Hari ini pun kau pasti memulai harimu dengan senyuman dan dendang riang dari mulutmu. Mungkin saat ini kau sedang sarapan santai dengan ibu dan kakak perempuanmu. Mungkinkah kau sedang menyapa ayahmu di balik kabel telepon? Atau malah masih meringkuk di balik selimut tebal karena kelelahan menonton bola semalam? Apakah ada kemungkinan kau sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah dengan mobilmu itu? Aku meragukan yang terakhir. Haha.
Jangan kaget saat kau melihat surat ini, apalagi tertawa renyah seperti yang biasa kau lakukan saat melihat kekonyolanku. Ini bukan lelucon, kau tahu? Aku serius. Dua rius malah.
Hei, lelaki seberang jendela. Apa kabarmu sekarang? Kudengar bandmu sudah manggung di beberapa kota. Wah, pasti banyak sekali perempuan di sekelilingmu. Apa di antara mereka ada yang mengenalmu seperti aku?
Ah, andai kau tahu. Aku selalu ingat saat-saat kita tumbuh bersama. Pertemuan pertama yang manis, gelak tawa saat kita bermain dulu, sampai sekarang aku tak pernah lupa.
Mungkin kau menganggap semuanya sambil lalu. Sepele. Tapi buatku, semua begitu berharga.
Ingat pertama kali kita bertemu di ayunan sore itu? Kita baru berumur tujuh tahun. Saat itu, orang tuaku sedang bertengkar hebat di rumah. Lalu kau datang, duduk di sebelahku dan memberiku sebuah permen. Saat itu kau bilang kau sering melihatku sendiri di ayunan saat senja datang, lalu pulang menjelang petang. Kau bilang sebuah permen bisa membuatku lebih baik. Benar saja, manisnya permen itu, sedikit melunturkan pahitnya hariku.
Kau tidak akan mengira, sampai saat ini, saat hariku buruk, aku selalu mengulum permen untuk sedikit memperbaiki moodku.
Sejak hari itu, setiap hari seusai kau bermain bola bersama teman-temanmu, kau selalu menemaniku. Kau selalu mendorong ayunanku dan berbagi cerita. Setelah lelah, kau duduk di sampingku dan dengan sabar mendengarkan keluh kesahku.
Kau juga mengenalkan teman-temanmu padaku, mengajakku main ke rumahmu, dan mengenalkanku pada keluargamu yang hangat.
Kau juga lelaki pertama yang menceritakan cita-citamu padaku. Menjadi seorang musisi dan konduktor, aku ingat.
Oh, iya. Aku ingat saat ulang tahunmu yang ke 15, ayahmu membelikanmu sebuah iPod. Kau berlari kecil ke rumahku, memanggil-manggil namaku dari luar. Lalu, kau menggandengku ke ayunan kita dan memasangkan sebelah headsetnya untukku.
Semakin lama, rasanya kau semakin jauh.
Kau selalu pulang malam, latihan band kata ibumu. Kadang, saat aku hendak mampir, kau sudah bersiap pergi entah ke mana. Menjemput kekasih barumu kah?
Saat kebetulan bertemu, kau dan aku jadi canggung. Namun satu yang aku syukuri, kebiasaanmu mengacak rambutku tidak berubah. Sambil nyengir kau kelalu berkata agar aku tetap semangat.
Tahukah kau? Aku rindu sekali denganmu. Aku rindu saat kau menggandeng tangan kecilku pulang ke rumah, atau saat kau mengajakku balapan sepeda setiap sore.
Tanpa aku sadari, aku sayang sekali padamu.
Hei lelaki kecil yang sudah beranjak dewasa, maukah kau datang sore ini ke ayunan kita?
Aku menunggumu.
Untuk lelaki baik hati di seberang jendela rumahku, dari gadis di ayunan sore itu.
No comments:
Post a Comment
saya tidak keberatan dengan komentar :D