jangan salahkan semesta.
jika hidupku, berputar di sekelilingmu.
jangan salahkan Tuhan.
jika pusaranmu terlalu menarikku kuat menuju semestamu.
jangan salahkan kamu, tuan.
jika kamu menjadi pusat perputaranku.
Showing posts with label #blogproject. Show all posts
Showing posts with label #blogproject. Show all posts
Friday, November 30, 2012
putaran
Saturday, November 17, 2012
Catatan kematian
aku menggali lagi tanah yang masih merah itu. telaga rindu itu kembali terkuak, air mengalir deras dari dalamnya. hanya saja, air telaga itu tak lagi menyakitiku. ia hanya membuatku mengambang, tanpa asa, tanpa rasa. maka, kutenggelamkan diriku tanpa ragu. kutulis sendiri nisanku di atasnya. semoga semesta mengirim kabarnya padamu.
Wednesday, November 7, 2012
Friday, November 2, 2012
Obrolan Secangkir Teh
Aku merasakan radarmu memanggilku, memintaku bergegas. Ah, ternyata aku sedikit terlalu menikmati hangatnya matahari. tenang saja, aku tidak berhenti mencarimu, tidak akan. aku hanya menerima jamuan minum teh dari waktu.
Waktu mengajakku singgah sejenak dari perjalananku. Kami banyak mengobrol. apalagi topiknya kalau bukan kamu. Kami berandai-anadai dan waktu terus memberondong pertanyaan. Bagaimana jika seandainya kamu tidak lagi menungguku? Bagaimana jika seandainya semesta meminta waktuku? Bagaimana jika seandainya perjalannanku masih jauh? Tidakkah aku lelah? Aku hanya tertawa, menjawab sekenanya. Aku tidak mengkhawatirkan hal-hal itu. Aku lebih khawatir dengan pikiran terburuk yang bercokol di otakku.
Bagaimana jika seandainya aku memutuskan untuk berhenti mencari kamu?Bagaimana jika seandainya itu terjadi? Bagaimana jika seandainya aku menyerah? Apakahkamu masih menungguku? apakah aku sanggup berhenti dan merelakan kamu?
Aku meletakkan cangkir tehku dan berpamitan pada waktu. ia memberengut--belum puas, tapi tetap mengantarku ke depan pagar rumahnya, ramah. Memintaku singgah lagi kapan-kapan. Aku tersenyum saja, tidak mengiyakan. Aku masih memikirkan perkara kamu.
Bukankah seharusnya sebuah hubungan selalu seperti secangkir teh? Cangkirnya menjaga teh agar tidak tumpah, agar tetep aman di sana. Walaupun tahu teh itu tidak akan selamanya mengepul. Sedangkan teh? Ia bukannya sengaja menghilangkan panasnya. Keadaan yang memaksanya. Kalau bisa, ia ingin mengepul selamanya. Tapi apa daya, ia hanyabisa mempersembahkan apa yang ia punya--sepenuh hati. Aroma dan rasa manis dari butiran gula yang larut.
Radarmu kembali memanggil.
Tunggu saja. Aku akan datang. Aku pasti datang.
Jadi pastikan kamu masih di sana dan menyambutku dengan hangat. Atau mungkin dengan sepenuh hati--apapun bentuknya.
30.10.12
Sarah Aghnia Husna
Monday, October 29, 2012
Perahu
Perahu.
Perahuku mengambang, ditengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda.
***
Aku tidak menemukanmu, begitupun kamu. Tiba-tiba saja semesta mengaturnya. Membuat sebuah konspirasi kecil. Secara tidak sadar, aku mulai membuat perahuku. Secara tidak sadar, aku menjadikanmu pelitaku. Secara tidak sadar, keberanian merasuk dalam jiwaku. Aku berlayar, ke laut lepas. Aku tak punya alasan khusus. Hanya sebuah kalimat sederhanamu yang menggiringku ke laut, "Aku suka biru, karena laut itu biru."
Bahagiaku kian sempurna. Ada laut biru--aku berlayar di pundaknya, merasakan ombak--anak-anak rambutnya ikut menari. Ada langit biru. Dan ada kamu. Cukuplah bagiku. Aku tak keberatan jika esok tak datang lagi.
Namun, entah bagaimana kamu pergi. Aku terlalu menikmati ketidak sadaranku. Aku lupa dan selalu lupa mengikat kamu erat. Kamu pergi, tanpa memberiku apapun. Sisa pelitamu, kompas, pun pesan. Hanya sirna begitu saja, seperti terbawa ombak, seperti menguap menjadi awan.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Tanpa arah, tanpa pelita, tanpa kamu."
Perahu ini hanya mengambang, gamang. Seperti aku.
Mungkin kamu bukan pelitaku. Mungkin kamu hanya seeekor kunang-kunang. Mungkin hanya aku yang buta, hanya aku yang tuli, hanya aku yang bisu. Atau kamu yang mati rasa? Karena bersamamu, semua terasa benar.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Semua mengambang, gamang. Mana yang lebih baik? Mencari pelita baru dengan perahu yang sama? Atau karamkan saja sekalian? Masa bodoh dengan pelita. Atau lebih baik pulang dan menata hati?"
***
27.10.12
Sarah Aghnia Husna
Perahuku mengambang, ditengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda.
***
Aku tidak menemukanmu, begitupun kamu. Tiba-tiba saja semesta mengaturnya. Membuat sebuah konspirasi kecil. Secara tidak sadar, aku mulai membuat perahuku. Secara tidak sadar, aku menjadikanmu pelitaku. Secara tidak sadar, keberanian merasuk dalam jiwaku. Aku berlayar, ke laut lepas. Aku tak punya alasan khusus. Hanya sebuah kalimat sederhanamu yang menggiringku ke laut, "Aku suka biru, karena laut itu biru."
Bahagiaku kian sempurna. Ada laut biru--aku berlayar di pundaknya, merasakan ombak--anak-anak rambutnya ikut menari. Ada langit biru. Dan ada kamu. Cukuplah bagiku. Aku tak keberatan jika esok tak datang lagi.
Namun, entah bagaimana kamu pergi. Aku terlalu menikmati ketidak sadaranku. Aku lupa dan selalu lupa mengikat kamu erat. Kamu pergi, tanpa memberiku apapun. Sisa pelitamu, kompas, pun pesan. Hanya sirna begitu saja, seperti terbawa ombak, seperti menguap menjadi awan.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Tanpa arah, tanpa pelita, tanpa kamu."
Perahu ini hanya mengambang, gamang. Seperti aku.
Mungkin kamu bukan pelitaku. Mungkin kamu hanya seeekor kunang-kunang. Mungkin hanya aku yang buta, hanya aku yang tuli, hanya aku yang bisu. Atau kamu yang mati rasa? Karena bersamamu, semua terasa benar.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Semua mengambang, gamang. Mana yang lebih baik? Mencari pelita baru dengan perahu yang sama? Atau karamkan saja sekalian? Masa bodoh dengan pelita. Atau lebih baik pulang dan menata hati?"
***
27.10.12
Sarah Aghnia Husna
Wednesday, October 10, 2012
Kisah Hujan, Bumi dan Matahari
Hujan memeluk bumi, menebus tetes demi tetes rindu yang tersimpan lama.Bumi bukannya tidak suka pada matahari, matahari menghangatkannya, sungguh. Matahari begitu setia. Hanya saja ia butuh hujannya. Rindu itu usai sudah. Terbayar lunas. Goresan pelangi menandakan perpisahan mereka. Mereka-- hujan dan bumi berpisah, membawa asa. Semoga semesta kembali berkonspirasi mempertemukan mereka. Hujan menitip pesan bagi matahari, agar menjaga buminya selama ia pergi. Manusia yang menggerutu ketika hujan tiba hanyalah mereka yang tidak tahu, betapa bumi dan hujan saling merindu. Mereka adalah yang tidak tahu betapa mereka menunggu semesta mempertemukan mereka. Mereka adalah yang seharusnya mulai belajar bahwa cinta tidaklah harus selalu bersama. Mereka adalah yang harus belajar bahwa sedikit saja kebahagiaan adalah sesuatu yang layak dibalas dengan syukur.
Oktober 2012,
sarah aghnia husna
Oktober 2012,
sarah aghnia husna
Subscribe to:
Posts (Atom)

