajang ini, setiap kelas wajib membuat sebuah film pendek dengan durasi 15 menit.
daaaan. oh. men. saya rasa saya seduikit pesimis. kelas saya begitu pasif. belum lagi kelas seberang yang memiliki seorang editor video yang dewanya bukan main.
yah.
hopefully.

Sunday, February 19, 2012

terimakasih

terimakasih buat @nadoremii yang kadang nampar saya dengan omongannya. sakit. tapi bermanfaat.
saya memang tidak bisa sempurna. tapi doakan saja saya bisa lebih baik dari ini.

terimakasih sahabat kecil saya, @nadoremii

coretan kecil buat kamu, gi.

Hai, gi. gimana kabar? Basi ya nanya kabar terus-terusan. orang jelas kamu pasti baik-baik aja dan enjoy sama hidup kamu. Nggak. Aku bukan mau minta maaf. Aku tau kamu bosen dengerinnya.
Aku tau kamu marah males banget sama aku. Aku juga nggak berharap kamu baca ini.
Aku cuma pengen bilang makasih. Buat semuanya lah yang nggak bisa aku sebutin.
Waktumu, candaan kita, cerita-cerita.
Gi.
Aku capek nunggu dimaafin, capek nunggu kamu sadar kalau kamu itu childish banget bersikap gini.
Tapi setiap aku pengen move on, semua info tentang kamu dateng, nyeret rindu buat masuk lagi ke hati dan pikiranku.
Gi.
Aku kangen, nggak pengen kamu pergi. Pengen dimaafin terus kita balik kayak dulu.
Dulu?
Haha. asing ya.
Kalau aku inget kamu lagi, aku bakal buat catetan-catetan kayak gini, Gi.
Biar nguap. Biar lega.
Sukses sama bandmu ya, aku masih doain kamu.

sarah aghnia husna

Thursday, February 16, 2012

secarik pesan rindu

Sudah dua kali kamu mampir dalam mimpi-mimpi saya. Membuai saya seolah tidak ada apa-apa. Bisakah kamu berhenti hadir dalam mimpi saya dan menyapa saya dalam kehidupan nyata saja?
Asal kamu tahu, saya terkadang lelah mengharapkan kamu kembali. Tetapi kamu malah jadi sering mampir dan mengajak rindu bermain di hati dan pikiran saja. Jangan melenakan saya akan hal yang tidak pasti.
Saya rindu kamu, saya ingin kamu. Dalam kenyataan, bukan ketidakpastian seperti ini.

uncolour sky, uncolour life

uncolour sky, uncolour life.
Entah ada angin apa, saya ingin membahas ini. Ya, tentang uncolour sky, uncolour life - langit yang tak berwarna, hidup pun sama. Tak berwarna.
Kalau orang bilang saya ngaco, langit tidak mungkin tidak berwarna. Biarlah. Itu kata mereka. Buat saya langit tidak pernah berwarna. Ia tampak berwarna karena ada sinar matahari.
Kadang azure, kadang abu-abu, kadang kuning lime, kadang merah keunguan. Jadi buat saya, langit tidak berwarna, hanya saja ia membiaskan cahaya yang ada.  Oke, bukan itu pokok bahasannya.
Seperti langit, hidup juga tidak berwarna. Apa warna hidup? Merah? Jingga? Putih? Hitam? Atau malah abu-abu?
Sekali lagi buat saya hidup tidak pernah berwarna. Ia hanya "membiaskan" warna dari apa yang kita rasakan saja.
Kadang hidup terasa indah dan cerah saat hal menyenangkan menghampiri kita, kelabu saat sedih menggantung, atau tetap tidak berwarna saat hidup kita stuck dan jenuh.
Saya dan hidup saya juga begitu.
Salah satu yang ingin saya ceritakan adalah musibah yang menimpa saya baru-baru ini. Ada warna baru yang mampir dan menorehkan goresan dalam hidup saya.
Bohong kalau saya tidak menangis, Tuhan tahu saya menangis sore itu. Bohong kalau saya nyaman dengan tempat tinggal baru saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur. Bohong besar kalau saya tidak miris dengan kehidupan saya.
Saya tidak suka berbohong. Fake. Tapi saya tidak ingin orang melihat kelemahan saya. Saya tidak selemah itu, setidaknya untuk sekedar berdiri sendiri.
Sejak hari itu hidup saya berubah. Hidup keluarga saya. Hampir seratus delapan puluh derajat. Kami harus memulai semua dari awal lagi. Kata mama saya, kami harus memulai hidup baru.
Rumah saat ini memang lebih besar, tingkat pula. Tapi bohong sekali lagi kalau saya nyaman. Saya jengah. Ini bukan rumah saya. Memang sudah dibeli orang tua saya, tapi buat saya ini bukan bagian dari kehidupan saya. Tidak ada kenangan di sini. Belum. Mungkin akan, atau tidak sama sekali.
Saya mungkin terguncang. Tuhan menegur saya dan keluarga dengan musibah itu, membuat saya untuk pertamakalinya berharap hujan cepat usai. Sebelumnya Tuhan juga menegur saya. Dengan membiarkan orang terdekat saya pergi. Menampar keluarga saya dengan keadaan saudara saya.
Hari-hari saya kelabu. Hidup saya membiaskan warna perasaan saya. Tidak hitam atau putih. Abu-abu mungkin. Saya sendiri tidak yakin.
Ayah saya bilang, semua pasti ada hikmahnya. Saya juga yakin begitu.
Tapi.
Hidup bukanlah langit. Hanya mirip, tapi tak serupa.
Langit tidak akan pernah bisa menentukan warna apa yang akan ditorehkan padanya. Tapi hidup bisa. Hidup menggantungkan warnanya pada saya, pada kamu, pada kita.
Warna yang dibiaskan hidup tergantung kita. Tergantung bagaimana cara kita membuat warna dalam hidpu ini tampak berwarna, tampak indah dan menyenangkan.
Karena langit bukan hidup dan hidup bukan langit. Hidup ada untuk dijalani, bukan hanya dipandangi. Hidup untuk dimengerti. Hidup untuk dinikmati.
uncolour sky, uncolour life. unpredictable sky, unpredictable life.
Mereka sama, tapi tak serupa.

Saturday, February 11, 2012

hari ke dua puluh sembilan : tukang pos cinta

Hai, kau. Iyaa, kau. Yang sedang membaca deretan kata yang mungkin tak akan berarti untukmu.
Si tukang pos yang selalu sabar (atau mungkin ogah-ogahan) membaca seiap surat yang dimention ke akun twitter. Si tukang pos yang kadang muncul di timelineku dengan tweet-tweet galau. Atau sajak yang mungkin kadang tak kumengerti artinya.

Adimas Immanuel.

Awalnya namamu terasa asing di teligaku. Namun lambat laun, aku jadi terbiasa.
Haha, aku bingung sendiri membuat surat cinta untuk tukang posku sendiri.
Tapi semalam, ide ini muncul begitu saja, menguap seiring dengan kata-kata yang sedang kau baca ini.
Taukah kau? Rasanya tak rela setelah ini tanggal 14 akan datang. Saat kegiatan ini harus diakhiri. Saat tidak ada alasan lagi untuk mention. Saat rasanya malas sekali menulis tanpa alamat.

Aku tidak mengenalmu. Apalagi sok kenal.
Aku hanya mengagumi deretan kata yang kau buat. Mengagumi kesabaranmu membaca puluhan atau bahkan ratusan surat yang masuk setiap harinya. Pasti repot. Mungkin lelah. Atau bosan setiap hari membaca hal itu-itu saja.
Kau hebat. Haha. Dan sabar sekali lagi.

Untukmu, si lelaki tukang pos.
Ini adalah luapan kagumku. Yang (semoga) tersampaikan lewat kalimat dalam surat ini.
Nah, bekerjalah lagi. Masih banyak hal-hal yang menantimu di luar sana. Bersemangatlah!

untuk Adimas Immanuel, si lelaki tukang pos.
 

Friday, February 10, 2012

hari ke dua puluh delapan : pesan sayang untuk lelaki terbaik

Halo. Ehm. Agak sulit menulis surat cinta seperti ini untukmu. Entah apa yang harus kutuliskan padamu. Entah mengapa aku begitu ingin menuliskan ini untukmu. Terlepas dari rasa kagumku yang luar biasa meluap padamu. Speechless, begitu orang bilang.
Yang jelas, tanpa pernah kau sadari aku mengamatimu. Dan mengagumimu, tentu saja.
Aku selalu tahu waktu-waktu yang kau lalui sepanjang hari. Kau lelaki yang rajin, kau tak pernah melewatkan waktu ibadahmu. Setiap pagi, kau cukur kumis halus yang mulai tumbuh agar terlihat rapi. Rambut ikalmu terkadang sedikit mencuat karena terburu-burunya dirimu. Kadang, perutmu tak sempat terisi di pagi hari karena berharganya waktumu. Hanya beberapa teguk kopi pekat yang selalu mengisi pagimu. Tapi karenanya, kadang kau mengeluh tidak sehat karena ternyata beberapa teguk kopi bukan solusi yang baik untuk pagimu.
Kau adalah lelaki terbaik dalam hidupku. Walau terkadang kau meninggalkanku karena panggilan-panggilan mendadak dari temanmu. Tak apa. Aku tetap sayang padamu. Meskipun kadang kau lupa ulang tahunku. Tak apa, aku senang kau tetap mengucapkannya walau sedikit terlambat. Ya, aku tahu. Mungkin kau tidak lupa. Hanya canggung untuk memulai pembicaraan karena kesibukanmu yang membatasi pertemuan kita. Aku tahu persis kau bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Tapi rasa sayangku tak pernah berkurang sedikitpun.
Sedang apa kau sekarang?
Apa sedang mengangkat sebuah telepon maha penting?
Atau dalam perjalanan pulang?
Mungkinkah kau pulang larut lagi?
Sulit kukatakan, tetepi lewat coretan kecil ini aku ingin kau mengerti. Betapa aku menyayangimu. Betapa aku merindukanmu. Aku rindu kecupan manis di puncak kepalaku seperti saat kau akan pergi jauh. Rindu celetukan-celetukanmu di sela percakapan kita. Rindu tawa renyahmu. rindu saat kau di rumah, melewati waktu bersama, untuk sekedar duduk santai.
Aku sayang sekali padamu..
Untuk ayahku tercinta yang sedang bekerja, terimakasih untuk semua yang telah kau beri padaku.
Aku sayang padamu.
Peluk dan cium dari jauh, sampai ketemu di rumah.

Wednesday, February 8, 2012

hari ke dua puluh enam : sepotong rindu

Ini hari ke tiga ratus empat puluh.
Dan aku masih menunggumu di sini.
Ini sudah hampir setahun.
Dan aku masih menggantungkan asaku padamu.

Hai, sahabatku. Oke, maaf, aku ralat. Hai, kau yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku.
Tadinya aku ingin menuliskan "apa kabar?", tapi itu terlalu klasik dan terkesan  basa-basi. Ya, bukan sifatmu. Bukan aku juga, yang selalu bicara to the point.
Iya, aku tahu kau ingin sekali meremat surat ini dan melemparnya jauh ke tong sampah, atau kalau bisa kau bakar saja sekalian. Jangan.  Sekali ini saja, jangan, dan aku tidak akan meminta apapun lagi darimu.
Oke, aku berbohong. Aku tidak mungkin tidak meminta apapun jika surat ini sudah sampai di tanganmu. Tapi sebegitu sulitkah untukmu memberinya padaku sampai aku harus melalui tiga ratus empat puluh hari yang begitu menyiksa ini? Sebegitu tidak relanya kah dirimu?
Aku hanya meminta satu hal. Dua mungkin. Atau tiga. Maafkan aku. Kembalilah di sampingku. Habiskan waktumu bersamaku seperti dulu.
Dulu. Ah, kadang aku benci sekali mengatakan dulu. Atau masa lalu dan hal sejenis tentang waktu yang telah berlalu.
Karena tiga ratus empat puluh hari yang lalu itu, juga karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diulang. Hanya dikenang, dan dijadikan pelajaran.
Kau,lelaki yang dekat denganku selama satu setengah tahun, tanpa status--samar, dan meninggalkanku tiga ratus empat puluh hari yang lalu dengan berbagai tanya.
Kau, lelaki kurus dengan kulit pucat, mata cokelat, rambut hitam kecoklatan, yang tak pernah kutemui, hanya kutemui lewat foto. Hanya kutemui lewat kata-kata dalam pesan singkatmu di handphoneku.
Kau, lelaki teroptimis yang pernah kukenal, lelaki yang kukagumi karena kelihaianmu bermain berbagai alat musik, lelaki yang banyak berbagi satu setengah tahun belakangan.
Lelaki yang juga tidak sengaja dan tidak sadar aku sayangi.
Haha, aku agak menyesal tidak mendengarkan kata orang.
"Witing trisno jalaran soko kulino"--cinta itu tumbuh dari kebiasaan.
Saat itu aku hanya tertawa, hanya menanggapinya sambil lalu. Dan sekarang, aku memakan tawa itu. Mereka benar.
Ah, waktu cepat sekali berlalu ya. Dan sekarangpun aku masih saja rindu padamu. Padahal tidak pernah bertemu.
Asalkan kau tahu. Banyak hal yang aku sesali.
Mengapa kita terlalu asyik terbuai dengan obrolan di pesan singkat?
Mengapa kita sama-sama tidak berani bertatap muka?
Mengapa aku begitu bodoh menorehkan setitik kecewa padamu?
Mengapa kau tidak kunjung memaafkanku?
Mengapa kau tidak mau menjelaskan semuanya?
Mengapa kau malah berbalik membenciku?
Mengapa?
Mengapa?
Banyak mengapa berkelbat di otakku, kau tahu?
Dan satu pertanyaan yang telah lama kupendam.
Apa status kita selama ini? Teman kah? Sahabat kah? Apa arti satu setengah tahun kebersamaan kita?

Namun kau membisu, enggan menjawab.
Kau membiarkanku bertanya tanpa pernah terjawab.
Tapi, kuhargai keputusanmu. Mungkin ini yang terbaik. Mungkin.
Ah, air mataku mulai jatuh lagi. Ya, aku masih cengeng. Haha.
Asalkan kau tahu, aku memang menyesal, kesal, kadang marah karena kau pergi begitu jauh dan tak terjangkau hanya karena kesalahan sepele.
Tapi aku juga bersyukur.
Aku bersyukur kau sempat mampir d hidupku, bersyukur kau mengajariku sabar dalam mencinta tanpa pernah kau sadari, bersyukur untuk semua waktu yang tidak dapat di ulang.
Aku bersyukur untukmu.
Aku juga berdoa. Untukmu lagi-lagi.

Untuk kau. Kau yang mengetuk pintu hatiku nyaring tanpa aku dan kau sadari sama sekali kala itu. Untuk kau, lelaki yang selalu aku kagumi.
Ini hanyalah sebuah surat cinta biasa. Sebuah surat dengan kata-kata biasa.
Namun surat cinta ini luar biasa untukku. Ini adalah surat yang mengirim sepotong rinduku padamu. Sepotong rindu untuk waktu yang lama. Sepotong rindu untuk sepotong kenangan.
Untuk kau yang masih memandang langit yang kupandang, merasakan rintik hujan yang kurasa, menikmati hangatnya mentari yang menyinariku.
Maukah kau kembali suatu saat?
Jangan biarkan aku menggantung asa tanpa sedikitpun harapan.

Tuesday, February 7, 2012

hari ke dua puluh lima : Tebusan Untuk Sepenggal Rindumu

Hai. Mungkin bukan dua hari lagi kita tidak bertemu. Dan entah sudah berapa kali aku melanggar janj-janjiku padamu. Ini hanyalah sebuah balasan dari coretan surat cintamu di waktu lampau yang menggambarkan kekecewaan yang kutorehkan padamu. Maaf. Ya, mungkin kata maaf terlalu basi untukmu. Terlalu sering kuucapkan dan tetap saja aku membuatmu kecewa.
Tapi, asal kau tahu, melanggar janji padamu mungkin akan menjadi hal yang menyenangkan. Haha. Jangan marah dulu. Karena kau berjanji akan mengirimiku surat cinta yang sama setiap harinya jika aku melanggar janjiku lagi. Membaca tulisanmu itu, membuat bibirku mencuat. Menahan senyum dan tawa. Senyum dan tawa dari espresi betapa rindunya aku padamu. Betapa aku merindukan tingkahmu yang kadang konyol itu.
Ini mungkin hanyalah coretan balasan biasa.
Sebagai ungkapan terimakasihku padamu, telah menungguku dengan sabar. Terimakasih sudah mencintaiku dengan sabar dan menyayangiku tanpa lelah.
Maaf untuk semua kekecewaaan yang kutorehkan padamu.
Aku berjanji akan menepati janjiku kali ini.
Shall we meet this aftenoon?
Di tempat biasa dengan cappucino pekat favorit kita berdua.

P.S : Don't be late ! :*

Surat balasan untuk surat cinta @amelianggadhini, "Ini, Mungkin Surat Ancaman"

Monday, February 6, 2012

my day, my new age!

happy birthday for me!
this is my day!
thanks buat semua temen yang udah ngebuat hari ini the best day ever! thanks juga 30harimenulissuratcinta.blogspot.com sama @adimasimmanuel yang ngepost suratku di hari ultahku. kado terindah :')
sekali lagi makasiih semuanyaaaaa :)
love ya all!

sarah aghnia husna | @saraahaghniaa

hari ke dua puluh empat : sepasang mata

Aku terpaku mengamati wajahmu. Bukanlah hal yang luar biasa untukku. Aku biasa mengamati wajah-wajah di sekitarku. Tetapi menjadi hal yang tidak biasa saat yang kau amati adalah kau. Ya, kau. Tidak ada yang istimewa darimu. Kulit sawo matang, rambut hitam legam yang lebih sering acak-acakan dari pada rapi, mata sayu dengan kornea cokelat tua seperti orang sakau dan tubuhmu yang jauh dari atletis. Bukan, aku tidak sedang mengolok-olokmu. Atau posturmu. Maaf kalau aku terlalu blak-blakan. Tapi begitulah aku adanya.
Sebenarnya yang sedari tadi aku aku herankan sekaligus aku amati adalah matamu yang gelap dan dalam, seakan menggambarkan kekelaman dan kegalauan di  hidupmu yang luar biasa. Entah apa itu, dan entah kenapa aku begitu peduli. Padahal kita baru saja mengenal, masih bisa dihitung dengan jari-jari di kedua belah tanganku baru berapa jam yang lalu kita baru saja berpisah. Baru saja kita kebetulan bertemu dan berkenalan secara tidak langsung. Kau temannya si anu temanku dan aku pun temannya si anu temanmu itu. Apalah itu.
Ada getar aneh di hatiku sampai-sampai aku begitu terpaku melihatmu. Ah, aku sendiri tidak tahu. Mengapa rasanya aku ingin sekali menyelam ke dalam pedihnya matamu itu dan berbuat sesuatu untukmu. Berbuat sesuatu untuk meredakan gejolak hatimu, menemanimu berbagi kekelaman yang kau rasakan. Perasaan apakah ini? Apakah hanya sekedar rasa simpatik? Ataukah cinta? Entahlah, aku bukan ahli dalam masalah seperti itu.
Namun, perlu kuakui. Kau adalah lelaki aneh pertama yang mengaduk-aduk hatiku. Kau membuaiku dalam tatapanmu yang dingin dan dalam itu. Aneh memang, kau tak banyak bicara namun rasanya matamu mampu menjelaskan semuanya. Semuanya. Perasaanmu, kehidupanmu, kepedihanmu. Mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin ini hanya perasaan sepihak saja. Mungkin juga hanya gejolak sesaat. Entahlah, aku tidak tahu. Berusaha tidak mau tahu, tapi  tatapanmu itu seakan mengekor ke dalam mimpiku, berkelbat sesekali dalam pikiranku dan membuatku sulit untuk tidur malam tadi.
Ah, senyummu juga. Senyum termanis yang pernah kulihat. Dari sosok acak-acakan sepertimu, dari orang yang tampak tidak peduli dengan sekeliling--berkebalikan denganku. Senyum dan tawa palsu yang kau tunjukkan pada teman-temanmu untuk menutupi segala asamu yang terpendam.
Kau, lelaki dengan sepasang mata coklat yang tua, yang mampu memikat hatiku dalam gelapnya malam.  Mencurinya tanpa jejak untuk kuambil kembali. Lelaki dengan senyum dan tawa palsu termanis yang pernah kulihat.
Bolehkah aku menggantungkan asaku padamu, hei, kau pemilik sepasang mata kelam?

untuk sepasang mata yang mengaduk malamku.



Sunday, February 5, 2012

hari ke dua puluh tiga : ini (mungkin) bukan surat cinta

Untuk kamu, seseorang yang tak asing lagi di hidupku.
Hei, aku tahu kau pasti heran. Baru tadi pagi kita bertemu dan sorenya kau melihat surat ini. Kau pasti berpikir, rasanya kuno sekali aku harus menulis surat seperti ini untukmu. Padahal, setiap hari kita bertemu, kita mengobrol, kita juga bisa saling sms atau ngobrol lewat jejaring sosial. Tapi untukku, ini cara terbaik. Dengan surat ini aku ingin kau tahu, aku tidak main-main. aku tidak sedang bercanda.
Hei kau yang tumbuh dewasa bersamaku, sahabatku sejak kecil dan masih menjadi sahabatku sampai detik ini. Dan aku berharap setelah ini pun hubungan kita tidak akan banyak berubah.
Kita selalu duduk di bangku sekolah yang sama. Keakraban kita selalu terjalin karena orang tua kita bersahabat baik. Hubungan itupun menurun kepada kita. Kitapun bersahabat dekat. Kita berjanji untuk saling berbagi rahasia dan berbagi mimpi-mimpi kita. Kita masih dan selalu begitu. Tidak ada rahasia di antara kita berdua.
Tapi, maafkan aku, sahabatku. Aku berbohong. Aku tidak menepati janjiku. Aku menyimpan sebuah rahasia darimu rapat-rapat. Aku takut jika kau tahu rahasia ini, kau akan benci padaku dan kita tidak akan bisa selamanya seperti ini. Ya, aku memang picik kalau kau berpikir begitu.
Diam-diam, aku mulai jatuh cinta padamu. Lelaki yang dulu tingginya hanya setelingaku dan sekarang aku hanya sepundaknya. Lelaki yang tambut ikalnya menari bersama angin kala ia berlari. Lelaki yang senyumnya selalu menularkan kebahagiaan. Lelaki yang tak pernah menunjukkan kesedihannya di depan banyak orang. Sekaligus lelaki yang banyak menyakitiku tanpa ia sadari.
Sadarkah kau, kau membuatku begitu istimewa. Kau hanya menceritakan cita-cita terpendammu padaku, kau hanya menceritakan perasaanmu kepadaku, hanya menceritakan kegalauanmu kepadaku. Dan kau juga hanya menceritakan gadis yang kau sukai padaku.
Ah, mungkin suatu hari aku bisa menjadi seorang artis. Bukankah aku sangat pandai bersandiwara di hadapanmu? Aku memasang banyak topeng di hadapanmu. Apalagi saat berusaha tertarik dengan obrolanmu tentang gadis yang kau sukai. Berusaha menahan tangis saat gadis itu membalas pertanyaanmu. Berusaha terlihat bahagia saat waktumu untukku berkurang karena kau mulai berkencan. Berusaha tidak telihat bahagia sekaligus berusaha ikut bersedih saat kau putus.
Tidak, aku tidak pernah menyalahkanmu. Mungkin kau hanya terlalu polos untuk berpikir bahwa sahabat kecilmu ini bisa memiliki perasaan lain kepadamu. Mungkin aku juga terlalu naif berpikir kau akan bersamaku selamanya. Mungkin ketakutanku sajalah yang menahan hatiku untuk jujur padamu. Aku takut. Aku takut kau meninggalkanku setelah ini.
Taukah kau? Aku tidak bisa tidur kemarin malam. Aku sudah tidah tahan untuk menahan semuanya sendiri. Semua yang kupendam seakan siap meledak jika terus-terusan kututupi darimu. Jadi inilah, aku sudah tidak sanggup menahan semuanya sendiri.
Ini bukan surat cinta. Mungkin bukan. Ini mungkin bukan surat cinta. Hanya sebuah ungkapan dari seorang sahabat yang telah lama memendam perasaan terhadap sahabatnya sendiri. Hanya sebuah pelepas rindu-rindu yang menyelinap saat kau jauh dariku. Hanya sekedar "pelampiasan" perasaan yang tidak pernah terbalas.
Sahabat kecilku, aku berharap kau tidak akan pernah merubah perilakmu terhadapku setelah ini. Aku berharap kau tetap akan mencubit sayang kedua belah pipiku yang tembam saat kau gemas, menyentil hidungku saat kau kehabisan kata untuk melibat omonganku, memelukku erat saat aku sedih, memainkan tanganku saat kau merasa gugup, dan menjemputku di rumah hanya untuk sekedar melewatkan waktu bersama.
Untukmu, lelaki yang memancarkan kehangatan di setiap perilakumu. Aku sayang padamu.

Sahabatmu, pemeran drama kehidupan terbaik di hadapanmu.
PS: Telepon aku setelah kau selesai baca, ya.

Saturday, February 4, 2012

hari ke dua puluh dua : untuk lelaki seberang jendela

Selamat pagi dunia, selamat pagi juga untukmu.
Hari ini pun kau pasti memulai harimu dengan senyuman dan dendang riang dari mulutmu. Mungkin saat ini kau sedang sarapan santai dengan ibu dan kakak perempuanmu. Mungkinkah kau sedang menyapa ayahmu di balik kabel telepon? Atau malah masih meringkuk di balik selimut tebal karena kelelahan menonton bola semalam? Apakah ada kemungkinan kau sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah dengan mobilmu itu? Aku meragukan yang terakhir. Haha.
Jangan kaget saat kau melihat surat ini, apalagi tertawa renyah seperti yang biasa kau lakukan saat melihat kekonyolanku. Ini bukan lelucon, kau tahu? Aku serius. Dua rius malah.
Hei, lelaki seberang jendela. Apa kabarmu sekarang? Kudengar bandmu sudah manggung di beberapa kota. Wah, pasti banyak sekali perempuan di sekelilingmu. Apa di antara mereka ada yang mengenalmu seperti aku?
Ah, andai kau tahu. Aku selalu ingat saat-saat kita tumbuh bersama. Pertemuan pertama yang manis, gelak tawa saat kita bermain dulu, sampai sekarang aku tak pernah lupa.
Mungkin kau menganggap semuanya sambil lalu. Sepele. Tapi buatku, semua begitu berharga.
Ingat pertama kali kita bertemu di ayunan sore itu? Kita baru berumur tujuh tahun. Saat itu, orang tuaku sedang bertengkar hebat di rumah. Lalu kau datang, duduk di sebelahku dan memberiku sebuah permen. Saat itu kau bilang kau sering melihatku sendiri di ayunan saat senja datang, lalu pulang menjelang petang. Kau bilang sebuah permen bisa membuatku lebih baik. Benar saja, manisnya permen itu, sedikit melunturkan pahitnya hariku.
Kau tidak akan mengira, sampai saat ini, saat hariku buruk, aku selalu mengulum permen untuk sedikit memperbaiki moodku.
Sejak hari itu, setiap hari seusai kau bermain bola bersama teman-temanmu, kau selalu menemaniku. Kau selalu mendorong ayunanku dan berbagi cerita. Setelah lelah, kau duduk di sampingku dan dengan sabar mendengarkan keluh kesahku.
Kau juga mengenalkan teman-temanmu padaku, mengajakku main ke rumahmu, dan mengenalkanku pada keluargamu yang hangat.
Kau juga lelaki pertama yang menceritakan cita-citamu padaku. Menjadi seorang musisi dan konduktor, aku ingat.
Oh, iya. Aku ingat saat ulang tahunmu yang ke 15, ayahmu membelikanmu sebuah iPod. Kau berlari kecil ke rumahku, memanggil-manggil namaku dari luar. Lalu, kau menggandengku ke ayunan kita dan memasangkan sebelah headsetnya untukku.
Semakin lama, rasanya kau semakin jauh.
Kau selalu pulang malam, latihan band kata ibumu. Kadang, saat aku hendak mampir, kau sudah bersiap pergi entah ke mana. Menjemput kekasih barumu kah?
Saat kebetulan bertemu, kau dan aku jadi canggung. Namun satu yang aku syukuri, kebiasaanmu mengacak rambutku tidak berubah. Sambil nyengir kau kelalu berkata agar aku tetap semangat.
Tahukah kau? Aku rindu sekali denganmu. Aku rindu saat kau menggandeng tangan kecilku pulang ke rumah, atau saat kau mengajakku balapan sepeda setiap sore.
Tanpa aku sadari, aku sayang sekali padamu.
Hei lelaki kecil yang sudah beranjak dewasa, maukah kau datang sore ini ke ayunan kita?
Aku menunggumu.

Untuk lelaki baik hati di seberang jendela rumahku, dari gadis di  ayunan sore itu.

hari ke dua puluh satu yang terlewwat

permintaan maaf saya ajukan pada semuanya karna ketidak hadiran tulisan saya di hari ke dua puluh satu. semoga hari berikutnya  tidak akan terlewat lagi. terimakasih.
sarah aghnia husna | @saraahaghnia

Thursday, February 2, 2012

hari ke dua puluh : sebuah dilema

Hai, bawel. Semoga kamu masih mau kupanggil begitu setelah membaca ini.
Kau mungkin tidak akan menyobek, membakar atau meremas surat ini sampai rusak.
Haha. Ini hanyalah surat maya.
Aku sudah membayangkan ekspresi wajahmu saat membaca ini. Dahimu akan mengerut dengan alis yang hampir menyatu.
Ya, inilah aku, dengan segala yang selama ini kupendam.
Kita bertemu karena sebuah pertengkaran konyol, kamu ingat? Hanya gara-gara sebuah karet penghapus yang nyasar di kepalaku kala itu. Dan setelah itu, kita jadi bermusuhan dan saling mencibir setiap bertemu.
Ah, andai kau tahu. Aku kalang kabut mencari kata-kata diantara jutaan kata untuk menulis ini. Menulis surat cinta bukan keahlianku, kau tahu. Aku lebih pandai bersilat lidah denganmu di sekolah dibanding harus merangkai kata-kata manis seperti ini.
Karena keributan dan pertengkaran-pertengkaran kecil itu, kita jadi semakin dekat. Aku terlalu nyaman dan terbiasa di dekatmu. Kita tumbuh dewasa bersama, menggantikan pertengkaran-pertengkaran yang lalu dengan candaan konyol yang membuatku kadang miris.
Kita berjalan bersama, terus bersama. Terlalu lama, mungkin.
Saat sebuah persimpangan datang dan menghentikan langkah kita, ingin rasanya aku bertanya, jalan mana yang akan kau pilih. Kita pilih.
Tapi aku terlalu takut. Komitmen seperti menjadi kata yang terlarang diucapkan.
Kita terlalu lama asyik terbuai dengan kesenangan tanpa batas dan komitmen ini.
Andai kau tahu, aku merindukan saat-saat kau menjitak kepalaku dulu. Ada desiran aneh yang menggelitikku saat kau mengacak rambutku. Aku merasakan pipiku memanas saat wangi parfummmu merasuk ke hidungku.
Aku ingin selamanya seperti itu. Andai ada tidaknya sebuah komitmen tidak mempengaruhi langkah kita.
Di persimpangan itu, sekarang, aku bertanya padamu. Jalan mana yang akan kau pilih?
Aku lelah menyimpan semua rasaku sendiri. Aku lelah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semuanya seolah menumpuk menjadi sebuah dilema panjang yang kututup rapat-rapat darimu.
Aku berharap, kita bisa melangkah bersama lagi, dengan sebuah komitmen baru.
Aku berharap hari-hari dilemaku musnah.
Aku berharap, kau takkan semakin tidak terjangkau untukku.

your ex-enemy, your secret admirer.

Wednesday, February 1, 2012

hari ke sembilan belas : rahasia hujan

Hai, kau-yang-aku-tidak-tahu-siapa-namamu.
Kau pasti heran melihat surat yang kutulis.
Surat tanpa nama, tanpa amplop merah jambu seperti dalam novel-novel yang biasa dibaca oleh adikmu. Ingatanku tidak buruk, bukan? Bahkan semua kata yang terucap dari mulutmu masih terekam jelas dalam memori otakku. Aneh memang. Kita baru sehari bertemu dan aku langsung merasakan debaran aneh yang menyergapku di kala wajahmu lewat di benakku.
Ah, andai saja aku bisa mengenalmu lebih jauh. Tentu akan jauh lebih menyenangkan. Matamu yang seperti biji kenari itu memancarkan kehangatan, membuaiku hingga tak berdaya. Alismu yang tebal semakin menegaskan kharisma yang kau punya. Dan lesung pipit yang selalu muncul saat kau tertawa itu, semakin membuatku merasakan aliran listrik aneh yang belum pernh aku rasakan sebelumnya.
Kala itu hujan turun deras, kau ingat? Ya, aku gadis itu. Gadis dengan penampilan berantakan karena hujan, juga karena sifat cuekku sendiri. Rambut basah dan mencuat, kaos biru, celana jeans belel dan sepatu kets. Gadis yang menggerutu di sebelahmu, mengutuk setiap tetes air hujan yang terlihat jatuh dari balik kaca. Kau menyapaku hangat dan bertanya kenapa aku benci hujan. Dengan sabar kau mendengarkan ocehanku. Sempat aku menangkap sang resepsionis tertawa kecil melihat tingkahku. Ah, sudahlah, bukan saatnya aku bercerita padamu seberapa inginnya aku melempar sang resepsionis sialan itu dengan sepatu.
Saat kau melihatku mulai lelah mengoceh, tiba-tiba kau berceletuk,
"Aku suka sekali hujan. Di setiap tetesnya, Tuhan mengirimkan malaikat-malaikat kecil-Nya untuk mengabulkan doaku"
Aku terenggun. Kau membuatku melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ada sejenis medan magnet yang membuatku membantah dan melibat ucapanmu, atau mengoceh seperti kebiasaanku. Aku hanya mendengarkanmu dan  suara hujan di luar sana.
Aku ingat. Aku ingat kau bercerita banyak tentang adik perempuanmu yang sangat suka berkhayal dan membaca buku. Dan ibumu yang sabar dan sangat cantik. Juga yahmu yang keras namun sebenarnya penyayang dan penuh kejutan.
Saat aku terlalu sibuk menikmati tawa yang timbul saat sesekali kau mengeluarkan candaan, saat kau mengeluarkan wajah konyolmu, kau menghentikan cerita-ceritamu dan menyodorkan sebuah payung padaku.
"Pulanglah, sudah larut. Terima kasih sudah menemaniku"
Kau mengecup pipiku lembut--hal terlarang yang tak pernah aku ijinkan siapapun melakukannya, kecuali ayahku. Tapi aku hany diam dan menikmati setiap detiknya. Kau tersenyum hangat dan melambaikan tangan, berjalan menjauh ke arah lorong gelap itu. Lorong yang tidak pernah aku suka sejak kecil. Bahkan sampai tadi pagi pun, aku masih tidak menyukainya, hanya terpaksa datang untuk sebuah rutinitas. Aku hanya menuruti kata-katamu seakan terhipnotis. Padahal banyak hal yang ingin kuketahui tentangmu--seperti siapa namamu, bagaimana keseharianmu, atau apakah kau juga suka kopi pekat yang biasa kuminum setiap pagi dengan asap mengepul.
Tapi kau menjadi misteri. Dan akan selalu begitu. Iya, kan?
Aku tahu, surat ini tidak akan pernah kau baca. Surat ini dari awal memang tidak akan pernah sampai ke tanganmu. Karena keesokannya saat aku datang untuk menemuimu dan mengembalikan payungmu, sang resepionis sialan itu mencegatku dan menepuk pundakku, memberiku sebuah kabar yang tidak ingin aku dengar.

Aku hanya ingin kau tahu, aku selalu mendoakanmu dimanapun kau berada. Karena hanya dengan cara itu, aku bisa memelukmu dari jauh.
Kala hujan turun, aku berharap maaikat-malaikat kecil itu mendengatkan doaku dan membisikkan salamku untukmu. Untukmu.
Lelaki hujan yang mengubah cara pandangku, yang mencuri hatiku tanpa pernah dipulangkan. Lelaki yang belakangan kuketahui namanya. Lelaki yang kini telah tenang dan terbebas dari rasa sakit luar biasa karena kanker yang menggerogotinya.

Aku selalu bersyukur Tuhan sempat mempertemukan kita. Di hari terakhirmu melihat lorong-lorong rumah sakit sialan itu. Tunggu aku di sana, ya. Kelak kita pasti akan bertemu lagi. Dan aku kembali bisa mmiliki separuh hatiku yang kau curi kala itu. Sampai saatnya tiba, biarkan hujan menutup rapat rahasia pertemuan kita.

untukmu lelaki hujanku
dari gadis yang separuh hatinya tercuri saat hujan.

Tuesday, January 31, 2012

hari ke delapan belas : dalam diam

Memandangi wajahmu,
dari kejauhan.
Melamuni senyummu,
dalam angan-angan.
Memimpikan dirimu di sisi,
dalam bayang semu.
Meraih kamu,
dalam ruang tak berujung.
Yang akhirnya tak mampu
kuraih, kugapai.
Ingin kumiliki
senyummu
tatapanmu
guratan wajah itu.
Dan kusimpan rapat
di sini, untukku.
Di hariku, di hidupku.
aku mencintaimu dalam diam.
Dalam sunyi.

your secret admirer-your stalker.