Thursday, February 2, 2012

hari ke dua puluh : sebuah dilema

Hai, bawel. Semoga kamu masih mau kupanggil begitu setelah membaca ini.
Kau mungkin tidak akan menyobek, membakar atau meremas surat ini sampai rusak.
Haha. Ini hanyalah surat maya.
Aku sudah membayangkan ekspresi wajahmu saat membaca ini. Dahimu akan mengerut dengan alis yang hampir menyatu.
Ya, inilah aku, dengan segala yang selama ini kupendam.
Kita bertemu karena sebuah pertengkaran konyol, kamu ingat? Hanya gara-gara sebuah karet penghapus yang nyasar di kepalaku kala itu. Dan setelah itu, kita jadi bermusuhan dan saling mencibir setiap bertemu.
Ah, andai kau tahu. Aku kalang kabut mencari kata-kata diantara jutaan kata untuk menulis ini. Menulis surat cinta bukan keahlianku, kau tahu. Aku lebih pandai bersilat lidah denganmu di sekolah dibanding harus merangkai kata-kata manis seperti ini.
Karena keributan dan pertengkaran-pertengkaran kecil itu, kita jadi semakin dekat. Aku terlalu nyaman dan terbiasa di dekatmu. Kita tumbuh dewasa bersama, menggantikan pertengkaran-pertengkaran yang lalu dengan candaan konyol yang membuatku kadang miris.
Kita berjalan bersama, terus bersama. Terlalu lama, mungkin.
Saat sebuah persimpangan datang dan menghentikan langkah kita, ingin rasanya aku bertanya, jalan mana yang akan kau pilih. Kita pilih.
Tapi aku terlalu takut. Komitmen seperti menjadi kata yang terlarang diucapkan.
Kita terlalu lama asyik terbuai dengan kesenangan tanpa batas dan komitmen ini.
Andai kau tahu, aku merindukan saat-saat kau menjitak kepalaku dulu. Ada desiran aneh yang menggelitikku saat kau mengacak rambutku. Aku merasakan pipiku memanas saat wangi parfummmu merasuk ke hidungku.
Aku ingin selamanya seperti itu. Andai ada tidaknya sebuah komitmen tidak mempengaruhi langkah kita.
Di persimpangan itu, sekarang, aku bertanya padamu. Jalan mana yang akan kau pilih?
Aku lelah menyimpan semua rasaku sendiri. Aku lelah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semuanya seolah menumpuk menjadi sebuah dilema panjang yang kututup rapat-rapat darimu.
Aku berharap, kita bisa melangkah bersama lagi, dengan sebuah komitmen baru.
Aku berharap hari-hari dilemaku musnah.
Aku berharap, kau takkan semakin tidak terjangkau untukku.

your ex-enemy, your secret admirer.

No comments:

Post a Comment

saya tidak keberatan dengan komentar :D