hai.
hari ini saya ingin share tentang acara tahunan sekolah saya. festifal film smansa.
pada ajang ini, setiap kelas wajib membuat sebuah film pendek dengan durasi 15 menit.
daaaan. oh. men. saya rasa saya seduikit pesimis. kelas saya begitu pasif. belum lagi kelas seberang yang memiliki seorang editor video yang dewanya bukan main.
yah.
hopefully.
Thursday, February 23, 2012
Sunday, February 19, 2012
terimakasih
terimakasih buat @nadoremii yang kadang nampar saya dengan omongannya. sakit. tapi bermanfaat.
saya memang tidak bisa sempurna. tapi doakan saja saya bisa lebih baik dari ini.
terimakasih sahabat kecil saya, @nadoremii
saya memang tidak bisa sempurna. tapi doakan saja saya bisa lebih baik dari ini.
terimakasih sahabat kecil saya, @nadoremii
coretan kecil buat kamu, gi.
Hai, gi. gimana kabar? Basi ya nanya kabar terus-terusan. orang jelas kamu pasti baik-baik aja dan enjoy sama hidup kamu. Nggak. Aku bukan mau minta maaf. Aku tau kamu bosen dengerinnya.
Aku tau kamu marah males banget sama aku. Aku juga nggak berharap kamu baca ini.
Aku cuma pengen bilang makasih. Buat semuanya lah yang nggak bisa aku sebutin.
Waktumu, candaan kita, cerita-cerita.
Gi.
Aku capek nunggu dimaafin, capek nunggu kamu sadar kalau kamu itu childish banget bersikap gini.
Tapi setiap aku pengen move on, semua info tentang kamu dateng, nyeret rindu buat masuk lagi ke hati dan pikiranku.
Gi.
Aku kangen, nggak pengen kamu pergi. Pengen dimaafin terus kita balik kayak dulu.
Dulu?
Haha. asing ya.
Kalau aku inget kamu lagi, aku bakal buat catetan-catetan kayak gini, Gi.
Biar nguap. Biar lega.
Sukses sama bandmu ya, aku masih doain kamu.
sarah aghnia husna
Aku tau kamu marah males banget sama aku. Aku juga nggak berharap kamu baca ini.
Aku cuma pengen bilang makasih. Buat semuanya lah yang nggak bisa aku sebutin.
Waktumu, candaan kita, cerita-cerita.
Gi.
Aku capek nunggu dimaafin, capek nunggu kamu sadar kalau kamu itu childish banget bersikap gini.
Tapi setiap aku pengen move on, semua info tentang kamu dateng, nyeret rindu buat masuk lagi ke hati dan pikiranku.
Gi.
Aku kangen, nggak pengen kamu pergi. Pengen dimaafin terus kita balik kayak dulu.
Dulu?
Haha. asing ya.
Kalau aku inget kamu lagi, aku bakal buat catetan-catetan kayak gini, Gi.
Biar nguap. Biar lega.
Sukses sama bandmu ya, aku masih doain kamu.
sarah aghnia husna
Thursday, February 16, 2012
secarik pesan rindu
Sudah dua kali kamu mampir dalam mimpi-mimpi saya. Membuai saya seolah tidak ada apa-apa. Bisakah kamu berhenti hadir dalam mimpi saya dan menyapa saya dalam kehidupan nyata saja?
Asal kamu tahu, saya terkadang lelah mengharapkan kamu kembali. Tetapi kamu malah jadi sering mampir dan mengajak rindu bermain di hati dan pikiran saja. Jangan melenakan saya akan hal yang tidak pasti.
Saya rindu kamu, saya ingin kamu. Dalam kenyataan, bukan ketidakpastian seperti ini.
Asal kamu tahu, saya terkadang lelah mengharapkan kamu kembali. Tetapi kamu malah jadi sering mampir dan mengajak rindu bermain di hati dan pikiran saja. Jangan melenakan saya akan hal yang tidak pasti.
Saya rindu kamu, saya ingin kamu. Dalam kenyataan, bukan ketidakpastian seperti ini.
uncolour sky, uncolour life
uncolour sky, uncolour life.
Entah ada angin apa, saya ingin membahas ini. Ya, tentang uncolour sky, uncolour life - langit yang tak berwarna, hidup pun sama. Tak berwarna.
Kalau orang bilang saya ngaco, langit tidak mungkin tidak berwarna. Biarlah. Itu kata mereka. Buat saya langit tidak pernah berwarna. Ia tampak berwarna karena ada sinar matahari.
Kadang azure, kadang abu-abu, kadang kuning lime, kadang merah keunguan. Jadi buat saya, langit tidak berwarna, hanya saja ia membiaskan cahaya yang ada. Oke, bukan itu pokok bahasannya.
Seperti langit, hidup juga tidak berwarna. Apa warna hidup? Merah? Jingga? Putih? Hitam? Atau malah abu-abu?
Sekali lagi buat saya hidup tidak pernah berwarna. Ia hanya "membiaskan" warna dari apa yang kita rasakan saja.
Kadang hidup terasa indah dan cerah saat hal menyenangkan menghampiri kita, kelabu saat sedih menggantung, atau tetap tidak berwarna saat hidup kita stuck dan jenuh.
Saya dan hidup saya juga begitu.
Salah satu yang ingin saya ceritakan adalah musibah yang menimpa saya baru-baru ini. Ada warna baru yang mampir dan menorehkan goresan dalam hidup saya.
Bohong kalau saya tidak menangis, Tuhan tahu saya menangis sore itu. Bohong kalau saya nyaman dengan tempat tinggal baru saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur. Bohong besar kalau saya tidak miris dengan kehidupan saya.
Saya tidak suka berbohong. Fake. Tapi saya tidak ingin orang melihat kelemahan saya. Saya tidak selemah itu, setidaknya untuk sekedar berdiri sendiri.
Sejak hari itu hidup saya berubah. Hidup keluarga saya. Hampir seratus delapan puluh derajat. Kami harus memulai semua dari awal lagi. Kata mama saya, kami harus memulai hidup baru.
Rumah saat ini memang lebih besar, tingkat pula. Tapi bohong sekali lagi kalau saya nyaman. Saya jengah. Ini bukan rumah saya. Memang sudah dibeli orang tua saya, tapi buat saya ini bukan bagian dari kehidupan saya. Tidak ada kenangan di sini. Belum. Mungkin akan, atau tidak sama sekali.
Saya mungkin terguncang. Tuhan menegur saya dan keluarga dengan musibah itu, membuat saya untuk pertamakalinya berharap hujan cepat usai. Sebelumnya Tuhan juga menegur saya. Dengan membiarkan orang terdekat saya pergi. Menampar keluarga saya dengan keadaan saudara saya.
Hari-hari saya kelabu. Hidup saya membiaskan warna perasaan saya. Tidak hitam atau putih. Abu-abu mungkin. Saya sendiri tidak yakin.
Ayah saya bilang, semua pasti ada hikmahnya. Saya juga yakin begitu.
Tapi.
Hidup bukanlah langit. Hanya mirip, tapi tak serupa.
Langit tidak akan pernah bisa menentukan warna apa yang akan ditorehkan padanya. Tapi hidup bisa. Hidup menggantungkan warnanya pada saya, pada kamu, pada kita.
Warna yang dibiaskan hidup tergantung kita. Tergantung bagaimana cara kita membuat warna dalam hidpu ini tampak berwarna, tampak indah dan menyenangkan.
Karena langit bukan hidup dan hidup bukan langit. Hidup ada untuk dijalani, bukan hanya dipandangi. Hidup untuk dimengerti. Hidup untuk dinikmati.
uncolour sky, uncolour life. unpredictable sky, unpredictable life.
Mereka sama, tapi tak serupa.
Entah ada angin apa, saya ingin membahas ini. Ya, tentang uncolour sky, uncolour life - langit yang tak berwarna, hidup pun sama. Tak berwarna.
Kalau orang bilang saya ngaco, langit tidak mungkin tidak berwarna. Biarlah. Itu kata mereka. Buat saya langit tidak pernah berwarna. Ia tampak berwarna karena ada sinar matahari.
Kadang azure, kadang abu-abu, kadang kuning lime, kadang merah keunguan. Jadi buat saya, langit tidak berwarna, hanya saja ia membiaskan cahaya yang ada. Oke, bukan itu pokok bahasannya.
Seperti langit, hidup juga tidak berwarna. Apa warna hidup? Merah? Jingga? Putih? Hitam? Atau malah abu-abu?
Sekali lagi buat saya hidup tidak pernah berwarna. Ia hanya "membiaskan" warna dari apa yang kita rasakan saja.
Kadang hidup terasa indah dan cerah saat hal menyenangkan menghampiri kita, kelabu saat sedih menggantung, atau tetap tidak berwarna saat hidup kita stuck dan jenuh.
Saya dan hidup saya juga begitu.
Salah satu yang ingin saya ceritakan adalah musibah yang menimpa saya baru-baru ini. Ada warna baru yang mampir dan menorehkan goresan dalam hidup saya.
Bohong kalau saya tidak menangis, Tuhan tahu saya menangis sore itu. Bohong kalau saya nyaman dengan tempat tinggal baru saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur. Bohong besar kalau saya tidak miris dengan kehidupan saya.
Saya tidak suka berbohong. Fake. Tapi saya tidak ingin orang melihat kelemahan saya. Saya tidak selemah itu, setidaknya untuk sekedar berdiri sendiri.
Sejak hari itu hidup saya berubah. Hidup keluarga saya. Hampir seratus delapan puluh derajat. Kami harus memulai semua dari awal lagi. Kata mama saya, kami harus memulai hidup baru.
Rumah saat ini memang lebih besar, tingkat pula. Tapi bohong sekali lagi kalau saya nyaman. Saya jengah. Ini bukan rumah saya. Memang sudah dibeli orang tua saya, tapi buat saya ini bukan bagian dari kehidupan saya. Tidak ada kenangan di sini. Belum. Mungkin akan, atau tidak sama sekali.
Saya mungkin terguncang. Tuhan menegur saya dan keluarga dengan musibah itu, membuat saya untuk pertamakalinya berharap hujan cepat usai. Sebelumnya Tuhan juga menegur saya. Dengan membiarkan orang terdekat saya pergi. Menampar keluarga saya dengan keadaan saudara saya.
Hari-hari saya kelabu. Hidup saya membiaskan warna perasaan saya. Tidak hitam atau putih. Abu-abu mungkin. Saya sendiri tidak yakin.
Ayah saya bilang, semua pasti ada hikmahnya. Saya juga yakin begitu.
Tapi.
Hidup bukanlah langit. Hanya mirip, tapi tak serupa.
Langit tidak akan pernah bisa menentukan warna apa yang akan ditorehkan padanya. Tapi hidup bisa. Hidup menggantungkan warnanya pada saya, pada kamu, pada kita.
Warna yang dibiaskan hidup tergantung kita. Tergantung bagaimana cara kita membuat warna dalam hidpu ini tampak berwarna, tampak indah dan menyenangkan.
Karena langit bukan hidup dan hidup bukan langit. Hidup ada untuk dijalani, bukan hanya dipandangi. Hidup untuk dimengerti. Hidup untuk dinikmati.
uncolour sky, uncolour life. unpredictable sky, unpredictable life.
Mereka sama, tapi tak serupa.
Saturday, February 11, 2012
hari ke dua puluh sembilan : tukang pos cinta
Hai, kau. Iyaa, kau. Yang sedang membaca deretan kata yang mungkin tak akan berarti untukmu.
Si tukang pos yang selalu sabar (atau mungkin ogah-ogahan) membaca seiap surat yang dimention ke akun twitter. Si tukang pos yang kadang muncul di timelineku dengan tweet-tweet galau. Atau sajak yang mungkin kadang tak kumengerti artinya.
Adimas Immanuel.
Awalnya namamu terasa asing di teligaku. Namun lambat laun, aku jadi terbiasa.
Haha, aku bingung sendiri membuat surat cinta untuk tukang posku sendiri.
Tapi semalam, ide ini muncul begitu saja, menguap seiring dengan kata-kata yang sedang kau baca ini.
Taukah kau? Rasanya tak rela setelah ini tanggal 14 akan datang. Saat kegiatan ini harus diakhiri. Saat tidak ada alasan lagi untuk mention. Saat rasanya malas sekali menulis tanpa alamat.
Aku tidak mengenalmu. Apalagi sok kenal.
Aku hanya mengagumi deretan kata yang kau buat. Mengagumi kesabaranmu membaca puluhan atau bahkan ratusan surat yang masuk setiap harinya. Pasti repot. Mungkin lelah. Atau bosan setiap hari membaca hal itu-itu saja.
Kau hebat. Haha. Dan sabar sekali lagi.
Untukmu, si lelaki tukang pos.
Ini adalah luapan kagumku. Yang (semoga) tersampaikan lewat kalimat dalam surat ini.
Nah, bekerjalah lagi. Masih banyak hal-hal yang menantimu di luar sana. Bersemangatlah!
untuk Adimas Immanuel, si lelaki tukang pos.
Friday, February 10, 2012
hari ke dua puluh delapan : pesan sayang untuk lelaki terbaik
Halo. Ehm. Agak sulit menulis surat cinta seperti ini untukmu. Entah apa yang harus kutuliskan padamu. Entah mengapa aku begitu ingin menuliskan ini untukmu. Terlepas dari rasa kagumku yang luar biasa meluap padamu. Speechless, begitu orang bilang.
Yang jelas, tanpa pernah kau sadari aku mengamatimu. Dan mengagumimu, tentu saja.
Aku selalu tahu waktu-waktu yang kau lalui sepanjang hari. Kau lelaki yang rajin, kau tak pernah melewatkan waktu ibadahmu. Setiap pagi, kau cukur kumis halus yang mulai tumbuh agar terlihat rapi. Rambut ikalmu terkadang sedikit mencuat karena terburu-burunya dirimu. Kadang, perutmu tak sempat terisi di pagi hari karena berharganya waktumu. Hanya beberapa teguk kopi pekat yang selalu mengisi pagimu. Tapi karenanya, kadang kau mengeluh tidak sehat karena ternyata beberapa teguk kopi bukan solusi yang baik untuk pagimu.
Kau adalah lelaki terbaik dalam hidupku. Walau terkadang kau meninggalkanku karena panggilan-panggilan mendadak dari temanmu. Tak apa. Aku tetap sayang padamu. Meskipun kadang kau lupa ulang tahunku. Tak apa, aku senang kau tetap mengucapkannya walau sedikit terlambat. Ya, aku tahu. Mungkin kau tidak lupa. Hanya canggung untuk memulai pembicaraan karena kesibukanmu yang membatasi pertemuan kita. Aku tahu persis kau bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Tapi rasa sayangku tak pernah berkurang sedikitpun.
Sedang apa kau sekarang?
Apa sedang mengangkat sebuah telepon maha penting?
Atau dalam perjalanan pulang?
Mungkinkah kau pulang larut lagi?
Sulit kukatakan, tetepi lewat coretan kecil ini aku ingin kau mengerti. Betapa aku menyayangimu. Betapa aku merindukanmu. Aku rindu kecupan manis di puncak kepalaku seperti saat kau akan pergi jauh. Rindu celetukan-celetukanmu di sela percakapan kita. Rindu tawa renyahmu. rindu saat kau di rumah, melewati waktu bersama, untuk sekedar duduk santai.
Aku sayang sekali padamu..
Untuk ayahku tercinta yang sedang bekerja, terimakasih untuk semua yang telah kau beri padaku.
Aku sayang padamu.
Peluk dan cium dari jauh, sampai ketemu di rumah.
Yang jelas, tanpa pernah kau sadari aku mengamatimu. Dan mengagumimu, tentu saja.
Aku selalu tahu waktu-waktu yang kau lalui sepanjang hari. Kau lelaki yang rajin, kau tak pernah melewatkan waktu ibadahmu. Setiap pagi, kau cukur kumis halus yang mulai tumbuh agar terlihat rapi. Rambut ikalmu terkadang sedikit mencuat karena terburu-burunya dirimu. Kadang, perutmu tak sempat terisi di pagi hari karena berharganya waktumu. Hanya beberapa teguk kopi pekat yang selalu mengisi pagimu. Tapi karenanya, kadang kau mengeluh tidak sehat karena ternyata beberapa teguk kopi bukan solusi yang baik untuk pagimu.
Kau adalah lelaki terbaik dalam hidupku. Walau terkadang kau meninggalkanku karena panggilan-panggilan mendadak dari temanmu. Tak apa. Aku tetap sayang padamu. Meskipun kadang kau lupa ulang tahunku. Tak apa, aku senang kau tetap mengucapkannya walau sedikit terlambat. Ya, aku tahu. Mungkin kau tidak lupa. Hanya canggung untuk memulai pembicaraan karena kesibukanmu yang membatasi pertemuan kita. Aku tahu persis kau bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Tapi rasa sayangku tak pernah berkurang sedikitpun.
Sedang apa kau sekarang?
Apa sedang mengangkat sebuah telepon maha penting?
Atau dalam perjalanan pulang?
Mungkinkah kau pulang larut lagi?
Sulit kukatakan, tetepi lewat coretan kecil ini aku ingin kau mengerti. Betapa aku menyayangimu. Betapa aku merindukanmu. Aku rindu kecupan manis di puncak kepalaku seperti saat kau akan pergi jauh. Rindu celetukan-celetukanmu di sela percakapan kita. Rindu tawa renyahmu. rindu saat kau di rumah, melewati waktu bersama, untuk sekedar duduk santai.
Aku sayang sekali padamu..
Untuk ayahku tercinta yang sedang bekerja, terimakasih untuk semua yang telah kau beri padaku.
Aku sayang padamu.
Peluk dan cium dari jauh, sampai ketemu di rumah.
Wednesday, February 8, 2012
hari ke dua puluh enam : sepotong rindu
Ini hari ke tiga ratus empat puluh.
Dan aku masih menunggumu di sini.
Ini sudah hampir setahun.
Dan aku masih menggantungkan asaku padamu.
Hai, sahabatku. Oke, maaf, aku ralat. Hai, kau yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku.
Tadinya aku ingin menuliskan "apa kabar?", tapi itu terlalu klasik dan terkesan basa-basi. Ya, bukan sifatmu. Bukan aku juga, yang selalu bicara to the point.
Iya, aku tahu kau ingin sekali meremat surat ini dan melemparnya jauh ke tong sampah, atau kalau bisa kau bakar saja sekalian. Jangan. Sekali ini saja, jangan, dan aku tidak akan meminta apapun lagi darimu.
Oke, aku berbohong. Aku tidak mungkin tidak meminta apapun jika surat ini sudah sampai di tanganmu. Tapi sebegitu sulitkah untukmu memberinya padaku sampai aku harus melalui tiga ratus empat puluh hari yang begitu menyiksa ini? Sebegitu tidak relanya kah dirimu?
Aku hanya meminta satu hal. Dua mungkin. Atau tiga. Maafkan aku. Kembalilah di sampingku. Habiskan waktumu bersamaku seperti dulu.
Dulu. Ah, kadang aku benci sekali mengatakan dulu. Atau masa lalu dan hal sejenis tentang waktu yang telah berlalu.
Karena tiga ratus empat puluh hari yang lalu itu, juga karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diulang. Hanya dikenang, dan dijadikan pelajaran.
Kau,lelaki yang dekat denganku selama satu setengah tahun, tanpa status--samar, dan meninggalkanku tiga ratus empat puluh hari yang lalu dengan berbagai tanya.
Kau, lelaki kurus dengan kulit pucat, mata cokelat, rambut hitam kecoklatan, yang tak pernah kutemui, hanya kutemui lewat foto. Hanya kutemui lewat kata-kata dalam pesan singkatmu di handphoneku.
Kau, lelaki teroptimis yang pernah kukenal, lelaki yang kukagumi karena kelihaianmu bermain berbagai alat musik, lelaki yang banyak berbagi satu setengah tahun belakangan.
Lelaki yang juga tidak sengaja dan tidak sadar aku sayangi.
Haha, aku agak menyesal tidak mendengarkan kata orang.
"Witing trisno jalaran soko kulino"--cinta itu tumbuh dari kebiasaan.
Saat itu aku hanya tertawa, hanya menanggapinya sambil lalu. Dan sekarang, aku memakan tawa itu. Mereka benar.
Ah, waktu cepat sekali berlalu ya. Dan sekarangpun aku masih saja rindu padamu. Padahal tidak pernah bertemu.
Asalkan kau tahu. Banyak hal yang aku sesali.
Mengapa kita terlalu asyik terbuai dengan obrolan di pesan singkat?
Mengapa kita sama-sama tidak berani bertatap muka?
Mengapa aku begitu bodoh menorehkan setitik kecewa padamu?
Mengapa kau tidak kunjung memaafkanku?
Mengapa kau tidak mau menjelaskan semuanya?
Mengapa kau malah berbalik membenciku?
Mengapa?
Mengapa?
Banyak mengapa berkelbat di otakku, kau tahu?
Dan satu pertanyaan yang telah lama kupendam.
Apa status kita selama ini? Teman kah? Sahabat kah? Apa arti satu setengah tahun kebersamaan kita?
Namun kau membisu, enggan menjawab.
Kau membiarkanku bertanya tanpa pernah terjawab.
Tapi, kuhargai keputusanmu. Mungkin ini yang terbaik. Mungkin.
Ah, air mataku mulai jatuh lagi. Ya, aku masih cengeng. Haha.
Asalkan kau tahu, aku memang menyesal, kesal, kadang marah karena kau pergi begitu jauh dan tak terjangkau hanya karena kesalahan sepele.
Tapi aku juga bersyukur.
Aku bersyukur kau sempat mampir d hidupku, bersyukur kau mengajariku sabar dalam mencinta tanpa pernah kau sadari, bersyukur untuk semua waktu yang tidak dapat di ulang.
Aku bersyukur untukmu.
Aku juga berdoa. Untukmu lagi-lagi.
Untuk kau. Kau yang mengetuk pintu hatiku nyaring tanpa aku dan kau sadari sama sekali kala itu. Untuk kau, lelaki yang selalu aku kagumi.
Ini hanyalah sebuah surat cinta biasa. Sebuah surat dengan kata-kata biasa.
Namun surat cinta ini luar biasa untukku. Ini adalah surat yang mengirim sepotong rinduku padamu. Sepotong rindu untuk waktu yang lama. Sepotong rindu untuk sepotong kenangan.
Untuk kau yang masih memandang langit yang kupandang, merasakan rintik hujan yang kurasa, menikmati hangatnya mentari yang menyinariku.
Maukah kau kembali suatu saat?
Jangan biarkan aku menggantung asa tanpa sedikitpun harapan.
Dan aku masih menunggumu di sini.
Ini sudah hampir setahun.
Dan aku masih menggantungkan asaku padamu.
Hai, sahabatku. Oke, maaf, aku ralat. Hai, kau yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku.
Tadinya aku ingin menuliskan "apa kabar?", tapi itu terlalu klasik dan terkesan basa-basi. Ya, bukan sifatmu. Bukan aku juga, yang selalu bicara to the point.
Iya, aku tahu kau ingin sekali meremat surat ini dan melemparnya jauh ke tong sampah, atau kalau bisa kau bakar saja sekalian. Jangan. Sekali ini saja, jangan, dan aku tidak akan meminta apapun lagi darimu.
Oke, aku berbohong. Aku tidak mungkin tidak meminta apapun jika surat ini sudah sampai di tanganmu. Tapi sebegitu sulitkah untukmu memberinya padaku sampai aku harus melalui tiga ratus empat puluh hari yang begitu menyiksa ini? Sebegitu tidak relanya kah dirimu?
Aku hanya meminta satu hal. Dua mungkin. Atau tiga. Maafkan aku. Kembalilah di sampingku. Habiskan waktumu bersamaku seperti dulu.
Dulu. Ah, kadang aku benci sekali mengatakan dulu. Atau masa lalu dan hal sejenis tentang waktu yang telah berlalu.
Karena tiga ratus empat puluh hari yang lalu itu, juga karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diulang. Hanya dikenang, dan dijadikan pelajaran.
Kau,lelaki yang dekat denganku selama satu setengah tahun, tanpa status--samar, dan meninggalkanku tiga ratus empat puluh hari yang lalu dengan berbagai tanya.
Kau, lelaki kurus dengan kulit pucat, mata cokelat, rambut hitam kecoklatan, yang tak pernah kutemui, hanya kutemui lewat foto. Hanya kutemui lewat kata-kata dalam pesan singkatmu di handphoneku.
Kau, lelaki teroptimis yang pernah kukenal, lelaki yang kukagumi karena kelihaianmu bermain berbagai alat musik, lelaki yang banyak berbagi satu setengah tahun belakangan.
Lelaki yang juga tidak sengaja dan tidak sadar aku sayangi.
Haha, aku agak menyesal tidak mendengarkan kata orang.
"Witing trisno jalaran soko kulino"--cinta itu tumbuh dari kebiasaan.
Saat itu aku hanya tertawa, hanya menanggapinya sambil lalu. Dan sekarang, aku memakan tawa itu. Mereka benar.
Ah, waktu cepat sekali berlalu ya. Dan sekarangpun aku masih saja rindu padamu. Padahal tidak pernah bertemu.
Asalkan kau tahu. Banyak hal yang aku sesali.
Mengapa kita terlalu asyik terbuai dengan obrolan di pesan singkat?
Mengapa kita sama-sama tidak berani bertatap muka?
Mengapa aku begitu bodoh menorehkan setitik kecewa padamu?
Mengapa kau tidak kunjung memaafkanku?
Mengapa kau tidak mau menjelaskan semuanya?
Mengapa kau malah berbalik membenciku?
Mengapa?
Mengapa?
Banyak mengapa berkelbat di otakku, kau tahu?
Dan satu pertanyaan yang telah lama kupendam.
Apa status kita selama ini? Teman kah? Sahabat kah? Apa arti satu setengah tahun kebersamaan kita?
Namun kau membisu, enggan menjawab.
Kau membiarkanku bertanya tanpa pernah terjawab.
Tapi, kuhargai keputusanmu. Mungkin ini yang terbaik. Mungkin.
Ah, air mataku mulai jatuh lagi. Ya, aku masih cengeng. Haha.
Asalkan kau tahu, aku memang menyesal, kesal, kadang marah karena kau pergi begitu jauh dan tak terjangkau hanya karena kesalahan sepele.
Tapi aku juga bersyukur.
Aku bersyukur kau sempat mampir d hidupku, bersyukur kau mengajariku sabar dalam mencinta tanpa pernah kau sadari, bersyukur untuk semua waktu yang tidak dapat di ulang.
Aku bersyukur untukmu.
Aku juga berdoa. Untukmu lagi-lagi.
Untuk kau. Kau yang mengetuk pintu hatiku nyaring tanpa aku dan kau sadari sama sekali kala itu. Untuk kau, lelaki yang selalu aku kagumi.
Ini hanyalah sebuah surat cinta biasa. Sebuah surat dengan kata-kata biasa.
Namun surat cinta ini luar biasa untukku. Ini adalah surat yang mengirim sepotong rinduku padamu. Sepotong rindu untuk waktu yang lama. Sepotong rindu untuk sepotong kenangan.
Untuk kau yang masih memandang langit yang kupandang, merasakan rintik hujan yang kurasa, menikmati hangatnya mentari yang menyinariku.
Maukah kau kembali suatu saat?
Jangan biarkan aku menggantung asa tanpa sedikitpun harapan.
Tuesday, February 7, 2012
hari ke dua puluh lima : Tebusan Untuk Sepenggal Rindumu
Hai. Mungkin bukan dua hari lagi kita tidak bertemu. Dan entah sudah berapa kali aku melanggar janj-janjiku padamu. Ini hanyalah sebuah balasan dari coretan surat cintamu di waktu lampau yang menggambarkan kekecewaan yang kutorehkan padamu. Maaf. Ya, mungkin kata maaf terlalu basi untukmu. Terlalu sering kuucapkan dan tetap saja aku membuatmu kecewa.
Tapi, asal kau tahu, melanggar janji padamu mungkin akan menjadi hal yang menyenangkan. Haha. Jangan marah dulu. Karena kau berjanji akan mengirimiku surat cinta yang sama setiap harinya jika aku melanggar janjiku lagi. Membaca tulisanmu itu, membuat bibirku mencuat. Menahan senyum dan tawa. Senyum dan tawa dari espresi betapa rindunya aku padamu. Betapa aku merindukan tingkahmu yang kadang konyol itu.
Ini mungkin hanyalah coretan balasan biasa.
Sebagai ungkapan terimakasihku padamu, telah menungguku dengan sabar. Terimakasih sudah mencintaiku dengan sabar dan menyayangiku tanpa lelah.
Maaf untuk semua kekecewaaan yang kutorehkan padamu.
Aku berjanji akan menepati janjiku kali ini.
Shall we meet this aftenoon?
Di tempat biasa dengan cappucino pekat favorit kita berdua.
P.S : Don't be late ! :*
Surat balasan untuk surat cinta @amelianggadhini, "Ini, Mungkin Surat Ancaman"
Tapi, asal kau tahu, melanggar janji padamu mungkin akan menjadi hal yang menyenangkan. Haha. Jangan marah dulu. Karena kau berjanji akan mengirimiku surat cinta yang sama setiap harinya jika aku melanggar janjiku lagi. Membaca tulisanmu itu, membuat bibirku mencuat. Menahan senyum dan tawa. Senyum dan tawa dari espresi betapa rindunya aku padamu. Betapa aku merindukan tingkahmu yang kadang konyol itu.
Ini mungkin hanyalah coretan balasan biasa.
Sebagai ungkapan terimakasihku padamu, telah menungguku dengan sabar. Terimakasih sudah mencintaiku dengan sabar dan menyayangiku tanpa lelah.
Maaf untuk semua kekecewaaan yang kutorehkan padamu.
Aku berjanji akan menepati janjiku kali ini.
Shall we meet this aftenoon?
Di tempat biasa dengan cappucino pekat favorit kita berdua.
P.S : Don't be late ! :*
Surat balasan untuk surat cinta @amelianggadhini, "Ini, Mungkin Surat Ancaman"
Monday, February 6, 2012
my day, my new age!
happy birthday for me!
this is my day!
thanks buat semua temen yang udah ngebuat hari ini the best day ever! thanks juga 30harimenulissuratcinta.blogspot.com sama @adimasimmanuel yang ngepost suratku di hari ultahku. kado terindah :')
sekali lagi makasiih semuanyaaaaa :)
love ya all!
sarah aghnia husna | @saraahaghniaa
this is my day!
thanks buat semua temen yang udah ngebuat hari ini the best day ever! thanks juga 30harimenulissuratcinta.blogspot.com sama @adimasimmanuel yang ngepost suratku di hari ultahku. kado terindah :')
sekali lagi makasiih semuanyaaaaa :)
love ya all!
sarah aghnia husna | @saraahaghniaa
hari ke dua puluh empat : sepasang mata
Aku terpaku mengamati wajahmu. Bukanlah hal yang luar biasa untukku. Aku biasa mengamati wajah-wajah di sekitarku. Tetapi menjadi hal yang tidak biasa saat yang kau amati adalah kau. Ya, kau. Tidak ada yang istimewa darimu. Kulit sawo matang, rambut hitam legam yang lebih sering acak-acakan dari pada rapi, mata sayu dengan kornea cokelat tua seperti orang sakau dan tubuhmu yang jauh dari atletis. Bukan, aku tidak sedang mengolok-olokmu. Atau posturmu. Maaf kalau aku terlalu blak-blakan. Tapi begitulah aku adanya.
Sebenarnya yang sedari tadi aku aku herankan sekaligus aku amati adalah matamu yang gelap dan dalam, seakan menggambarkan kekelaman dan kegalauan di hidupmu yang luar biasa. Entah apa itu, dan entah kenapa aku begitu peduli. Padahal kita baru saja mengenal, masih bisa dihitung dengan jari-jari di kedua belah tanganku baru berapa jam yang lalu kita baru saja berpisah. Baru saja kita kebetulan bertemu dan berkenalan secara tidak langsung. Kau temannya si anu temanku dan aku pun temannya si anu temanmu itu. Apalah itu.
Ada getar aneh di hatiku sampai-sampai aku begitu terpaku melihatmu. Ah, aku sendiri tidak tahu. Mengapa rasanya aku ingin sekali menyelam ke dalam pedihnya matamu itu dan berbuat sesuatu untukmu. Berbuat sesuatu untuk meredakan gejolak hatimu, menemanimu berbagi kekelaman yang kau rasakan. Perasaan apakah ini? Apakah hanya sekedar rasa simpatik? Ataukah cinta? Entahlah, aku bukan ahli dalam masalah seperti itu.
Namun, perlu kuakui. Kau adalah lelaki aneh pertama yang mengaduk-aduk hatiku. Kau membuaiku dalam tatapanmu yang dingin dan dalam itu. Aneh memang, kau tak banyak bicara namun rasanya matamu mampu menjelaskan semuanya. Semuanya. Perasaanmu, kehidupanmu, kepedihanmu. Mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin ini hanya perasaan sepihak saja. Mungkin juga hanya gejolak sesaat. Entahlah, aku tidak tahu. Berusaha tidak mau tahu, tapi tatapanmu itu seakan mengekor ke dalam mimpiku, berkelbat sesekali dalam pikiranku dan membuatku sulit untuk tidur malam tadi.
Ah, senyummu juga. Senyum termanis yang pernah kulihat. Dari sosok acak-acakan sepertimu, dari orang yang tampak tidak peduli dengan sekeliling--berkebalikan denganku. Senyum dan tawa palsu yang kau tunjukkan pada teman-temanmu untuk menutupi segala asamu yang terpendam.
Kau, lelaki dengan sepasang mata coklat yang tua, yang mampu memikat hatiku dalam gelapnya malam. Mencurinya tanpa jejak untuk kuambil kembali. Lelaki dengan senyum dan tawa palsu termanis yang pernah kulihat.
Bolehkah aku menggantungkan asaku padamu, hei, kau pemilik sepasang mata kelam?
untuk sepasang mata yang mengaduk malamku.
Sebenarnya yang sedari tadi aku aku herankan sekaligus aku amati adalah matamu yang gelap dan dalam, seakan menggambarkan kekelaman dan kegalauan di hidupmu yang luar biasa. Entah apa itu, dan entah kenapa aku begitu peduli. Padahal kita baru saja mengenal, masih bisa dihitung dengan jari-jari di kedua belah tanganku baru berapa jam yang lalu kita baru saja berpisah. Baru saja kita kebetulan bertemu dan berkenalan secara tidak langsung. Kau temannya si anu temanku dan aku pun temannya si anu temanmu itu. Apalah itu.
Ada getar aneh di hatiku sampai-sampai aku begitu terpaku melihatmu. Ah, aku sendiri tidak tahu. Mengapa rasanya aku ingin sekali menyelam ke dalam pedihnya matamu itu dan berbuat sesuatu untukmu. Berbuat sesuatu untuk meredakan gejolak hatimu, menemanimu berbagi kekelaman yang kau rasakan. Perasaan apakah ini? Apakah hanya sekedar rasa simpatik? Ataukah cinta? Entahlah, aku bukan ahli dalam masalah seperti itu.
Namun, perlu kuakui. Kau adalah lelaki aneh pertama yang mengaduk-aduk hatiku. Kau membuaiku dalam tatapanmu yang dingin dan dalam itu. Aneh memang, kau tak banyak bicara namun rasanya matamu mampu menjelaskan semuanya. Semuanya. Perasaanmu, kehidupanmu, kepedihanmu. Mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin ini hanya perasaan sepihak saja. Mungkin juga hanya gejolak sesaat. Entahlah, aku tidak tahu. Berusaha tidak mau tahu, tapi tatapanmu itu seakan mengekor ke dalam mimpiku, berkelbat sesekali dalam pikiranku dan membuatku sulit untuk tidur malam tadi.
Ah, senyummu juga. Senyum termanis yang pernah kulihat. Dari sosok acak-acakan sepertimu, dari orang yang tampak tidak peduli dengan sekeliling--berkebalikan denganku. Senyum dan tawa palsu yang kau tunjukkan pada teman-temanmu untuk menutupi segala asamu yang terpendam.
Kau, lelaki dengan sepasang mata coklat yang tua, yang mampu memikat hatiku dalam gelapnya malam. Mencurinya tanpa jejak untuk kuambil kembali. Lelaki dengan senyum dan tawa palsu termanis yang pernah kulihat.
Bolehkah aku menggantungkan asaku padamu, hei, kau pemilik sepasang mata kelam?
untuk sepasang mata yang mengaduk malamku.
Sunday, February 5, 2012
hari ke dua puluh tiga : ini (mungkin) bukan surat cinta
Untuk kamu, seseorang yang tak asing lagi di hidupku.
Hei, aku tahu kau pasti heran. Baru tadi pagi kita bertemu dan sorenya kau melihat surat ini. Kau pasti berpikir, rasanya kuno sekali aku harus menulis surat seperti ini untukmu. Padahal, setiap hari kita bertemu, kita mengobrol, kita juga bisa saling sms atau ngobrol lewat jejaring sosial. Tapi untukku, ini cara terbaik. Dengan surat ini aku ingin kau tahu, aku tidak main-main. aku tidak sedang bercanda.
Hei kau yang tumbuh dewasa bersamaku, sahabatku sejak kecil dan masih menjadi sahabatku sampai detik ini. Dan aku berharap setelah ini pun hubungan kita tidak akan banyak berubah.
Kita selalu duduk di bangku sekolah yang sama. Keakraban kita selalu terjalin karena orang tua kita bersahabat baik. Hubungan itupun menurun kepada kita. Kitapun bersahabat dekat. Kita berjanji untuk saling berbagi rahasia dan berbagi mimpi-mimpi kita. Kita masih dan selalu begitu. Tidak ada rahasia di antara kita berdua.
Tapi, maafkan aku, sahabatku. Aku berbohong. Aku tidak menepati janjiku. Aku menyimpan sebuah rahasia darimu rapat-rapat. Aku takut jika kau tahu rahasia ini, kau akan benci padaku dan kita tidak akan bisa selamanya seperti ini. Ya, aku memang picik kalau kau berpikir begitu.
Diam-diam, aku mulai jatuh cinta padamu. Lelaki yang dulu tingginya hanya setelingaku dan sekarang aku hanya sepundaknya. Lelaki yang tambut ikalnya menari bersama angin kala ia berlari. Lelaki yang senyumnya selalu menularkan kebahagiaan. Lelaki yang tak pernah menunjukkan kesedihannya di depan banyak orang. Sekaligus lelaki yang banyak menyakitiku tanpa ia sadari.
Sadarkah kau, kau membuatku begitu istimewa. Kau hanya menceritakan cita-cita terpendammu padaku, kau hanya menceritakan perasaanmu kepadaku, hanya menceritakan kegalauanmu kepadaku. Dan kau juga hanya menceritakan gadis yang kau sukai padaku.
Ah, mungkin suatu hari aku bisa menjadi seorang artis. Bukankah aku sangat pandai bersandiwara di hadapanmu? Aku memasang banyak topeng di hadapanmu. Apalagi saat berusaha tertarik dengan obrolanmu tentang gadis yang kau sukai. Berusaha menahan tangis saat gadis itu membalas pertanyaanmu. Berusaha terlihat bahagia saat waktumu untukku berkurang karena kau mulai berkencan. Berusaha tidak telihat bahagia sekaligus berusaha ikut bersedih saat kau putus.
Tidak, aku tidak pernah menyalahkanmu. Mungkin kau hanya terlalu polos untuk berpikir bahwa sahabat kecilmu ini bisa memiliki perasaan lain kepadamu. Mungkin aku juga terlalu naif berpikir kau akan bersamaku selamanya. Mungkin ketakutanku sajalah yang menahan hatiku untuk jujur padamu. Aku takut. Aku takut kau meninggalkanku setelah ini.
Taukah kau? Aku tidak bisa tidur kemarin malam. Aku sudah tidah tahan untuk menahan semuanya sendiri. Semua yang kupendam seakan siap meledak jika terus-terusan kututupi darimu. Jadi inilah, aku sudah tidak sanggup menahan semuanya sendiri.
Ini bukan surat cinta. Mungkin bukan. Ini mungkin bukan surat cinta. Hanya sebuah ungkapan dari seorang sahabat yang telah lama memendam perasaan terhadap sahabatnya sendiri. Hanya sebuah pelepas rindu-rindu yang menyelinap saat kau jauh dariku. Hanya sekedar "pelampiasan" perasaan yang tidak pernah terbalas.
Sahabat kecilku, aku berharap kau tidak akan pernah merubah perilakmu terhadapku setelah ini. Aku berharap kau tetap akan mencubit sayang kedua belah pipiku yang tembam saat kau gemas, menyentil hidungku saat kau kehabisan kata untuk melibat omonganku, memelukku erat saat aku sedih, memainkan tanganku saat kau merasa gugup, dan menjemputku di rumah hanya untuk sekedar melewatkan waktu bersama.
Untukmu, lelaki yang memancarkan kehangatan di setiap perilakumu. Aku sayang padamu.
Sahabatmu, pemeran drama kehidupan terbaik di hadapanmu.
PS: Telepon aku setelah kau selesai baca, ya.
Hei, aku tahu kau pasti heran. Baru tadi pagi kita bertemu dan sorenya kau melihat surat ini. Kau pasti berpikir, rasanya kuno sekali aku harus menulis surat seperti ini untukmu. Padahal, setiap hari kita bertemu, kita mengobrol, kita juga bisa saling sms atau ngobrol lewat jejaring sosial. Tapi untukku, ini cara terbaik. Dengan surat ini aku ingin kau tahu, aku tidak main-main. aku tidak sedang bercanda.
Hei kau yang tumbuh dewasa bersamaku, sahabatku sejak kecil dan masih menjadi sahabatku sampai detik ini. Dan aku berharap setelah ini pun hubungan kita tidak akan banyak berubah.
Kita selalu duduk di bangku sekolah yang sama. Keakraban kita selalu terjalin karena orang tua kita bersahabat baik. Hubungan itupun menurun kepada kita. Kitapun bersahabat dekat. Kita berjanji untuk saling berbagi rahasia dan berbagi mimpi-mimpi kita. Kita masih dan selalu begitu. Tidak ada rahasia di antara kita berdua.
Tapi, maafkan aku, sahabatku. Aku berbohong. Aku tidak menepati janjiku. Aku menyimpan sebuah rahasia darimu rapat-rapat. Aku takut jika kau tahu rahasia ini, kau akan benci padaku dan kita tidak akan bisa selamanya seperti ini. Ya, aku memang picik kalau kau berpikir begitu.
Diam-diam, aku mulai jatuh cinta padamu. Lelaki yang dulu tingginya hanya setelingaku dan sekarang aku hanya sepundaknya. Lelaki yang tambut ikalnya menari bersama angin kala ia berlari. Lelaki yang senyumnya selalu menularkan kebahagiaan. Lelaki yang tak pernah menunjukkan kesedihannya di depan banyak orang. Sekaligus lelaki yang banyak menyakitiku tanpa ia sadari.
Sadarkah kau, kau membuatku begitu istimewa. Kau hanya menceritakan cita-cita terpendammu padaku, kau hanya menceritakan perasaanmu kepadaku, hanya menceritakan kegalauanmu kepadaku. Dan kau juga hanya menceritakan gadis yang kau sukai padaku.
Ah, mungkin suatu hari aku bisa menjadi seorang artis. Bukankah aku sangat pandai bersandiwara di hadapanmu? Aku memasang banyak topeng di hadapanmu. Apalagi saat berusaha tertarik dengan obrolanmu tentang gadis yang kau sukai. Berusaha menahan tangis saat gadis itu membalas pertanyaanmu. Berusaha terlihat bahagia saat waktumu untukku berkurang karena kau mulai berkencan. Berusaha tidak telihat bahagia sekaligus berusaha ikut bersedih saat kau putus.
Tidak, aku tidak pernah menyalahkanmu. Mungkin kau hanya terlalu polos untuk berpikir bahwa sahabat kecilmu ini bisa memiliki perasaan lain kepadamu. Mungkin aku juga terlalu naif berpikir kau akan bersamaku selamanya. Mungkin ketakutanku sajalah yang menahan hatiku untuk jujur padamu. Aku takut. Aku takut kau meninggalkanku setelah ini.
Taukah kau? Aku tidak bisa tidur kemarin malam. Aku sudah tidah tahan untuk menahan semuanya sendiri. Semua yang kupendam seakan siap meledak jika terus-terusan kututupi darimu. Jadi inilah, aku sudah tidak sanggup menahan semuanya sendiri.
Ini bukan surat cinta. Mungkin bukan. Ini mungkin bukan surat cinta. Hanya sebuah ungkapan dari seorang sahabat yang telah lama memendam perasaan terhadap sahabatnya sendiri. Hanya sebuah pelepas rindu-rindu yang menyelinap saat kau jauh dariku. Hanya sekedar "pelampiasan" perasaan yang tidak pernah terbalas.
Sahabat kecilku, aku berharap kau tidak akan pernah merubah perilakmu terhadapku setelah ini. Aku berharap kau tetap akan mencubit sayang kedua belah pipiku yang tembam saat kau gemas, menyentil hidungku saat kau kehabisan kata untuk melibat omonganku, memelukku erat saat aku sedih, memainkan tanganku saat kau merasa gugup, dan menjemputku di rumah hanya untuk sekedar melewatkan waktu bersama.
Untukmu, lelaki yang memancarkan kehangatan di setiap perilakumu. Aku sayang padamu.
Sahabatmu, pemeran drama kehidupan terbaik di hadapanmu.
PS: Telepon aku setelah kau selesai baca, ya.
Saturday, February 4, 2012
hari ke dua puluh dua : untuk lelaki seberang jendela
Selamat pagi dunia, selamat pagi juga untukmu.
Hari ini pun kau pasti memulai harimu dengan senyuman dan dendang riang dari mulutmu. Mungkin saat ini kau sedang sarapan santai dengan ibu dan kakak perempuanmu. Mungkinkah kau sedang menyapa ayahmu di balik kabel telepon? Atau malah masih meringkuk di balik selimut tebal karena kelelahan menonton bola semalam? Apakah ada kemungkinan kau sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah dengan mobilmu itu? Aku meragukan yang terakhir. Haha.
Jangan kaget saat kau melihat surat ini, apalagi tertawa renyah seperti yang biasa kau lakukan saat melihat kekonyolanku. Ini bukan lelucon, kau tahu? Aku serius. Dua rius malah.
Hei, lelaki seberang jendela. Apa kabarmu sekarang? Kudengar bandmu sudah manggung di beberapa kota. Wah, pasti banyak sekali perempuan di sekelilingmu. Apa di antara mereka ada yang mengenalmu seperti aku?
Ah, andai kau tahu. Aku selalu ingat saat-saat kita tumbuh bersama. Pertemuan pertama yang manis, gelak tawa saat kita bermain dulu, sampai sekarang aku tak pernah lupa.
Mungkin kau menganggap semuanya sambil lalu. Sepele. Tapi buatku, semua begitu berharga.
Ingat pertama kali kita bertemu di ayunan sore itu? Kita baru berumur tujuh tahun. Saat itu, orang tuaku sedang bertengkar hebat di rumah. Lalu kau datang, duduk di sebelahku dan memberiku sebuah permen. Saat itu kau bilang kau sering melihatku sendiri di ayunan saat senja datang, lalu pulang menjelang petang. Kau bilang sebuah permen bisa membuatku lebih baik. Benar saja, manisnya permen itu, sedikit melunturkan pahitnya hariku.
Kau tidak akan mengira, sampai saat ini, saat hariku buruk, aku selalu mengulum permen untuk sedikit memperbaiki moodku.
Sejak hari itu, setiap hari seusai kau bermain bola bersama teman-temanmu, kau selalu menemaniku. Kau selalu mendorong ayunanku dan berbagi cerita. Setelah lelah, kau duduk di sampingku dan dengan sabar mendengarkan keluh kesahku.
Kau juga mengenalkan teman-temanmu padaku, mengajakku main ke rumahmu, dan mengenalkanku pada keluargamu yang hangat.
Kau juga lelaki pertama yang menceritakan cita-citamu padaku. Menjadi seorang musisi dan konduktor, aku ingat.
Oh, iya. Aku ingat saat ulang tahunmu yang ke 15, ayahmu membelikanmu sebuah iPod. Kau berlari kecil ke rumahku, memanggil-manggil namaku dari luar. Lalu, kau menggandengku ke ayunan kita dan memasangkan sebelah headsetnya untukku.
Semakin lama, rasanya kau semakin jauh.
Kau selalu pulang malam, latihan band kata ibumu. Kadang, saat aku hendak mampir, kau sudah bersiap pergi entah ke mana. Menjemput kekasih barumu kah?
Saat kebetulan bertemu, kau dan aku jadi canggung. Namun satu yang aku syukuri, kebiasaanmu mengacak rambutku tidak berubah. Sambil nyengir kau kelalu berkata agar aku tetap semangat.
Tahukah kau? Aku rindu sekali denganmu. Aku rindu saat kau menggandeng tangan kecilku pulang ke rumah, atau saat kau mengajakku balapan sepeda setiap sore.
Tanpa aku sadari, aku sayang sekali padamu.
Hei lelaki kecil yang sudah beranjak dewasa, maukah kau datang sore ini ke ayunan kita?
Aku menunggumu.
Untuk lelaki baik hati di seberang jendela rumahku, dari gadis di ayunan sore itu.
Hari ini pun kau pasti memulai harimu dengan senyuman dan dendang riang dari mulutmu. Mungkin saat ini kau sedang sarapan santai dengan ibu dan kakak perempuanmu. Mungkinkah kau sedang menyapa ayahmu di balik kabel telepon? Atau malah masih meringkuk di balik selimut tebal karena kelelahan menonton bola semalam? Apakah ada kemungkinan kau sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah dengan mobilmu itu? Aku meragukan yang terakhir. Haha.
Jangan kaget saat kau melihat surat ini, apalagi tertawa renyah seperti yang biasa kau lakukan saat melihat kekonyolanku. Ini bukan lelucon, kau tahu? Aku serius. Dua rius malah.
Hei, lelaki seberang jendela. Apa kabarmu sekarang? Kudengar bandmu sudah manggung di beberapa kota. Wah, pasti banyak sekali perempuan di sekelilingmu. Apa di antara mereka ada yang mengenalmu seperti aku?
Ah, andai kau tahu. Aku selalu ingat saat-saat kita tumbuh bersama. Pertemuan pertama yang manis, gelak tawa saat kita bermain dulu, sampai sekarang aku tak pernah lupa.
Mungkin kau menganggap semuanya sambil lalu. Sepele. Tapi buatku, semua begitu berharga.
Ingat pertama kali kita bertemu di ayunan sore itu? Kita baru berumur tujuh tahun. Saat itu, orang tuaku sedang bertengkar hebat di rumah. Lalu kau datang, duduk di sebelahku dan memberiku sebuah permen. Saat itu kau bilang kau sering melihatku sendiri di ayunan saat senja datang, lalu pulang menjelang petang. Kau bilang sebuah permen bisa membuatku lebih baik. Benar saja, manisnya permen itu, sedikit melunturkan pahitnya hariku.
Kau tidak akan mengira, sampai saat ini, saat hariku buruk, aku selalu mengulum permen untuk sedikit memperbaiki moodku.
Sejak hari itu, setiap hari seusai kau bermain bola bersama teman-temanmu, kau selalu menemaniku. Kau selalu mendorong ayunanku dan berbagi cerita. Setelah lelah, kau duduk di sampingku dan dengan sabar mendengarkan keluh kesahku.
Kau juga mengenalkan teman-temanmu padaku, mengajakku main ke rumahmu, dan mengenalkanku pada keluargamu yang hangat.
Kau juga lelaki pertama yang menceritakan cita-citamu padaku. Menjadi seorang musisi dan konduktor, aku ingat.
Oh, iya. Aku ingat saat ulang tahunmu yang ke 15, ayahmu membelikanmu sebuah iPod. Kau berlari kecil ke rumahku, memanggil-manggil namaku dari luar. Lalu, kau menggandengku ke ayunan kita dan memasangkan sebelah headsetnya untukku.
Semakin lama, rasanya kau semakin jauh.
Kau selalu pulang malam, latihan band kata ibumu. Kadang, saat aku hendak mampir, kau sudah bersiap pergi entah ke mana. Menjemput kekasih barumu kah?
Saat kebetulan bertemu, kau dan aku jadi canggung. Namun satu yang aku syukuri, kebiasaanmu mengacak rambutku tidak berubah. Sambil nyengir kau kelalu berkata agar aku tetap semangat.
Tahukah kau? Aku rindu sekali denganmu. Aku rindu saat kau menggandeng tangan kecilku pulang ke rumah, atau saat kau mengajakku balapan sepeda setiap sore.
Tanpa aku sadari, aku sayang sekali padamu.
Hei lelaki kecil yang sudah beranjak dewasa, maukah kau datang sore ini ke ayunan kita?
Aku menunggumu.
Untuk lelaki baik hati di seberang jendela rumahku, dari gadis di ayunan sore itu.
hari ke dua puluh satu yang terlewwat
permintaan maaf saya ajukan pada semuanya karna ketidak hadiran tulisan saya di hari ke dua puluh satu. semoga hari berikutnya tidak akan terlewat lagi. terimakasih.
sarah aghnia husna | @saraahaghnia
sarah aghnia husna | @saraahaghnia
Thursday, February 2, 2012
hari ke dua puluh : sebuah dilema
Hai, bawel. Semoga kamu masih mau kupanggil begitu setelah membaca ini.
Kau mungkin tidak akan menyobek, membakar atau meremas surat ini sampai rusak.
Haha. Ini hanyalah surat maya.
Aku sudah membayangkan ekspresi wajahmu saat membaca ini. Dahimu akan mengerut dengan alis yang hampir menyatu.
Ya, inilah aku, dengan segala yang selama ini kupendam.
Kita bertemu karena sebuah pertengkaran konyol, kamu ingat? Hanya gara-gara sebuah karet penghapus yang nyasar di kepalaku kala itu. Dan setelah itu, kita jadi bermusuhan dan saling mencibir setiap bertemu.
Ah, andai kau tahu. Aku kalang kabut mencari kata-kata diantara jutaan kata untuk menulis ini. Menulis surat cinta bukan keahlianku, kau tahu. Aku lebih pandai bersilat lidah denganmu di sekolah dibanding harus merangkai kata-kata manis seperti ini.
Karena keributan dan pertengkaran-pertengkaran kecil itu, kita jadi semakin dekat. Aku terlalu nyaman dan terbiasa di dekatmu. Kita tumbuh dewasa bersama, menggantikan pertengkaran-pertengkaran yang lalu dengan candaan konyol yang membuatku kadang miris.
Kita berjalan bersama, terus bersama. Terlalu lama, mungkin.
Saat sebuah persimpangan datang dan menghentikan langkah kita, ingin rasanya aku bertanya, jalan mana yang akan kau pilih. Kita pilih.
Tapi aku terlalu takut. Komitmen seperti menjadi kata yang terlarang diucapkan.
Kita terlalu lama asyik terbuai dengan kesenangan tanpa batas dan komitmen ini.
Andai kau tahu, aku merindukan saat-saat kau menjitak kepalaku dulu. Ada desiran aneh yang menggelitikku saat kau mengacak rambutku. Aku merasakan pipiku memanas saat wangi parfummmu merasuk ke hidungku.
Aku ingin selamanya seperti itu. Andai ada tidaknya sebuah komitmen tidak mempengaruhi langkah kita.
Di persimpangan itu, sekarang, aku bertanya padamu. Jalan mana yang akan kau pilih?
Aku lelah menyimpan semua rasaku sendiri. Aku lelah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semuanya seolah menumpuk menjadi sebuah dilema panjang yang kututup rapat-rapat darimu.
Aku berharap, kita bisa melangkah bersama lagi, dengan sebuah komitmen baru.
Aku berharap hari-hari dilemaku musnah.
Aku berharap, kau takkan semakin tidak terjangkau untukku.
your ex-enemy, your secret admirer.
Kau mungkin tidak akan menyobek, membakar atau meremas surat ini sampai rusak.
Haha. Ini hanyalah surat maya.
Aku sudah membayangkan ekspresi wajahmu saat membaca ini. Dahimu akan mengerut dengan alis yang hampir menyatu.
Ya, inilah aku, dengan segala yang selama ini kupendam.
Kita bertemu karena sebuah pertengkaran konyol, kamu ingat? Hanya gara-gara sebuah karet penghapus yang nyasar di kepalaku kala itu. Dan setelah itu, kita jadi bermusuhan dan saling mencibir setiap bertemu.
Ah, andai kau tahu. Aku kalang kabut mencari kata-kata diantara jutaan kata untuk menulis ini. Menulis surat cinta bukan keahlianku, kau tahu. Aku lebih pandai bersilat lidah denganmu di sekolah dibanding harus merangkai kata-kata manis seperti ini.
Karena keributan dan pertengkaran-pertengkaran kecil itu, kita jadi semakin dekat. Aku terlalu nyaman dan terbiasa di dekatmu. Kita tumbuh dewasa bersama, menggantikan pertengkaran-pertengkaran yang lalu dengan candaan konyol yang membuatku kadang miris.
Kita berjalan bersama, terus bersama. Terlalu lama, mungkin.
Saat sebuah persimpangan datang dan menghentikan langkah kita, ingin rasanya aku bertanya, jalan mana yang akan kau pilih. Kita pilih.
Tapi aku terlalu takut. Komitmen seperti menjadi kata yang terlarang diucapkan.
Kita terlalu lama asyik terbuai dengan kesenangan tanpa batas dan komitmen ini.
Andai kau tahu, aku merindukan saat-saat kau menjitak kepalaku dulu. Ada desiran aneh yang menggelitikku saat kau mengacak rambutku. Aku merasakan pipiku memanas saat wangi parfummmu merasuk ke hidungku.
Aku ingin selamanya seperti itu. Andai ada tidaknya sebuah komitmen tidak mempengaruhi langkah kita.
Di persimpangan itu, sekarang, aku bertanya padamu. Jalan mana yang akan kau pilih?
Aku lelah menyimpan semua rasaku sendiri. Aku lelah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semuanya seolah menumpuk menjadi sebuah dilema panjang yang kututup rapat-rapat darimu.
Aku berharap, kita bisa melangkah bersama lagi, dengan sebuah komitmen baru.
Aku berharap hari-hari dilemaku musnah.
Aku berharap, kau takkan semakin tidak terjangkau untukku.
your ex-enemy, your secret admirer.
Wednesday, February 1, 2012
hari ke sembilan belas : rahasia hujan
Hai, kau-yang-aku-tidak-tahu-siapa-namamu.
Kau pasti heran melihat surat yang kutulis.
Surat tanpa nama, tanpa amplop merah jambu seperti dalam novel-novel yang biasa dibaca oleh adikmu. Ingatanku tidak buruk, bukan? Bahkan semua kata yang terucap dari mulutmu masih terekam jelas dalam memori otakku. Aneh memang. Kita baru sehari bertemu dan aku langsung merasakan debaran aneh yang menyergapku di kala wajahmu lewat di benakku.
Ah, andai saja aku bisa mengenalmu lebih jauh. Tentu akan jauh lebih menyenangkan. Matamu yang seperti biji kenari itu memancarkan kehangatan, membuaiku hingga tak berdaya. Alismu yang tebal semakin menegaskan kharisma yang kau punya. Dan lesung pipit yang selalu muncul saat kau tertawa itu, semakin membuatku merasakan aliran listrik aneh yang belum pernh aku rasakan sebelumnya.
Kala itu hujan turun deras, kau ingat? Ya, aku gadis itu. Gadis dengan penampilan berantakan karena hujan, juga karena sifat cuekku sendiri. Rambut basah dan mencuat, kaos biru, celana jeans belel dan sepatu kets. Gadis yang menggerutu di sebelahmu, mengutuk setiap tetes air hujan yang terlihat jatuh dari balik kaca. Kau menyapaku hangat dan bertanya kenapa aku benci hujan. Dengan sabar kau mendengarkan ocehanku. Sempat aku menangkap sang resepsionis tertawa kecil melihat tingkahku. Ah, sudahlah, bukan saatnya aku bercerita padamu seberapa inginnya aku melempar sang resepsionis sialan itu dengan sepatu.
Saat kau melihatku mulai lelah mengoceh, tiba-tiba kau berceletuk,
Aku ingat. Aku ingat kau bercerita banyak tentang adik perempuanmu yang sangat suka berkhayal dan membaca buku. Dan ibumu yang sabar dan sangat cantik. Juga yahmu yang keras namun sebenarnya penyayang dan penuh kejutan.
Saat aku terlalu sibuk menikmati tawa yang timbul saat sesekali kau mengeluarkan candaan, saat kau mengeluarkan wajah konyolmu, kau menghentikan cerita-ceritamu dan menyodorkan sebuah payung padaku.
Tapi kau menjadi misteri. Dan akan selalu begitu. Iya, kan?
Aku tahu, surat ini tidak akan pernah kau baca. Surat ini dari awal memang tidak akan pernah sampai ke tanganmu. Karena keesokannya saat aku datang untuk menemuimu dan mengembalikan payungmu, sang resepionis sialan itu mencegatku dan menepuk pundakku, memberiku sebuah kabar yang tidak ingin aku dengar.
Aku hanya ingin kau tahu, aku selalu mendoakanmu dimanapun kau berada. Karena hanya dengan cara itu, aku bisa memelukmu dari jauh.
Kala hujan turun, aku berharap maaikat-malaikat kecil itu mendengatkan doaku dan membisikkan salamku untukmu. Untukmu.
Lelaki hujan yang mengubah cara pandangku, yang mencuri hatiku tanpa pernah dipulangkan. Lelaki yang belakangan kuketahui namanya. Lelaki yang kini telah tenang dan terbebas dari rasa sakit luar biasa karena kanker yang menggerogotinya.
Aku selalu bersyukur Tuhan sempat mempertemukan kita. Di hari terakhirmu melihat lorong-lorong rumah sakit sialan itu. Tunggu aku di sana, ya. Kelak kita pasti akan bertemu lagi. Dan aku kembali bisa mmiliki separuh hatiku yang kau curi kala itu. Sampai saatnya tiba, biarkan hujan menutup rapat rahasia pertemuan kita.
untukmu lelaki hujanku
dari gadis yang separuh hatinya tercuri saat hujan.
Kau pasti heran melihat surat yang kutulis.
Surat tanpa nama, tanpa amplop merah jambu seperti dalam novel-novel yang biasa dibaca oleh adikmu. Ingatanku tidak buruk, bukan? Bahkan semua kata yang terucap dari mulutmu masih terekam jelas dalam memori otakku. Aneh memang. Kita baru sehari bertemu dan aku langsung merasakan debaran aneh yang menyergapku di kala wajahmu lewat di benakku.
Ah, andai saja aku bisa mengenalmu lebih jauh. Tentu akan jauh lebih menyenangkan. Matamu yang seperti biji kenari itu memancarkan kehangatan, membuaiku hingga tak berdaya. Alismu yang tebal semakin menegaskan kharisma yang kau punya. Dan lesung pipit yang selalu muncul saat kau tertawa itu, semakin membuatku merasakan aliran listrik aneh yang belum pernh aku rasakan sebelumnya.
Kala itu hujan turun deras, kau ingat? Ya, aku gadis itu. Gadis dengan penampilan berantakan karena hujan, juga karena sifat cuekku sendiri. Rambut basah dan mencuat, kaos biru, celana jeans belel dan sepatu kets. Gadis yang menggerutu di sebelahmu, mengutuk setiap tetes air hujan yang terlihat jatuh dari balik kaca. Kau menyapaku hangat dan bertanya kenapa aku benci hujan. Dengan sabar kau mendengarkan ocehanku. Sempat aku menangkap sang resepsionis tertawa kecil melihat tingkahku. Ah, sudahlah, bukan saatnya aku bercerita padamu seberapa inginnya aku melempar sang resepsionis sialan itu dengan sepatu.
Saat kau melihatku mulai lelah mengoceh, tiba-tiba kau berceletuk,
"Aku suka sekali hujan. Di setiap tetesnya, Tuhan mengirimkan malaikat-malaikat kecil-Nya untuk mengabulkan doaku"Aku terenggun. Kau membuatku melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ada sejenis medan magnet yang membuatku membantah dan melibat ucapanmu, atau mengoceh seperti kebiasaanku. Aku hanya mendengarkanmu dan suara hujan di luar sana.
Aku ingat. Aku ingat kau bercerita banyak tentang adik perempuanmu yang sangat suka berkhayal dan membaca buku. Dan ibumu yang sabar dan sangat cantik. Juga yahmu yang keras namun sebenarnya penyayang dan penuh kejutan.
Saat aku terlalu sibuk menikmati tawa yang timbul saat sesekali kau mengeluarkan candaan, saat kau mengeluarkan wajah konyolmu, kau menghentikan cerita-ceritamu dan menyodorkan sebuah payung padaku.
"Pulanglah, sudah larut. Terima kasih sudah menemaniku"Kau mengecup pipiku lembut--hal terlarang yang tak pernah aku ijinkan siapapun melakukannya, kecuali ayahku. Tapi aku hany diam dan menikmati setiap detiknya. Kau tersenyum hangat dan melambaikan tangan, berjalan menjauh ke arah lorong gelap itu. Lorong yang tidak pernah aku suka sejak kecil. Bahkan sampai tadi pagi pun, aku masih tidak menyukainya, hanya terpaksa datang untuk sebuah rutinitas. Aku hanya menuruti kata-katamu seakan terhipnotis. Padahal banyak hal yang ingin kuketahui tentangmu--seperti siapa namamu, bagaimana keseharianmu, atau apakah kau juga suka kopi pekat yang biasa kuminum setiap pagi dengan asap mengepul.
Tapi kau menjadi misteri. Dan akan selalu begitu. Iya, kan?
Aku tahu, surat ini tidak akan pernah kau baca. Surat ini dari awal memang tidak akan pernah sampai ke tanganmu. Karena keesokannya saat aku datang untuk menemuimu dan mengembalikan payungmu, sang resepionis sialan itu mencegatku dan menepuk pundakku, memberiku sebuah kabar yang tidak ingin aku dengar.
Aku hanya ingin kau tahu, aku selalu mendoakanmu dimanapun kau berada. Karena hanya dengan cara itu, aku bisa memelukmu dari jauh.
Kala hujan turun, aku berharap maaikat-malaikat kecil itu mendengatkan doaku dan membisikkan salamku untukmu. Untukmu.
Lelaki hujan yang mengubah cara pandangku, yang mencuri hatiku tanpa pernah dipulangkan. Lelaki yang belakangan kuketahui namanya. Lelaki yang kini telah tenang dan terbebas dari rasa sakit luar biasa karena kanker yang menggerogotinya.
Aku selalu bersyukur Tuhan sempat mempertemukan kita. Di hari terakhirmu melihat lorong-lorong rumah sakit sialan itu. Tunggu aku di sana, ya. Kelak kita pasti akan bertemu lagi. Dan aku kembali bisa mmiliki separuh hatiku yang kau curi kala itu. Sampai saatnya tiba, biarkan hujan menutup rapat rahasia pertemuan kita.
untukmu lelaki hujanku
dari gadis yang separuh hatinya tercuri saat hujan.
Subscribe to:
Comments (Atom)