Showing posts with label rutinitas. Show all posts
Showing posts with label rutinitas. Show all posts

Sunday, August 11, 2013

-

dulu, ketika ia masih suka bertanya banyak pada orang-orang yang bertubuh lebih tinggi-besar darinya, ia tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.
ia akan terus sibuk bertanya dan membuat orang-orang dewasa itu mendesah malas. semakin dilayani, semakin bawel saja mulut kecilnya bertanya soal yang lain.
ketika ia beranjak besar--tingginya sudah hampir sama dengan orang gede yang selalu ia tanyai, iajustru lebih banyak diam. berusaha memahami walaupun tidak mengerti.
banyak hal yang tidak bisa ia pertanyakan walau ingin. banyak hal yang tidak pernah menemukan jawabannnya walau harus. banyak hal yang membuatnya lebih memilih diam.
terkadang, lebih menyenangkan untuk tidak mengerti apa-apa daripada menanggung luka pada ujung keingintahuan.

Monday, April 9, 2012

sepi

Sakit. Rasa kesepian bahkan lebih sakit dari luka di tangan saya. Di saat waktu terus berputar dan saya hanya bisa menyaksikan. Saat semua orang enggan untuk sekerdar bersua. Dan keheningan mencekat menikam saya perlahan. Menikmati setiap detik rasa sakit itu menyusup dalam raga saya. Membunuh sya perlahan tanpa ampun. Saat itu, sejenak saya tidak ingat bagaimana caranya bahagia. Saya lupa rasanya terjebak dalam lautan manusia. Yang ada hanya saya. Dan waktu. Dan hampa. Dan dari situlah saya belajar untuk menghargai setiap detik luapan bahagia, menyimpan letupan-letupan kecil untuk setiap ekspresi. Dan menikmati setiap lembaran baru kehidupan untuk di ingat, sebagai memori abadi hidup.

april 2012, sarah aghnia husna

Monday, April 2, 2012

Kita

Ingatkah kamu sore-sore yang telah kita lalui bersama? Dan. Hangatnya matahari jam setengah empat sore favorit saya yang selalu kamu herankan. Juga, dua bangku yang selalu menjadi saksi bisu pertemuan-pertemuan kita yang menyenangkan. Taukah kamu, saya merindukan kamu dengan sangat? Merindukan candaan kita tentang hidup. Merindukan dua cangkir kafein pekat yang selalu saya sajikan untuk kita berdua. Namun entah kenapa akhir-akhir ini tidak tersentuh olehmu. Orang bilang saya gila. Mungkin. Mereka bilang, kamu tidak nyata. Hanya siluet, hanya bayangan yang lewat. Tapi saya yakin, kita masih ada. Ya. Kita. Semua tentang saya dan kamu. Semua waktu yang terlewat bersama antara saya dan kamu. Mereka mungkin hanya iri atau mengada-ada. Iya, kan? Saya rindu kita. Jadi, maukah kamu kembali mengisi bangku kosong di hadapan saya dan kembali mengisi hati saya dengan butiran kebahagiaan? Saya harap, ya.