Showing posts with label #prosaproject #blogproject. Show all posts
Showing posts with label #prosaproject #blogproject. Show all posts

Monday, December 31, 2012

denting piano


denting piano menyeruak dalam kepala.
denting pianomu merusak batin, menghancurkan angan-angan.
denting indah pianomu membuat saya layaknya boneka kayu.
saya muak.
ingin muntah rasanya di hadapanmu.
denting palsu. merusak melodi. merusak tangga nada.
pergi saja.
denting palsu piano tuamu.
hilanglah saja, tenggelam dalam keheningan.
bangun saja pusaramu sendiri.
kubur jasad nadanya dalam tanah basah yang merah.
bermainlah lagi, tuan.
tunjukkan denting nada yang sempurna.
ia telah mati, mengubur nadanya sendiri.
perdengarkan lagi pada saya, tuan.
denting indah yang lama saya rindukan.


titik

hari ini aku berharap aku bermimpi. hari ini aku berharap mimpi itu datang kepada malam-malamku. aku berharap Tuhan mengijinkan aku mengintip sedikit petunjuk tentang masa depan. hari ini, asalkau tahu, Tuan. aku meringkuk ketakutan. aku tidak tahu kemana harus melangkah. aku tidak tahu kemana harus sembunyi. bahkan tidak tahu harus tetap berjalan atau lebih baik berhenti. aku tidak takut akan apapun. tapi kali ini berbeda. aku takut tidak akan menemukanmu. aku takut tidak akan menemukan masa depan. titik. titik itu menggangguku, aku tak dapat menemukan cahayaku. titik

Saturday, December 1, 2012

gila

sebut aku gila, karena kamulah semestaku.
sebut aku tidak waras, karena segala hal tentangmu selalu menjadi menarik.
sebut aku sinting karena segala hal tentangmu selalu terasa benar.
sebut aku ketiganya karena menyapamu saja aku tak bernyali

Wednesday, July 11, 2012

Tentang Kematian


                Seorang lelaki berlari membelah malam. Peluh mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Ia tampak lelah, namun sesekali ia menoleh ke belakang. Waspada. Walau begitu, ia tetap memaksa mengayuhkan langkahnya yang kian memendek karena energinya yang menipis setelah seharian lebih ia berlari. Juga karena dahan-dahan dan ranting-ranting pohon yang mulai mengganggunya.
                Dua Hari yang lalu, mimpi itu kembali datang. Ia akan mati besok, artinya ia kan mati setelah hari ini dalam beberapa jam ke depan. Seseorang datang ke dalam mimpinya dan mengatakan hal itu padanya. Sebelumnya selama seminggu tidurnya tak lagi nyenyak. Ia terus bermimpi tanpa ujung yang jelas. Mulai dari rentetan masa kecilnya hingga sebuah mimpi dimana ia melihat seluruh keluarganya menangisi jasadnya.
                Sempat ia mendatangi “orang pintar” dan bertanya perihal mimpi-mimpinya. Lelaki tua di hadapannya mendadak pucat pasi setelah menyembur air yang entah apa campurannya ke dupa yang terbakar. Wajahnya seputih jenggotnya yang panjang hampir sedada. Saat ia bertanya apa yang lelaki tua itu lihat, lelaki itu berulang kali berkata, Sebentar, dan kembali merapal mantra.
                Bau dupa bakar kian menyengat, menyeruak ke seluruh ruangan menusuk hidungnya yang mulai tak nyaman. Lelaki tua yang katanya “orang pintar” itu akhirnya mendesah, menyerah kemudian berkata, Kau akan mati. Besok. Di saat fajar pertama mulai menyinari bumi.
                Ia tersentak. Bagaimana orang pintar ini tahu pesan di mimpi terakhirnya bahkan sebelum ia mengatakannya? Namun, ia kembali bertanya, Dimana?
                Saya tidak tahu, saya hanya membaca dan menafsirkan apa yang datang dalam mimpimu, lelaki tua itu berujar sambil menggeleng.
                Ia hampir gila. Atau mungkin sudah. Ia akan mati besok! Pikiran pertama yang melintas di kepalanya adalah ia tidak boleh tidur. Itu hanya akan mempermudah kematian menyergapnya tanpa permisi. Ia lantas hampir seharian menyusuri kota, mencari kafein terbaik yang paling ampuh untuk membuatnya terjaga.
                Waktu memburunya. Genderang kemar=tian terasa memekakkan telinganya.
                Ia berlari menjauhi kota. Berharap ada tempat persembunyian baginya. Dimana tiada sesuatupun disana, hanya dirinya. Kalau perlu ia ingin sekali berkelana menembus dimensi, menipu waktu juga takdirnya. Dan hari mulai berganti malam. Kelam menyeliimuti bumi. Suasana mencekam menggelayutinya di antara atmosfer dalam hutan ini.
Waktunya tak banayk untuk kabur dari kematiannya. Jika ia berhasil kabur setidaknya hingga fajar datang sekali lagi saja, mungkin ia bisa lolos.
                Otaknya mulai tidak beres. Ia berkhayal seperti apakah wujud malaikat yang akan menjemputnya? Seperti apakah rasanya mati? Sakitkah? Ia terkekeh.
                Namun sepersekian detik kemudian ia mengusir pikiran-pikiran gila dalam benaknya dan kembali mempercepat larinya. Ia terus berlari dan sesekali melirik jam di tangannya. Sebentar lagi. Hanya sedikit lagi. Detik terakhir di hari itu matahari mulai tampak bersinar walau masih malu-malu.
                Dan ia bebas!
                Ia tidak melihat sosok itu. Sosok yang beberapa menit yang lalau sibuk ia bayangkan. Ia merasa ringan. Ringaaaaan sekali. Ia menghela napas lega. Namun aneh. Ia tak merasa lelah setelah hampir sehari lebih ia berlari. Ia tak merasa….
                Dimana detak jantungnya? Dimana embusan napasnya? Dimana hangatnya suhu tubuhnya?
                Ia menoleh ke bawah dan mendapati raganya tergolek bermandikan darah di dasar sebuah jurang. Lelaki itu tak dapat berpikir banyak. Ia berusaha mencari tahu dengan melihat sekeliling. Matanya tibia-tiba membelalak saat melihat suatu sisi.
                Kemudian gelap.
                Genderang kematian kemudian mengantarkannya menuju tujuan selanjutnya. Malaikat pencabut nyawa, Tuhan, penghuni langit dan bumi mungkin terkekeh dengan usahanya yang sia-sia. Sebuah asa tanpa harapan nyata.
                Tak akan ada yang dapat lolos dari kematian. Pun saat kau bersembunyi di tempat yang tak akan dapat dijangkau siapapun di dunia yang fana ini.
Kematian adalah pasti. Kematian adalah sebuah keniscayaan. Dimana ia akan mengantarmu untuk pemberhentianmu yang selanjutnya dari hiruk pikuk duniamu.

Thursday, June 28, 2012

Lelaki Bersayap Hujan


Saya baru pertama melihat kamu, tadi siang. Tuhan mempertemukan kita saat hujan turun ke bumi, menyapa saya dengan gerimis kecil. Juga dengan desah lembut angin yang terkadang mampir di antara kulit saya. Saya merapatkan lipatan tangan saya di depan dada, berharap dinginnya akan berkurang. Percuma. Saya menyeringai merutuki usaha sia-sia saya.
Lalu kamu datang, dan kita bertukar pandang layaknya kisah cinta dalam sebuah novel. Mata kita beradu sepersekian detik. Kilatan sepersekian detik itu memacu jantung saya untuk memompa lebih cepat. Untuk berlari lebih heboh layaknya pacuan kuda. Tapi kamu segera berlalu sesaat.
Ah. Ini bukan tempat dan waktu yang tepat. Saya merajuk kepada takdir yang tidak menjadwalkan segalanya dengan tepat dan cermat—setidaknya belum. Saya menunggu kamu keluar dari sana, sebuah tempat pencetakan foto kecil di sudut jalan. Saya baru sadar kamu sedari tadi menenteng sebuah kamera yang juga menggantung di lehermu yang terlihat jenjang, indah.
Tetapi, tidak akan terjadi percakapan. Persis seperti yang saya ramalkan sebelumnya. Saya tidak punya banyak waktu. Dan seperti mengerti, kamu muncul  dengan seorang teman. Tidak, saya masa bodoh dengan temanmu. Saya lebih tertarik dengan sesuatu di balik punggungmu. Saya berharap saya berimajinasi karena saya melihat untaian sayap indah melengkung terbentuk oleh butiran gerimis yang membelah bumi. Saya mengerjapkan mata, takjub.
Lalu kamu mengobrol. Ah. Saya rasa kamu perlu mendapat sebuah medali. Kamu sukses membuat saya jatuh cinta, tenggelam dalam imajinasi liar bernama asa. Termakan oleh cahaya yang terlihat berpendar di wajahmu yang berseri.
Kulitmu cokelat, terbakar teriknya matahari.
Badanmu yang tegap dan tinggi, saya mungkin hanya sepundakmu.
Matamu. Saya benar-benar jatuh cinta. Matamu yang tampak seperti garis tipis di bawah bingkai alismu yang tebal. Sipit, tapi memancarkan kehangatan yang sempurna.
Kemeja lengan pendek berbahan flannel kotak-kotak cokelat dengan celana pendek warna senada melekat indah membalut ragamu.
Ah. Rambutmu, saya suka sekali. Beberapa helai menjuntai layu dan basah menyentuh dahimu akibat terpaan gerimis yang kamu tembus.
Saya masih mengamati kamu. Dan terus begitu.
Saya harap temanmu mulai jengah dan membisikkanmu kata-kata semacam ini; Hei, gadis itu terus memandangimu. Saya rasa dia tertarik padamu. Datang dan sapalah dia.
Saya masih terus menunggu kamu datang, di bawah gerimis yang mulai reda dan menyeret matahari untuk segera bertugas lagi. Saya masih berdiri sendiri mengagumi setiap jengkal titipan Tuhan yang dipercayakan melekat di ragamu.
Tapi.
Saya sudah bilang waktu saya tidak lama. Saya sudah bilang saya tidak punya cukup, apalagi banyak waktu. Seseorang menghampiri saya, membuyarkan fantasi gila saya dan menyeret saya pada kenyataan. Saya masih memandangi kamu. Berharap kamu sedikit saja berpaling melihat saya. Dan hanya ekor mata itu yang terakhir saya tangkap. Ekor mata yang menunjukkan bahwa kamu menyadari keberadaan saya.
Taukah kamu, lelaki bersayap hujan? Saya terus berdoa pada Tuhan hingga kini.
Tuhan, bolehkah saya berharap? Bolehk ah saya bertemu dengan dia lagi—lelaki bersayap hujan? Bolehkah saya sejenak saja sekali lagi mengagumi ciptaanmu? Bolehkah saat waktu itu tiba segala ketidakmungkinan menjadi mungkin, dimana segala sesuatunya terasa tepat? Bolehkah saatnya nanti takdir mampu menjadwalkannya dengan sempurna? Bolehkah saya?