Lagi-lagi saya mendesah dengan secangkir kafein di hadapan saya. Asapnya tidak lagi mengepul seperti awalnya karena terlalu lama saya abaikan. Pikiran saya terlalu liar melalang buana sampai kadang enggan pulang. Terlalu menikmati perjalanan fantasi mengejar bayangan kamu. Dan pada kenyataannya saya terlalu lelah untuk berlari mengejar kamu. Kamu tahu sendiri, saya tidak suka pelajaran berlari. Haha. Bercanda.
Sudah setahun ini kamu jadi jauh sekali. Menampar saya dengan ketidak jelasan. Menghempaskan saya dalam kebingungan. Kamu hanya pergi, berlari, jauh tak terkejar. “Jangan hubungi saya lagi!”. Hanya itu kalimat terakhirmu. Saya mencoba berlari, bertahan dan mengejar kamu setahun ini. Tapi asa itu akhirnya menguap. Saya terlalu lelah.
Tapi saat kelelahan itu menghampiri, kamu datang. Menyelinap dalam mimpi saya dan membawa asa kembali pulang. Ah. Kamu selalu tahu cara membuat saya kembali. Tapi selalu tidak lama. Sampai saya kembali pada hari ini. Hari dimana secangkir kafein dingin menjadi saksi air mata saya jatuh ke pipi. Hari dimana hujan datang, seperti pertama kita bertemu, yang sekaligus menjadi hari saya memutuskan untuk berhenti mengejar kamu.
Pahit. Seperti kafein di cangkir saya.
Kamu, si mata kenari. Jangan pernah lagi menyusup dalam mimpi saya seolah semua baik adanya. Jangan pernah membiarkan saya meraih asa dan berlari jauh. Biarkan saya di sini, melepas kamu, melepas lelah dan melihat kamu bahagia.
No comments:
Post a Comment
saya tidak keberatan dengan komentar :D