Thursday, February 16, 2012

uncolour sky, uncolour life

uncolour sky, uncolour life.
Entah ada angin apa, saya ingin membahas ini. Ya, tentang uncolour sky, uncolour life - langit yang tak berwarna, hidup pun sama. Tak berwarna.
Kalau orang bilang saya ngaco, langit tidak mungkin tidak berwarna. Biarlah. Itu kata mereka. Buat saya langit tidak pernah berwarna. Ia tampak berwarna karena ada sinar matahari.
Kadang azure, kadang abu-abu, kadang kuning lime, kadang merah keunguan. Jadi buat saya, langit tidak berwarna, hanya saja ia membiaskan cahaya yang ada.  Oke, bukan itu pokok bahasannya.
Seperti langit, hidup juga tidak berwarna. Apa warna hidup? Merah? Jingga? Putih? Hitam? Atau malah abu-abu?
Sekali lagi buat saya hidup tidak pernah berwarna. Ia hanya "membiaskan" warna dari apa yang kita rasakan saja.
Kadang hidup terasa indah dan cerah saat hal menyenangkan menghampiri kita, kelabu saat sedih menggantung, atau tetap tidak berwarna saat hidup kita stuck dan jenuh.
Saya dan hidup saya juga begitu.
Salah satu yang ingin saya ceritakan adalah musibah yang menimpa saya baru-baru ini. Ada warna baru yang mampir dan menorehkan goresan dalam hidup saya.
Bohong kalau saya tidak menangis, Tuhan tahu saya menangis sore itu. Bohong kalau saya nyaman dengan tempat tinggal baru saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur. Bohong besar kalau saya tidak miris dengan kehidupan saya.
Saya tidak suka berbohong. Fake. Tapi saya tidak ingin orang melihat kelemahan saya. Saya tidak selemah itu, setidaknya untuk sekedar berdiri sendiri.
Sejak hari itu hidup saya berubah. Hidup keluarga saya. Hampir seratus delapan puluh derajat. Kami harus memulai semua dari awal lagi. Kata mama saya, kami harus memulai hidup baru.
Rumah saat ini memang lebih besar, tingkat pula. Tapi bohong sekali lagi kalau saya nyaman. Saya jengah. Ini bukan rumah saya. Memang sudah dibeli orang tua saya, tapi buat saya ini bukan bagian dari kehidupan saya. Tidak ada kenangan di sini. Belum. Mungkin akan, atau tidak sama sekali.
Saya mungkin terguncang. Tuhan menegur saya dan keluarga dengan musibah itu, membuat saya untuk pertamakalinya berharap hujan cepat usai. Sebelumnya Tuhan juga menegur saya. Dengan membiarkan orang terdekat saya pergi. Menampar keluarga saya dengan keadaan saudara saya.
Hari-hari saya kelabu. Hidup saya membiaskan warna perasaan saya. Tidak hitam atau putih. Abu-abu mungkin. Saya sendiri tidak yakin.
Ayah saya bilang, semua pasti ada hikmahnya. Saya juga yakin begitu.
Tapi.
Hidup bukanlah langit. Hanya mirip, tapi tak serupa.
Langit tidak akan pernah bisa menentukan warna apa yang akan ditorehkan padanya. Tapi hidup bisa. Hidup menggantungkan warnanya pada saya, pada kamu, pada kita.
Warna yang dibiaskan hidup tergantung kita. Tergantung bagaimana cara kita membuat warna dalam hidpu ini tampak berwarna, tampak indah dan menyenangkan.
Karena langit bukan hidup dan hidup bukan langit. Hidup ada untuk dijalani, bukan hanya dipandangi. Hidup untuk dimengerti. Hidup untuk dinikmati.
uncolour sky, uncolour life. unpredictable sky, unpredictable life.
Mereka sama, tapi tak serupa.

No comments:

Post a Comment

saya tidak keberatan dengan komentar :D