Entah saya yang sentimentil, atau memang ada yang janggal dengan bangsa ini. Mungkin jika istilah bangsa masih terlalu besar, setidaknya manusia-manusia dalam kota yang saya singgahi. Dua hari berturut-turut saya berkecimpung di perjalanan, di jalan penuh lalu lalang manusia. Dan di jalanan itu pula, saya melihat agaknya kepedulian kita semakin terkikis.
: Kasus Pertama.
Siang itu, saya hendak kembali ke kos setelah membeli beberapa barang di area yang cukup ramai kendaraan. Setelah lampu merah di sebuah perempatan, ada satu kemacetan kecil yang tak jelas sebab musababnya. Setelah ditelusuri, ternyata ada sebuah mobil taxi yang mogok di tengah jalan. Si sopir berusaha sekua tenaga--sampai urat-urat di lehernya menonjol mengerikan--untuk meminggirkan mobilnya. Dan mirisnya, tidak satupun pengendara turun untuk membantu, termasuk saya yang dengan bodohnya melanglang begitu saja sambil terpana. Kebanyakan pengendara hanya mengklakson keras si bapak sopir malang dan membuat jalanan semakin runyam.
: Kasus kedua, Hari yang Sama.
Kali ini saya kebetulan sedang menjadi salah seorang penumpang di kendaraan teman saya. Hari itu, saya turut menemani beberapa teman untuk membeli barang. Ketika kami melewati sebuah putar balik menuju toko bangunan, teman saya yang kali itu menjadi sopir mobil kami, buru-buru parkir dan keluar mobil. Ternyata, di belakang kami ada sebuah mobil tipe lama berhenti di tengah jalan karena mesinnya terbakar. Asap mengepul dari dalam mobil tua itu.
Saya terpana melihat kesigapan teman saya itu, bahkan seisi mobil tidak ada yang tahu jika di belakang mobil kami ada "mobil berasap". Dan yang lebih parah, lagi-lagi banyak pengemudi kendaraan bukannya turun dan membantu agar kemacetan tak meluas, malah mengklakson berulang kali dan menyalip tak keruan. Bisa jadi mereka terburu-buru, bisa jadi.
: Kasus Ketiga, Esok Harinya.
Kali ini saya lagi-lagi menjadi penumpang, dalam sebuah angkutan kota. Saya akui, angkutan kota ini kadang sembarangan dalam membawa kendaraannya, kadang memakan bahu jalan, klakson sana-sini dan banyak hal yang membuat saya mengelus dada. Tapi kali ini si sopir memberi saya sebuah pelajaran kecil yang berharga. Sepele, sebenarnya, namun patut kita teladani.
Siang itu terik sekali, macet meradang di jalanan. Si sopir angkutan kota tiba-tiba berhenti malah ketika arus mulai lancar, tangannya keluar jendela berusaha memberi isyarat pengendara di belakangnya untuk berhenti. Ternyata, ada seorang penarik gerobak sampah yang hendak menyabrang jalan dan begitu kesulitan memotong arus yang padat. Meski si sopir sudah berusaha menghentikan kendaraan di belakangnya, masih saja ada kendaraan yang menyerobot untuk menyalip, motor terutama. Mungkin si pengendara motor sedang terburu-buru, mungkin.
Sungguh, saya tidak tahu bagian janggal sebelah mana yang harus kita perbaiki bersama; tata krama kah, kepedulian kah. Tapi tanpa kita sadari, perlahan tapi pasti budaya gotong royong dan saling menolong kita kian tergantikan oleh sikap individualisme. Apa ada yang salah dengan budaya kita saat ini, atau pendidikan, atau boleh jadi mental manusianya, saya sendiri kurang paham.
Boleh jadi, pendapat saya ini adalah pendapat pribadi yang tidak dapat diukur kebenarannya. Tapi, mari sejenak kita kembali mengasah kepedulian kita bersama, apakah selama ini kita sudah cukup peduli dengan setidaknya hal-hal kecil yang ada di sekitar kita? Apa kepedulian itu masih berakar di dalam jiwa kita? Atau malah terabaikan?
Mari kembali peduli. Hal-hal kecil mungkin tidak membawa perubahan besar. Namun perubahan besar berawal dari hal-hal yang kecil.
Saturday, September 13, 2014
Thursday, March 27, 2014
mengaduk senja
aku berlayar ke dalam mata teduhmu, mengikuti aliran anak ombakmu yang begitu tenang.
aku merenung, berpikir begitu lama dengan beragam mengapa.
mengapa.
aku hanya diam menatap punggungmu, puas.
tak ada lagi yang harus dicukupi, siluetmu saja sudah lebih dari cukup.
senja itu kita bertegur sapa, membuatku berkenalan dengan
ribuan kupu yang mengaduk senjaku.
hari itu juga, pikiranku sedang teraduk karena berbagai masalah jahat yang akhir-akhir ini menghadang.
tapi sekali lagi, terima kasih karena kamu telah
mengaduk senjaku.
aku merenung, berpikir begitu lama dengan beragam mengapa.
mengapa.
aku hanya diam menatap punggungmu, puas.
tak ada lagi yang harus dicukupi, siluetmu saja sudah lebih dari cukup.
senja itu kita bertegur sapa, membuatku berkenalan dengan
ribuan kupu yang mengaduk senjaku.
hari itu juga, pikiranku sedang teraduk karena berbagai masalah jahat yang akhir-akhir ini menghadang.
tapi sekali lagi, terima kasih karena kamu telah
mengaduk senjaku.
Saturday, March 22, 2014
mencinta dengan sederhana. bukankah kesederhanaan itu begitu indah? tanpa kata letih tanpa ada pamrih. ikhlas dalam memberi dan menerimanya sekaligus. tak ada resah dan gelisah meski dalam susah.
kesederhanaan itu mahal sekali harganya, tidak bisa dinilai dengan uang sekalipun. tapi bagi jiwa-jiwa yang mengerti, sesungguhnya sederhana selalu melingkupi jalanmu menuju rumah.
kesederhanaan itu mahal sekali harganya, tidak bisa dinilai dengan uang sekalipun. tapi bagi jiwa-jiwa yang mengerti, sesungguhnya sederhana selalu melingkupi jalanmu menuju rumah.
Friday, February 21, 2014
hari ke#21: untuk @kucingpukpuk
Hai. Salam rindu dari sini.
Meski sebenarnya baru saja menginjak sembilan bulan, seperti bayi dalam kandungan, rinduku pada kalian semakin buncah saja.
Apa kabar? Sehat, kan? Apa kalian sudah tambah dewasa? Yang wanita mulai bermakeup, yang lelaki mulai sibuk merawat diri? Hihi. Atau kalian semakin jauh lebih tinggi dari aku? Hehe.
Bagaimana kuliahnya? Apa sudah semakin dekat dengan cita-cita kalian?
Bagaimana kisah cintanya? Apa hati-hati kalian masih seperti masa SMA?
Aku rindu sekali dengan kalian semua. Meski jarak memisahkan kita, semoga Tuhan selalu menjaga hangatnya rindu dalam tiap hati kita.
ps. jaga kesehatan, lagi musim sakit!
salam rindu dari Surabaya,
pukpuk ranger 35- sarah aghnia husna
Meski sebenarnya baru saja menginjak sembilan bulan, seperti bayi dalam kandungan, rinduku pada kalian semakin buncah saja.
Apa kabar? Sehat, kan? Apa kalian sudah tambah dewasa? Yang wanita mulai bermakeup, yang lelaki mulai sibuk merawat diri? Hihi. Atau kalian semakin jauh lebih tinggi dari aku? Hehe.
Bagaimana kuliahnya? Apa sudah semakin dekat dengan cita-cita kalian?
Bagaimana kisah cintanya? Apa hati-hati kalian masih seperti masa SMA?
Aku rindu sekali dengan kalian semua. Meski jarak memisahkan kita, semoga Tuhan selalu menjaga hangatnya rindu dalam tiap hati kita.
ps. jaga kesehatan, lagi musim sakit!
salam rindu dari Surabaya,
pukpuk ranger 35- sarah aghnia husna
Wednesday, February 19, 2014
hari ke#19 : Kepadamu, yang Meragu
Kepadamu, yang Meragu.
"you say that you love the rain but you open your umbrella when it rains. you say that you love the sun but you find a shadow spot when it shines. you say that you love the wind, but you close your window when it blows.
"that's why i'm affraid you said that you love me too." - William Shakespeare
Begitu, kah yang kau ragukan? Yang kau takutkan? Sungguh, bagaimana mungkin Shakespeare membuatmu begitu lemah, membuatmu mundur beberapa langkah dari kita?
Baiklah kalau kau meragukanku. Tidak apa, aku masih akan tetap mengulurkan tanganku untuk menggandengmu dan mengosongkan bahuku untuk persandaran lelahmu.
Tapi, mari coba kau dengarkan aku sejenak. Aku menyukai hujan, tetesannya lembut sekali. Aku membuka payungku, apakah berarti aku membencinya? Tidak. Seberapapun kau menyukainya, ketika itu membuatmu sakit dan terluka, apa kau bahkan harus mengorbankan dirimu? Bagiku, ketika kau bisa mencintai dirimu, berarti artinya kau juga sudah siap memberikannya untuk orang lain.
Aku menyukai matahari, tapi aku tetap saja berteduh. Apa aku bersembunyi? Tidak. Tidak selamanya kau harus berdampingan dengan yang kau cintai. Hubungan dengan tanpa jarak, sungguh seperti kata tanpa spasi. Menyesakkan.
Aku menyukai angin, tapi mengapa aku menutup jendela? Aku tidak menutup diriku, atau kemungkinan tentang kita. Ada kalanya, setiap manusia ingin sekali menikmati kesendiriannya. Tidak selamanya, ketika itu berakhir aku akan kembali padamu saja.
Aku mencintaimu. Dan apa harus ada keraguan di dalamnya?
Jangan libatkan ragu dalam kita, cukuplah hubungan ini melibatkan aku, kau dan Tuhan saja.
"you say that you love the rain but you open your umbrella when it rains. you say that you love the sun but you find a shadow spot when it shines. you say that you love the wind, but you close your window when it blows.
"that's why i'm affraid you said that you love me too." - William Shakespeare
Begitu, kah yang kau ragukan? Yang kau takutkan? Sungguh, bagaimana mungkin Shakespeare membuatmu begitu lemah, membuatmu mundur beberapa langkah dari kita?
Baiklah kalau kau meragukanku. Tidak apa, aku masih akan tetap mengulurkan tanganku untuk menggandengmu dan mengosongkan bahuku untuk persandaran lelahmu.
Tapi, mari coba kau dengarkan aku sejenak. Aku menyukai hujan, tetesannya lembut sekali. Aku membuka payungku, apakah berarti aku membencinya? Tidak. Seberapapun kau menyukainya, ketika itu membuatmu sakit dan terluka, apa kau bahkan harus mengorbankan dirimu? Bagiku, ketika kau bisa mencintai dirimu, berarti artinya kau juga sudah siap memberikannya untuk orang lain.
Aku menyukai matahari, tapi aku tetap saja berteduh. Apa aku bersembunyi? Tidak. Tidak selamanya kau harus berdampingan dengan yang kau cintai. Hubungan dengan tanpa jarak, sungguh seperti kata tanpa spasi. Menyesakkan.
Aku menyukai angin, tapi mengapa aku menutup jendela? Aku tidak menutup diriku, atau kemungkinan tentang kita. Ada kalanya, setiap manusia ingin sekali menikmati kesendiriannya. Tidak selamanya, ketika itu berakhir aku akan kembali padamu saja.
Aku mencintaimu. Dan apa harus ada keraguan di dalamnya?
Jangan libatkan ragu dalam kita, cukuplah hubungan ini melibatkan aku, kau dan Tuhan saja.
Monday, February 17, 2014
Hari ke#17: Secangkir Senja di Matamu
Kepada pemilik mata secangkir senja.
Hei. Aku suka sekali memandang jauh ke dalam matamu. Sungguh teduh dan menentramkan. Aku melihat hamparan pasir luas disana, juga deburan ombak serupa di laut lepas. Tak lupa secangkir senja yang dituang begitu indah.
Hei. Aku suka sekali memperhatikan biji matamu diam-diam. Lucu sekali, bergerak ke kanan, ke kiri, lalu kau berkedip-kedip.
Apa seumur hidupmu kau selalu merasa bahagia seperti ini? Matamu berkata begitu, berbinar cerah sekali. Atau kau begitu pintar menyimpan lukamu dibalik secangkir senja di matamu?
Hei. Aku suka sekali memandang jauh ke dalam matamu. Sungguh teduh dan menentramkan. Aku melihat hamparan pasir luas disana, juga deburan ombak serupa di laut lepas. Tak lupa secangkir senja yang dituang begitu indah.
Hei. Aku suka sekali memperhatikan biji matamu diam-diam. Lucu sekali, bergerak ke kanan, ke kiri, lalu kau berkedip-kedip.
Apa seumur hidupmu kau selalu merasa bahagia seperti ini? Matamu berkata begitu, berbinar cerah sekali. Atau kau begitu pintar menyimpan lukamu dibalik secangkir senja di matamu?
Sunday, February 16, 2014
hari ke#16: Sendu yang Menggelayut
Kepada Sendu yang Menggelayutimu.
Kepadamu, Sendu.
Aku peringatkan padamu sekali ini saja, berhentilah memayunginya. Jangan membuatnya terbuai oleh keteduhanmu yang ragu. Sesungguhnya, masing-masing dari kita tahu, ia hanya sedang mencari arah dan bebenah dari masa lalu. Ia boleh saja berteduh padamu, sesekali. Tapi jangan biarkan ia menutup jendelanya dari aku--dari hal yang membuatnya melaju.
Kepadamu, hei, yang digelayuti Sendu.
Mari. Mari melaju bersama, tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya harus percaya, saat kau jatuh nanti, ada aku di belakangmu.
Kepadamu, Sendu.
Aku peringatkan padamu sekali ini saja, berhentilah memayunginya. Jangan membuatnya terbuai oleh keteduhanmu yang ragu. Sesungguhnya, masing-masing dari kita tahu, ia hanya sedang mencari arah dan bebenah dari masa lalu. Ia boleh saja berteduh padamu, sesekali. Tapi jangan biarkan ia menutup jendelanya dari aku--dari hal yang membuatnya melaju.
Kepadamu, hei, yang digelayuti Sendu.
Mari. Mari melaju bersama, tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya harus percaya, saat kau jatuh nanti, ada aku di belakangmu.
Saturday, February 15, 2014
Hari ke#15: Kepadamu
Kepadamu.
"if you need help, ask."
Aku tahu. Bukannya kau tidak mau, tapi kau tidak tahu bagaimana. Sejak awal kau tidak mau membiasakan diri untuk meminta, kau selalu ingin melayani. Itu baik, tapi terkadang menyakitimu.
Aku tahu dengan sangat baik. Kau hanya ingin terlihat baik-baik saja. Kau memang tidak suka mengalah, apalagi terlihat kalah dan lemah.
Baiklah, begini saja. Jangan berubah, jika kau merasa lelah, aku punya dua telinga untuk mendengarkanmu dan sepotong bahu tempatmu bersandar.
"if you need help, ask."
Aku tahu. Bukannya kau tidak mau, tapi kau tidak tahu bagaimana. Sejak awal kau tidak mau membiasakan diri untuk meminta, kau selalu ingin melayani. Itu baik, tapi terkadang menyakitimu.
Aku tahu dengan sangat baik. Kau hanya ingin terlihat baik-baik saja. Kau memang tidak suka mengalah, apalagi terlihat kalah dan lemah.
Baiklah, begini saja. Jangan berubah, jika kau merasa lelah, aku punya dua telinga untuk mendengarkanmu dan sepotong bahu tempatmu bersandar.
Thursday, February 13, 2014
hari ke#13 : Kepada Kau yang Berjanji
Kepada Kau yang Berjanji Tak Akan Menangis Lagi .
Sudah kubilang padamu, jangan percaya siapapun. Percayalah hanya padaNya. Manusia hanya akan membuatmu sakit.
Kau membuktikannya sendiri betapa kejamnya makhluk bernama manusia itu. Dan akhirnya luka lamamu teriris lagi, kan?
Akhirnya kau hanya akan terus membentengi dirimu lebih rapat. Kembali kepada ketidakpercayaanmu yang lalu. Padahal akhir-akhir ini kulihat kau mengakrabi kepercayaanmu pada manusia. Miris.
Hapus air matamu, kau sudah berjanji. Semenjak membaca puisi Adimas Immanuel. Engkau Berjanji Tak Akan Menangis Lagi, judulnya.
Kuatlah. Tegarlah. Berdirilah sendiri.
Sudah kubilang padamu, jangan percaya siapapun. Percayalah hanya padaNya. Manusia hanya akan membuatmu sakit.
Kau membuktikannya sendiri betapa kejamnya makhluk bernama manusia itu. Dan akhirnya luka lamamu teriris lagi, kan?
Akhirnya kau hanya akan terus membentengi dirimu lebih rapat. Kembali kepada ketidakpercayaanmu yang lalu. Padahal akhir-akhir ini kulihat kau mengakrabi kepercayaanmu pada manusia. Miris.
Hapus air matamu, kau sudah berjanji. Semenjak membaca puisi Adimas Immanuel. Engkau Berjanji Tak Akan Menangis Lagi, judulnya.
Kuatlah. Tegarlah. Berdirilah sendiri.
Wednesday, February 12, 2014
hari ke#12: Tiga
Halo. Maaf kemarin tidak menulis untukmu lagi. Kemarin aku sibuk sekali, walaupun itu tidak pantas jadi alasan. Bagaimana hari-hari pertamamu di perantauan untuk yang kedua kali ini? Kalau kau setuju denganku, sejujurnya semua ini melelahkan, bukan? Tapi tidak sepertiku, kau jarang mengeluh.
Aku ingin sekali bertanya kabar secara langsung, setidaknya dengan membuat ponselmu bergetar atau me-mention surat ini padamu. Tapi kurasa, aku tidak seberani itu. Di hadapanmu keberanianku mencicit.
Baiklah, aku rasa mungkin ini surat terakhirku padamu. Jika aku memikirkanmu dan kepalaku rasanya ingin meledak, aku akan menuliskannya lagi untukmu.
Aku ingin sekali bertanya kabar secara langsung, setidaknya dengan membuat ponselmu bergetar atau me-mention surat ini padamu. Tapi kurasa, aku tidak seberani itu. Di hadapanmu keberanianku mencicit.
Baiklah, aku rasa mungkin ini surat terakhirku padamu. Jika aku memikirkanmu dan kepalaku rasanya ingin meledak, aku akan menuliskannya lagi untukmu.
Monday, February 10, 2014
Hari ke#10: Dua
Kali ini aku lebih berani untuk menatap matamu, meski diam-diam. Seperti kemarin malam. Kau terlihat begitu lelah dan mengantuk. Darimana? Baru bangun tidur? Haha aku begitu penasaran, tapi aku diam saja.
Perasaan ini muncul lagi, tak bisa kupungkiri. Jadi kunikmati saja waktu-waktu pertemuan kita yang nyaris tanpa obrolan.Yang singkat, tapi begitu kutunggu.
Baiklah begitu saja, selamat kuliah, semoga harimu menyenangkan.
Perasaan ini muncul lagi, tak bisa kupungkiri. Jadi kunikmati saja waktu-waktu pertemuan kita yang nyaris tanpa obrolan.Yang singkat, tapi begitu kutunggu.
Baiklah begitu saja, selamat kuliah, semoga harimu menyenangkan.
Sunday, February 9, 2014
Hari ke#9: Satu
Pernahkan satu kali saja dalam hidupmu, kau menyimpan rasa diam-diam pada seseorang sampai bertahun waktunya, sampai rahasia itu menyatu dalam ragamu? Pernahkah kau menyukainya tanpa ingin mengusiknya, melihatnya dari jauh saja cukup?
Baiklah, teknologi memang semakin canggih. Tapi teknologi tidak sejalan dengan keberanianku berbicara padamu. Teknologi memang mempersempit jarak, tapi rasanya tidak untuk kita--atau aku yang merindukanmu.
Aku berharap 'witing tresno jalaran soko kulino' itu juga berlaku untuk 'witing ra tresno maneh jalaran soko kulino'. Tapi rasanya salah, saat bertemu lagi selalu ada kupu-kupu yang menggelitik dan bersemayam di perutku. Dan aku benci pada aku yang datar-datar saja, bersikap seolah kita orang asing saja.
Pernakah, sekali saja dalam hidupmu, terlintas aku dalam benakmu?
Baiklah, teknologi memang semakin canggih. Tapi teknologi tidak sejalan dengan keberanianku berbicara padamu. Teknologi memang mempersempit jarak, tapi rasanya tidak untuk kita--atau aku yang merindukanmu.
Aku berharap 'witing tresno jalaran soko kulino' itu juga berlaku untuk 'witing ra tresno maneh jalaran soko kulino'. Tapi rasanya salah, saat bertemu lagi selalu ada kupu-kupu yang menggelitik dan bersemayam di perutku. Dan aku benci pada aku yang datar-datar saja, bersikap seolah kita orang asing saja.
Pernakah, sekali saja dalam hidupmu, terlintas aku dalam benakmu?
Saturday, February 8, 2014
Hari ke#8 : Hei, Mata Kenari
Kepada lelaki yang mempunyai sepasang mata kenari.
Halo. Halo, kamu yang berhasil mengaduk perasaanku sampai runyam begini. Aku tahu kamu baik-baik saja, dari judul lagu yang kamu dendangkan sepanjang hari. Tapi mana kamu tahu perasaanku, semenjak lagu indah itu kamu dendangkan dengan riang.
Aku berharap bisa mengucapkan salam perpisahan denganmu. Tapi usahaku selalu gagal. Baiklah, begini saja.
Asalkan kamu bahagia dan mengizinkan aku terus di dekatmu, aku tidak akan mengeluh. Aku janji. Jadi tetaplah berbahagia seperti itu, aku juga akan bahagia dengan sedikit menahan degup tak wajar dalam diriku.
Thursday, February 6, 2014
Hari ke#6: Separuh.
Kepada separuh yang lain.
Separuh yang baik, semoga kamu bertambah banyak, semakin beranak pinak menjadi layak. Sesekali kamu boleh mengalah pada separuh yang lain, jangan membela jika kamu merasa sakit. Karena akan percuma jika kamu hanya memberi bahagia tanpa ikut mengecapnya. Tetap dan teruskanlah apa yang menurutmu baik dan benar, jangan takut.
Separuh yang buruk, semoga kamu selalu dapat menahan diri, agar menjadi manusiawi. Sesekali kamu boleh membela diri jika memang dirasa perlu, jika memang yang buruk itu baik untukmu. Tapi ingat, saat maju, ketakutan hanya akan membuatmu kukut. Tegarlah.
Delapan belas, banyaklah bersyukur. Angka itu banyak sekali, tidak semua diberi sebanyak itu. Dewasalah, tapi tetap berbahagialah layaknya kanak-kanak.
18 : infinite happiness .
Separuh yang baik, semoga kamu bertambah banyak, semakin beranak pinak menjadi layak. Sesekali kamu boleh mengalah pada separuh yang lain, jangan membela jika kamu merasa sakit. Karena akan percuma jika kamu hanya memberi bahagia tanpa ikut mengecapnya. Tetap dan teruskanlah apa yang menurutmu baik dan benar, jangan takut.
Separuh yang buruk, semoga kamu selalu dapat menahan diri, agar menjadi manusiawi. Sesekali kamu boleh membela diri jika memang dirasa perlu, jika memang yang buruk itu baik untukmu. Tapi ingat, saat maju, ketakutan hanya akan membuatmu kukut. Tegarlah.
Delapan belas, banyaklah bersyukur. Angka itu banyak sekali, tidak semua diberi sebanyak itu. Dewasalah, tapi tetap berbahagialah layaknya kanak-kanak.
18 : infinite happiness .
Wednesday, February 5, 2014
Hari ke#5: Si Baik Hati
Kepada kamu, si baik hati.
Terima kasih karena selalu datang membantu aaat aku dalam kesulitan. Terima kasih untuk tidak pernah mengeluh, meski aku seringkali egois.
Segala kebaikanmu, aku suka. Semua membuatku berarti dan bahagia.
Kamu si baik hati tetap bersamaku sampai nanti, ya.
Tuesday, February 4, 2014
hari ke #4: Ini (mungkin bukan) Surat Cinta
Kepada Adimas Immanuel.
Mas Dimas, saya suka sekali semua tulisannya. Baik yang di blog ataupun yang di buku. Bahkan, tulisan di halaman depan buku Pelesir Mimpi yang saya beli sudah saya baca berulang kali.
Ini (mungkin bukan) surat cinta.
Dua hari lagi saya berulang tahun. Bolehkah saya minta kado sebuah puisi dari Mas Dimas? Saya harap iya.
Terima kasih.
Sarah Aghnia Husna
Mas Dimas, saya suka sekali semua tulisannya. Baik yang di blog ataupun yang di buku. Bahkan, tulisan di halaman depan buku Pelesir Mimpi yang saya beli sudah saya baca berulang kali.
Ini (mungkin bukan) surat cinta.
Dua hari lagi saya berulang tahun. Bolehkah saya minta kado sebuah puisi dari Mas Dimas? Saya harap iya.
Terima kasih.
Sarah Aghnia Husna
Monday, February 3, 2014
Hari ke #3 : Kepada Bapak @SBYudhoyono
Kepada Yth. Presiden RI,
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
di tempat
Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat pagi, Pak. Perkenalkan nama saya Sarah Aghnia Husna salah satu dari dua ratus juta jiwa rakyat Indonesia--kalau saya tidak salah info. Maaf saya begitu lancang mengirim surat ini untuk Bapak. Sungguh, saya tidak bermaksud begitu. Apa kabar, Pak? Semoga Tuhan selalu memberi limpahan rahmat-Nya pada Bapak. Saya berharap Bapak sendirilah yabg membaca surat ini, bukan staf kepresidenan, karena ini surat saya untuk Bapak pribadi. Ini memang surat cinta, Pak, tapi sekedar surat cinta seorang rakyat kepada presidennya.
Terlepas dari banyak berita soal masa kepemimpinan Bapak, saya mau berterima kasih karena selama dua periode kepemimpinan Bapak ini, saya yakin Bapak sudah mengusahakan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Terima kasih, Pak, semoga Tuhan sendirilah yang akan membalas semua jasa Bapak. Karena saya percaya tidaklah mudah memimpin bangsa yang besar ini.
Saya sering menduga-duga bagaimana lelahnya Bapak menjadi seorang presiden, menjadi pemimpin bagi dua ratus juta manusia di negara tercinta ini. Saya tidak tahu pastinya, tapi barangkali berkali lipat lebih penat dari sekedar mengerjakan tugas kuliah. Oleh karenanya, sekali lagi saya ingin berterima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam. Banyak perubahan baik yang terjadi delapan tahun belakangan ini tentu termasuk andil Bapak juga. Terima kasih, Pak, telah menjadi sosok pemimpin bagi bangsa kami.
Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan, semoga Bapak selalu diberi kesehatan dan limpahan rezeki dari yang Maha Kuasa. Maaf apabila ada salah kata dalam surat saya dan tentunya terima kasih sudah menyempatkan membaca surat sepele saya ini.
Wassalamualaikum W. Wb.
Dari salah satu rakyatmu,
Sarah Aghnia Husna
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
di tempat
Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat pagi, Pak. Perkenalkan nama saya Sarah Aghnia Husna salah satu dari dua ratus juta jiwa rakyat Indonesia--kalau saya tidak salah info. Maaf saya begitu lancang mengirim surat ini untuk Bapak. Sungguh, saya tidak bermaksud begitu. Apa kabar, Pak? Semoga Tuhan selalu memberi limpahan rahmat-Nya pada Bapak. Saya berharap Bapak sendirilah yabg membaca surat ini, bukan staf kepresidenan, karena ini surat saya untuk Bapak pribadi. Ini memang surat cinta, Pak, tapi sekedar surat cinta seorang rakyat kepada presidennya.
Terlepas dari banyak berita soal masa kepemimpinan Bapak, saya mau berterima kasih karena selama dua periode kepemimpinan Bapak ini, saya yakin Bapak sudah mengusahakan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Terima kasih, Pak, semoga Tuhan sendirilah yang akan membalas semua jasa Bapak. Karena saya percaya tidaklah mudah memimpin bangsa yang besar ini.
Saya sering menduga-duga bagaimana lelahnya Bapak menjadi seorang presiden, menjadi pemimpin bagi dua ratus juta manusia di negara tercinta ini. Saya tidak tahu pastinya, tapi barangkali berkali lipat lebih penat dari sekedar mengerjakan tugas kuliah. Oleh karenanya, sekali lagi saya ingin berterima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam. Banyak perubahan baik yang terjadi delapan tahun belakangan ini tentu termasuk andil Bapak juga. Terima kasih, Pak, telah menjadi sosok pemimpin bagi bangsa kami.
Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan, semoga Bapak selalu diberi kesehatan dan limpahan rezeki dari yang Maha Kuasa. Maaf apabila ada salah kata dalam surat saya dan tentunya terima kasih sudah menyempatkan membaca surat sepele saya ini.
Wassalamualaikum W. Wb.
Dari salah satu rakyatmu,
Sarah Aghnia Husna
Sunday, February 2, 2014
Hari ke #2 : Kepada Kamu
Kepada kamu, yang mungkin masih meringkuk di balik selimut tebalmu sambil menatap layar ponsel. Atau sudah bersiap pergi karena ingat ada janji hari ini. Selamat siang, semoga harimu menyenangkan.
Kepada kamu.
Ingatkah 3 tahun yang lalu? Saat saya begitu menikmati setiap percakapan kita. Saat tidak ada kata pagi-siang-malam karena setiap hari terasa pagi terus. Saat saya begitu teguh menunggu hujan mampir di kota kita agar kita bisa menikmatinya bersama. Sudah lama juga, ya.
Apa kabar? Akhirnya kamu menjawabnya juga setelah hampir penuh tiga tahun saya menunggu.
Baik, katamu. Ajaib. Hari itu hujan tidak turun rasanya, tapi pertama kali semenjak tiga tahun itu kamu kembali membiarkan saya menyapa kamu lagi.
Tanpa kamu tahu, tiga tahun ini saya masih suka iseng mencari tahu soal kamu. Atau barangkali kamu tahu tapi diam saja. Kamu kan serba tahu seperti biasa. Mungkin kamu membiarkan sajasaya menumpuk penasaran dan rindu saya biar menggunung begitu saja. Dan membuat saya sekarang bisa mentertawakan masa lalu dengan lega
Saya suka sekali hujan, gegara kamu. Karena saat hujan, suasana hati kamu baik sekali. Kita bisa mengobrol lancar sepeti aliran air hujan di genteng rumahku. Membiarkan kamu mengeluh dengan kejadian-kejadian yang menimpamu hari ini. Saya suka sekali mendengarkan kamu bercerita. Mungin kamu seharusnya jadi pencerita saja, hihi.
Kepada kamu.
Kali ini saya sadar, tidak ada yang perlu disesali perkara tiga tahun yang lalu. Yang sudah berlalu mungkin memang begitu adanya harus terjadi.
ps. saya hubungi kamu saat hujan turun hari ini.
Kepada kamu.
Ingatkah 3 tahun yang lalu? Saat saya begitu menikmati setiap percakapan kita. Saat tidak ada kata pagi-siang-malam karena setiap hari terasa pagi terus. Saat saya begitu teguh menunggu hujan mampir di kota kita agar kita bisa menikmatinya bersama. Sudah lama juga, ya.
Apa kabar? Akhirnya kamu menjawabnya juga setelah hampir penuh tiga tahun saya menunggu.
Baik, katamu. Ajaib. Hari itu hujan tidak turun rasanya, tapi pertama kali semenjak tiga tahun itu kamu kembali membiarkan saya menyapa kamu lagi.
Tanpa kamu tahu, tiga tahun ini saya masih suka iseng mencari tahu soal kamu. Atau barangkali kamu tahu tapi diam saja. Kamu kan serba tahu seperti biasa. Mungkin kamu membiarkan sajasaya menumpuk penasaran dan rindu saya biar menggunung begitu saja. Dan membuat saya sekarang bisa mentertawakan masa lalu dengan lega
Saya suka sekali hujan, gegara kamu. Karena saat hujan, suasana hati kamu baik sekali. Kita bisa mengobrol lancar sepeti aliran air hujan di genteng rumahku. Membiarkan kamu mengeluh dengan kejadian-kejadian yang menimpamu hari ini. Saya suka sekali mendengarkan kamu bercerita. Mungin kamu seharusnya jadi pencerita saja, hihi.
Kepada kamu.
Kali ini saya sadar, tidak ada yang perlu disesali perkara tiga tahun yang lalu. Yang sudah berlalu mungkin memang begitu adanya harus terjadi.
ps. saya hubungi kamu saat hujan turun hari ini.
Saturday, February 1, 2014
Hari ke #1 : Surat Untuk Mama
Untuk Mama,
di rumah.
Ma, saat saya terpikir menulis surat ini adalah saat kita menengok album foto beberapa tahun yang lalu waktu kita liburan ke Bromo. Saat itu, saya melihat mata mama berkaca-kaca. Mungkin mama terharu, betapa cepat waktu berjalan menyalip kita.
Ma, saya mau minta maaf. Akhir-akhir ini saya membuat mama dan ayah tentunya kecewa. Maafkan saya, saya tidak bermaksud begitu. Saya akan berusaha lebih baik lagi. Saya juga mau minta maaf perkara semenjak saya jauh dari rumah, saya jarang pulang untuk menengok. Sebenarnya, bukan hanya waktu dan keadaan yang mempersulit. Saya juga takut, saya takut merasakan keengganan kembali ke kota itu untuk mengais ilmu lagi. Sungguh, rumah membuat saya betah berlama-lama pulang. Ia menjadi pisau bermata dua, madu sekaligus racun bagi saya. Pulang itu candu. Bahkan sekarang saat saya betlibur di rumah, saya mulai merasakan keengganan itu lagi.
Ma, maaf saya memang lebih sulit untuk bicara langsung perkara begini. Saya lebih fasih menerjemahkannya dalam kata. Terima kasih untuk semua pengertian dan kasihmu selama ini. Semoga Tuhan selalu menjaga dan membalas kebaikanmu.Amin.
Anakmu, Sarah.
di rumah.
Ma, saat saya terpikir menulis surat ini adalah saat kita menengok album foto beberapa tahun yang lalu waktu kita liburan ke Bromo. Saat itu, saya melihat mata mama berkaca-kaca. Mungkin mama terharu, betapa cepat waktu berjalan menyalip kita.
Ma, saya mau minta maaf. Akhir-akhir ini saya membuat mama dan ayah tentunya kecewa. Maafkan saya, saya tidak bermaksud begitu. Saya akan berusaha lebih baik lagi. Saya juga mau minta maaf perkara semenjak saya jauh dari rumah, saya jarang pulang untuk menengok. Sebenarnya, bukan hanya waktu dan keadaan yang mempersulit. Saya juga takut, saya takut merasakan keengganan kembali ke kota itu untuk mengais ilmu lagi. Sungguh, rumah membuat saya betah berlama-lama pulang. Ia menjadi pisau bermata dua, madu sekaligus racun bagi saya. Pulang itu candu. Bahkan sekarang saat saya betlibur di rumah, saya mulai merasakan keengganan itu lagi.
Ma, maaf saya memang lebih sulit untuk bicara langsung perkara begini. Saya lebih fasih menerjemahkannya dalam kata. Terima kasih untuk semua pengertian dan kasihmu selama ini. Semoga Tuhan selalu menjaga dan membalas kebaikanmu.Amin.
Anakmu, Sarah.
Subscribe to:
Comments (Atom)