Entah saya yang sentimentil, atau memang ada yang janggal dengan bangsa ini. Mungkin jika istilah bangsa masih terlalu besar, setidaknya manusia-manusia dalam kota yang saya singgahi. Dua hari berturut-turut saya berkecimpung di perjalanan, di jalan penuh lalu lalang manusia. Dan di jalanan itu pula, saya melihat agaknya kepedulian kita semakin terkikis.
: Kasus Pertama.
Siang itu, saya hendak kembali ke kos setelah membeli beberapa barang di area yang cukup ramai kendaraan. Setelah lampu merah di sebuah perempatan, ada satu kemacetan kecil yang tak jelas sebab musababnya. Setelah ditelusuri, ternyata ada sebuah mobil taxi yang mogok di tengah jalan. Si sopir berusaha sekua tenaga--sampai urat-urat di lehernya menonjol mengerikan--untuk meminggirkan mobilnya. Dan mirisnya, tidak satupun pengendara turun untuk membantu, termasuk saya yang dengan bodohnya melanglang begitu saja sambil terpana. Kebanyakan pengendara hanya mengklakson keras si bapak sopir malang dan membuat jalanan semakin runyam.
: Kasus kedua, Hari yang Sama.
Kali ini saya kebetulan sedang menjadi salah seorang penumpang di kendaraan teman saya. Hari itu, saya turut menemani beberapa teman untuk membeli barang. Ketika kami melewati sebuah putar balik menuju toko bangunan, teman saya yang kali itu menjadi sopir mobil kami, buru-buru parkir dan keluar mobil. Ternyata, di belakang kami ada sebuah mobil tipe lama berhenti di tengah jalan karena mesinnya terbakar. Asap mengepul dari dalam mobil tua itu.
Saya terpana melihat kesigapan teman saya itu, bahkan seisi mobil tidak ada yang tahu jika di belakang mobil kami ada "mobil berasap". Dan yang lebih parah, lagi-lagi banyak pengemudi kendaraan bukannya turun dan membantu agar kemacetan tak meluas, malah mengklakson berulang kali dan menyalip tak keruan. Bisa jadi mereka terburu-buru, bisa jadi.
: Kasus Ketiga, Esok Harinya.
Kali ini saya lagi-lagi menjadi penumpang, dalam sebuah angkutan kota. Saya akui, angkutan kota ini kadang sembarangan dalam membawa kendaraannya, kadang memakan bahu jalan, klakson sana-sini dan banyak hal yang membuat saya mengelus dada. Tapi kali ini si sopir memberi saya sebuah pelajaran kecil yang berharga. Sepele, sebenarnya, namun patut kita teladani.
Siang itu terik sekali, macet meradang di jalanan. Si sopir angkutan kota tiba-tiba berhenti malah ketika arus mulai lancar, tangannya keluar jendela berusaha memberi isyarat pengendara di belakangnya untuk berhenti. Ternyata, ada seorang penarik gerobak sampah yang hendak menyabrang jalan dan begitu kesulitan memotong arus yang padat. Meski si sopir sudah berusaha menghentikan kendaraan di belakangnya, masih saja ada kendaraan yang menyerobot untuk menyalip, motor terutama. Mungkin si pengendara motor sedang terburu-buru, mungkin.
Sungguh, saya tidak tahu bagian janggal sebelah mana yang harus kita perbaiki bersama; tata krama kah, kepedulian kah. Tapi tanpa kita sadari, perlahan tapi pasti budaya gotong royong dan saling menolong kita kian tergantikan oleh sikap individualisme. Apa ada yang salah dengan budaya kita saat ini, atau pendidikan, atau boleh jadi mental manusianya, saya sendiri kurang paham.
Boleh jadi, pendapat saya ini adalah pendapat pribadi yang tidak dapat diukur kebenarannya. Tapi, mari sejenak kita kembali mengasah kepedulian kita bersama, apakah selama ini kita sudah cukup peduli dengan setidaknya hal-hal kecil yang ada di sekitar kita? Apa kepedulian itu masih berakar di dalam jiwa kita? Atau malah terabaikan?
Mari kembali peduli. Hal-hal kecil mungkin tidak membawa perubahan besar. Namun perubahan besar berawal dari hal-hal yang kecil.
Saturday, September 13, 2014
Thursday, March 27, 2014
mengaduk senja
aku berlayar ke dalam mata teduhmu, mengikuti aliran anak ombakmu yang begitu tenang.
aku merenung, berpikir begitu lama dengan beragam mengapa.
mengapa.
aku hanya diam menatap punggungmu, puas.
tak ada lagi yang harus dicukupi, siluetmu saja sudah lebih dari cukup.
senja itu kita bertegur sapa, membuatku berkenalan dengan
ribuan kupu yang mengaduk senjaku.
hari itu juga, pikiranku sedang teraduk karena berbagai masalah jahat yang akhir-akhir ini menghadang.
tapi sekali lagi, terima kasih karena kamu telah
mengaduk senjaku.
aku merenung, berpikir begitu lama dengan beragam mengapa.
mengapa.
aku hanya diam menatap punggungmu, puas.
tak ada lagi yang harus dicukupi, siluetmu saja sudah lebih dari cukup.
senja itu kita bertegur sapa, membuatku berkenalan dengan
ribuan kupu yang mengaduk senjaku.
hari itu juga, pikiranku sedang teraduk karena berbagai masalah jahat yang akhir-akhir ini menghadang.
tapi sekali lagi, terima kasih karena kamu telah
mengaduk senjaku.
Saturday, March 22, 2014
mencinta dengan sederhana. bukankah kesederhanaan itu begitu indah? tanpa kata letih tanpa ada pamrih. ikhlas dalam memberi dan menerimanya sekaligus. tak ada resah dan gelisah meski dalam susah.
kesederhanaan itu mahal sekali harganya, tidak bisa dinilai dengan uang sekalipun. tapi bagi jiwa-jiwa yang mengerti, sesungguhnya sederhana selalu melingkupi jalanmu menuju rumah.
kesederhanaan itu mahal sekali harganya, tidak bisa dinilai dengan uang sekalipun. tapi bagi jiwa-jiwa yang mengerti, sesungguhnya sederhana selalu melingkupi jalanmu menuju rumah.
Friday, February 21, 2014
hari ke#21: untuk @kucingpukpuk
Hai. Salam rindu dari sini.
Meski sebenarnya baru saja menginjak sembilan bulan, seperti bayi dalam kandungan, rinduku pada kalian semakin buncah saja.
Apa kabar? Sehat, kan? Apa kalian sudah tambah dewasa? Yang wanita mulai bermakeup, yang lelaki mulai sibuk merawat diri? Hihi. Atau kalian semakin jauh lebih tinggi dari aku? Hehe.
Bagaimana kuliahnya? Apa sudah semakin dekat dengan cita-cita kalian?
Bagaimana kisah cintanya? Apa hati-hati kalian masih seperti masa SMA?
Aku rindu sekali dengan kalian semua. Meski jarak memisahkan kita, semoga Tuhan selalu menjaga hangatnya rindu dalam tiap hati kita.
ps. jaga kesehatan, lagi musim sakit!
salam rindu dari Surabaya,
pukpuk ranger 35- sarah aghnia husna
Meski sebenarnya baru saja menginjak sembilan bulan, seperti bayi dalam kandungan, rinduku pada kalian semakin buncah saja.
Apa kabar? Sehat, kan? Apa kalian sudah tambah dewasa? Yang wanita mulai bermakeup, yang lelaki mulai sibuk merawat diri? Hihi. Atau kalian semakin jauh lebih tinggi dari aku? Hehe.
Bagaimana kuliahnya? Apa sudah semakin dekat dengan cita-cita kalian?
Bagaimana kisah cintanya? Apa hati-hati kalian masih seperti masa SMA?
Aku rindu sekali dengan kalian semua. Meski jarak memisahkan kita, semoga Tuhan selalu menjaga hangatnya rindu dalam tiap hati kita.
ps. jaga kesehatan, lagi musim sakit!
salam rindu dari Surabaya,
pukpuk ranger 35- sarah aghnia husna
Wednesday, February 19, 2014
hari ke#19 : Kepadamu, yang Meragu
Kepadamu, yang Meragu.
"you say that you love the rain but you open your umbrella when it rains. you say that you love the sun but you find a shadow spot when it shines. you say that you love the wind, but you close your window when it blows.
"that's why i'm affraid you said that you love me too." - William Shakespeare
Begitu, kah yang kau ragukan? Yang kau takutkan? Sungguh, bagaimana mungkin Shakespeare membuatmu begitu lemah, membuatmu mundur beberapa langkah dari kita?
Baiklah kalau kau meragukanku. Tidak apa, aku masih akan tetap mengulurkan tanganku untuk menggandengmu dan mengosongkan bahuku untuk persandaran lelahmu.
Tapi, mari coba kau dengarkan aku sejenak. Aku menyukai hujan, tetesannya lembut sekali. Aku membuka payungku, apakah berarti aku membencinya? Tidak. Seberapapun kau menyukainya, ketika itu membuatmu sakit dan terluka, apa kau bahkan harus mengorbankan dirimu? Bagiku, ketika kau bisa mencintai dirimu, berarti artinya kau juga sudah siap memberikannya untuk orang lain.
Aku menyukai matahari, tapi aku tetap saja berteduh. Apa aku bersembunyi? Tidak. Tidak selamanya kau harus berdampingan dengan yang kau cintai. Hubungan dengan tanpa jarak, sungguh seperti kata tanpa spasi. Menyesakkan.
Aku menyukai angin, tapi mengapa aku menutup jendela? Aku tidak menutup diriku, atau kemungkinan tentang kita. Ada kalanya, setiap manusia ingin sekali menikmati kesendiriannya. Tidak selamanya, ketika itu berakhir aku akan kembali padamu saja.
Aku mencintaimu. Dan apa harus ada keraguan di dalamnya?
Jangan libatkan ragu dalam kita, cukuplah hubungan ini melibatkan aku, kau dan Tuhan saja.
"you say that you love the rain but you open your umbrella when it rains. you say that you love the sun but you find a shadow spot when it shines. you say that you love the wind, but you close your window when it blows.
"that's why i'm affraid you said that you love me too." - William Shakespeare
Begitu, kah yang kau ragukan? Yang kau takutkan? Sungguh, bagaimana mungkin Shakespeare membuatmu begitu lemah, membuatmu mundur beberapa langkah dari kita?
Baiklah kalau kau meragukanku. Tidak apa, aku masih akan tetap mengulurkan tanganku untuk menggandengmu dan mengosongkan bahuku untuk persandaran lelahmu.
Tapi, mari coba kau dengarkan aku sejenak. Aku menyukai hujan, tetesannya lembut sekali. Aku membuka payungku, apakah berarti aku membencinya? Tidak. Seberapapun kau menyukainya, ketika itu membuatmu sakit dan terluka, apa kau bahkan harus mengorbankan dirimu? Bagiku, ketika kau bisa mencintai dirimu, berarti artinya kau juga sudah siap memberikannya untuk orang lain.
Aku menyukai matahari, tapi aku tetap saja berteduh. Apa aku bersembunyi? Tidak. Tidak selamanya kau harus berdampingan dengan yang kau cintai. Hubungan dengan tanpa jarak, sungguh seperti kata tanpa spasi. Menyesakkan.
Aku menyukai angin, tapi mengapa aku menutup jendela? Aku tidak menutup diriku, atau kemungkinan tentang kita. Ada kalanya, setiap manusia ingin sekali menikmati kesendiriannya. Tidak selamanya, ketika itu berakhir aku akan kembali padamu saja.
Aku mencintaimu. Dan apa harus ada keraguan di dalamnya?
Jangan libatkan ragu dalam kita, cukuplah hubungan ini melibatkan aku, kau dan Tuhan saja.
Monday, February 17, 2014
Hari ke#17: Secangkir Senja di Matamu
Kepada pemilik mata secangkir senja.
Hei. Aku suka sekali memandang jauh ke dalam matamu. Sungguh teduh dan menentramkan. Aku melihat hamparan pasir luas disana, juga deburan ombak serupa di laut lepas. Tak lupa secangkir senja yang dituang begitu indah.
Hei. Aku suka sekali memperhatikan biji matamu diam-diam. Lucu sekali, bergerak ke kanan, ke kiri, lalu kau berkedip-kedip.
Apa seumur hidupmu kau selalu merasa bahagia seperti ini? Matamu berkata begitu, berbinar cerah sekali. Atau kau begitu pintar menyimpan lukamu dibalik secangkir senja di matamu?
Hei. Aku suka sekali memandang jauh ke dalam matamu. Sungguh teduh dan menentramkan. Aku melihat hamparan pasir luas disana, juga deburan ombak serupa di laut lepas. Tak lupa secangkir senja yang dituang begitu indah.
Hei. Aku suka sekali memperhatikan biji matamu diam-diam. Lucu sekali, bergerak ke kanan, ke kiri, lalu kau berkedip-kedip.
Apa seumur hidupmu kau selalu merasa bahagia seperti ini? Matamu berkata begitu, berbinar cerah sekali. Atau kau begitu pintar menyimpan lukamu dibalik secangkir senja di matamu?
Sunday, February 16, 2014
hari ke#16: Sendu yang Menggelayut
Kepada Sendu yang Menggelayutimu.
Kepadamu, Sendu.
Aku peringatkan padamu sekali ini saja, berhentilah memayunginya. Jangan membuatnya terbuai oleh keteduhanmu yang ragu. Sesungguhnya, masing-masing dari kita tahu, ia hanya sedang mencari arah dan bebenah dari masa lalu. Ia boleh saja berteduh padamu, sesekali. Tapi jangan biarkan ia menutup jendelanya dari aku--dari hal yang membuatnya melaju.
Kepadamu, hei, yang digelayuti Sendu.
Mari. Mari melaju bersama, tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya harus percaya, saat kau jatuh nanti, ada aku di belakangmu.
Kepadamu, Sendu.
Aku peringatkan padamu sekali ini saja, berhentilah memayunginya. Jangan membuatnya terbuai oleh keteduhanmu yang ragu. Sesungguhnya, masing-masing dari kita tahu, ia hanya sedang mencari arah dan bebenah dari masa lalu. Ia boleh saja berteduh padamu, sesekali. Tapi jangan biarkan ia menutup jendelanya dari aku--dari hal yang membuatnya melaju.
Kepadamu, hei, yang digelayuti Sendu.
Mari. Mari melaju bersama, tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya harus percaya, saat kau jatuh nanti, ada aku di belakangmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)