Untuk Mama,
di rumah.
Ma, saat saya terpikir menulis surat ini adalah saat kita menengok album foto beberapa tahun yang lalu waktu kita liburan ke Bromo. Saat itu, saya melihat mata mama berkaca-kaca. Mungkin mama terharu, betapa cepat waktu berjalan menyalip kita.
Ma, saya mau minta maaf. Akhir-akhir ini saya membuat mama dan ayah tentunya kecewa. Maafkan saya, saya tidak bermaksud begitu. Saya akan berusaha lebih baik lagi. Saya juga mau minta maaf perkara semenjak saya jauh dari rumah, saya jarang pulang untuk menengok. Sebenarnya, bukan hanya waktu dan keadaan yang mempersulit. Saya juga takut, saya takut merasakan keengganan kembali ke kota itu untuk mengais ilmu lagi. Sungguh, rumah membuat saya betah berlama-lama pulang. Ia menjadi pisau bermata dua, madu sekaligus racun bagi saya. Pulang itu candu. Bahkan sekarang saat saya betlibur di rumah, saya mulai merasakan keengganan itu lagi.
Ma, maaf saya memang lebih sulit untuk bicara langsung perkara begini. Saya lebih fasih menerjemahkannya dalam kata. Terima kasih untuk semua pengertian dan kasihmu selama ini. Semoga Tuhan selalu menjaga dan membalas kebaikanmu.Amin.
Anakmu, Sarah.
No comments:
Post a Comment
saya tidak keberatan dengan komentar :D