Friday, November 2, 2012

Obrolan Secangkir Teh




Aku merasakan radarmu memanggilku, memintaku bergegas. Ah, ternyata aku sedikit terlalu menikmati hangatnya matahari. tenang saja, aku tidak berhenti mencarimu, tidak akan. aku hanya menerima jamuan minum teh dari waktu.
Waktu mengajakku singgah sejenak dari perjalananku. Kami banyak mengobrol. apalagi topiknya kalau bukan kamu. Kami berandai-anadai dan waktu terus memberondong pertanyaan. Bagaimana jika seandainya kamu tidak lagi menungguku? Bagaimana jika seandainya semesta meminta waktuku? Bagaimana jika seandainya perjalannanku masih jauh? Tidakkah aku lelah? Aku hanya tertawa, menjawab sekenanya. Aku tidak mengkhawatirkan hal-hal itu. Aku lebih khawatir dengan pikiran terburuk yang bercokol di otakku.
Bagaimana jika seandainya aku memutuskan untuk berhenti mencari kamu?
Bagaimana jika seandainya itu terjadi? Bagaimana jika seandainya aku menyerah? Apakahkamu masih menungguku? apakah aku sanggup berhenti dan merelakan kamu?
 Aku meletakkan cangkir tehku dan berpamitan pada waktu. ia memberengut--belum puas, tapi tetap mengantarku ke depan pagar rumahnya, ramah. Memintaku singgah lagi kapan-kapan. Aku tersenyum saja, tidak mengiyakan. Aku masih memikirkan perkara kamu.

Bukankah seharusnya sebuah hubungan selalu seperti secangkir teh? Cangkirnya menjaga teh agar tidak tumpah, agar tetep aman di sana. Walaupun tahu teh itu tidak akan selamanya mengepul. Sedangkan teh? Ia bukannya sengaja menghilangkan panasnya. Keadaan yang memaksanya. Kalau bisa, ia ingin mengepul selamanya. Tapi apa daya, ia hanyabisa mempersembahkan apa yang ia punya--sepenuh hati. Aroma dan rasa manis dari butiran gula yang larut.

Radarmu kembali memanggil.

Tunggu saja. Aku akan datang. Aku pasti datang.

Jadi pastikan kamu masih di sana dan menyambutku dengan hangat. Atau mungkin dengan sepenuh hati--apapun bentuknya.

30.10.12

Sarah Aghnia Husna

No comments:

Post a Comment

saya tidak keberatan dengan komentar :D