Wednesday, February 1, 2012

hari ke sembilan belas : rahasia hujan

Hai, kau-yang-aku-tidak-tahu-siapa-namamu.
Kau pasti heran melihat surat yang kutulis.
Surat tanpa nama, tanpa amplop merah jambu seperti dalam novel-novel yang biasa dibaca oleh adikmu. Ingatanku tidak buruk, bukan? Bahkan semua kata yang terucap dari mulutmu masih terekam jelas dalam memori otakku. Aneh memang. Kita baru sehari bertemu dan aku langsung merasakan debaran aneh yang menyergapku di kala wajahmu lewat di benakku.
Ah, andai saja aku bisa mengenalmu lebih jauh. Tentu akan jauh lebih menyenangkan. Matamu yang seperti biji kenari itu memancarkan kehangatan, membuaiku hingga tak berdaya. Alismu yang tebal semakin menegaskan kharisma yang kau punya. Dan lesung pipit yang selalu muncul saat kau tertawa itu, semakin membuatku merasakan aliran listrik aneh yang belum pernh aku rasakan sebelumnya.
Kala itu hujan turun deras, kau ingat? Ya, aku gadis itu. Gadis dengan penampilan berantakan karena hujan, juga karena sifat cuekku sendiri. Rambut basah dan mencuat, kaos biru, celana jeans belel dan sepatu kets. Gadis yang menggerutu di sebelahmu, mengutuk setiap tetes air hujan yang terlihat jatuh dari balik kaca. Kau menyapaku hangat dan bertanya kenapa aku benci hujan. Dengan sabar kau mendengarkan ocehanku. Sempat aku menangkap sang resepsionis tertawa kecil melihat tingkahku. Ah, sudahlah, bukan saatnya aku bercerita padamu seberapa inginnya aku melempar sang resepsionis sialan itu dengan sepatu.
Saat kau melihatku mulai lelah mengoceh, tiba-tiba kau berceletuk,
"Aku suka sekali hujan. Di setiap tetesnya, Tuhan mengirimkan malaikat-malaikat kecil-Nya untuk mengabulkan doaku"
Aku terenggun. Kau membuatku melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ada sejenis medan magnet yang membuatku membantah dan melibat ucapanmu, atau mengoceh seperti kebiasaanku. Aku hanya mendengarkanmu dan  suara hujan di luar sana.
Aku ingat. Aku ingat kau bercerita banyak tentang adik perempuanmu yang sangat suka berkhayal dan membaca buku. Dan ibumu yang sabar dan sangat cantik. Juga yahmu yang keras namun sebenarnya penyayang dan penuh kejutan.
Saat aku terlalu sibuk menikmati tawa yang timbul saat sesekali kau mengeluarkan candaan, saat kau mengeluarkan wajah konyolmu, kau menghentikan cerita-ceritamu dan menyodorkan sebuah payung padaku.
"Pulanglah, sudah larut. Terima kasih sudah menemaniku"
Kau mengecup pipiku lembut--hal terlarang yang tak pernah aku ijinkan siapapun melakukannya, kecuali ayahku. Tapi aku hany diam dan menikmati setiap detiknya. Kau tersenyum hangat dan melambaikan tangan, berjalan menjauh ke arah lorong gelap itu. Lorong yang tidak pernah aku suka sejak kecil. Bahkan sampai tadi pagi pun, aku masih tidak menyukainya, hanya terpaksa datang untuk sebuah rutinitas. Aku hanya menuruti kata-katamu seakan terhipnotis. Padahal banyak hal yang ingin kuketahui tentangmu--seperti siapa namamu, bagaimana keseharianmu, atau apakah kau juga suka kopi pekat yang biasa kuminum setiap pagi dengan asap mengepul.
Tapi kau menjadi misteri. Dan akan selalu begitu. Iya, kan?
Aku tahu, surat ini tidak akan pernah kau baca. Surat ini dari awal memang tidak akan pernah sampai ke tanganmu. Karena keesokannya saat aku datang untuk menemuimu dan mengembalikan payungmu, sang resepionis sialan itu mencegatku dan menepuk pundakku, memberiku sebuah kabar yang tidak ingin aku dengar.

Aku hanya ingin kau tahu, aku selalu mendoakanmu dimanapun kau berada. Karena hanya dengan cara itu, aku bisa memelukmu dari jauh.
Kala hujan turun, aku berharap maaikat-malaikat kecil itu mendengatkan doaku dan membisikkan salamku untukmu. Untukmu.
Lelaki hujan yang mengubah cara pandangku, yang mencuri hatiku tanpa pernah dipulangkan. Lelaki yang belakangan kuketahui namanya. Lelaki yang kini telah tenang dan terbebas dari rasa sakit luar biasa karena kanker yang menggerogotinya.

Aku selalu bersyukur Tuhan sempat mempertemukan kita. Di hari terakhirmu melihat lorong-lorong rumah sakit sialan itu. Tunggu aku di sana, ya. Kelak kita pasti akan bertemu lagi. Dan aku kembali bisa mmiliki separuh hatiku yang kau curi kala itu. Sampai saatnya tiba, biarkan hujan menutup rapat rahasia pertemuan kita.

untukmu lelaki hujanku
dari gadis yang separuh hatinya tercuri saat hujan.

No comments:

Post a Comment

saya tidak keberatan dengan komentar :D