Thursday, March 27, 2014

mengaduk senja

aku berlayar ke dalam mata teduhmu, mengikuti aliran anak ombakmu yang begitu tenang.
aku merenung, berpikir begitu lama dengan beragam mengapa.
mengapa.
aku hanya diam menatap punggungmu, puas.
tak ada lagi yang harus dicukupi, siluetmu saja sudah lebih dari cukup.
senja itu kita bertegur sapa, membuatku berkenalan dengan
ribuan kupu yang mengaduk senjaku.
hari itu juga, pikiranku sedang teraduk karena berbagai masalah jahat yang akhir-akhir ini menghadang.
tapi sekali lagi, terima kasih karena kamu telah
mengaduk senjaku.

Saturday, March 22, 2014

mencinta dengan sederhana. bukankah kesederhanaan itu begitu indah? tanpa kata letih tanpa ada pamrih. ikhlas dalam memberi dan menerimanya sekaligus. tak ada resah dan gelisah meski dalam susah.

kesederhanaan itu mahal sekali harganya, tidak bisa dinilai dengan uang sekalipun. tapi bagi jiwa-jiwa yang mengerti, sesungguhnya sederhana selalu melingkupi jalanmu menuju rumah.

Friday, February 21, 2014

hari ke#21: untuk @kucingpukpuk

Hai. Salam rindu dari sini.

Meski sebenarnya baru saja menginjak sembilan bulan, seperti bayi dalam kandungan, rinduku pada kalian semakin buncah saja.

Apa kabar? Sehat, kan? Apa kalian sudah tambah dewasa? Yang wanita mulai bermakeup, yang lelaki mulai sibuk merawat diri? Hihi. Atau kalian semakin jauh lebih tinggi dari aku? Hehe.

Bagaimana kuliahnya? Apa sudah semakin dekat dengan cita-cita kalian?

Bagaimana kisah cintanya? Apa hati-hati kalian masih seperti masa SMA?

Aku rindu sekali dengan kalian semua. Meski jarak memisahkan kita, semoga Tuhan selalu menjaga hangatnya rindu dalam tiap hati kita.

ps. jaga kesehatan, lagi musim sakit!


salam rindu dari Surabaya,

pukpuk ranger 35- sarah aghnia husna

Wednesday, February 19, 2014

hari ke#19 : Kepadamu, yang Meragu

Kepadamu, yang Meragu.

"you say that you love the rain but you open your umbrella when it rains. you say that you love the sun but you find a shadow spot when it shines. you say that you love the wind, but you close your window when it blows.
"that's why i'm affraid you said that you love me too." - William Shakespeare

Begitu, kah yang kau ragukan? Yang kau takutkan? Sungguh, bagaimana mungkin Shakespeare membuatmu begitu lemah, membuatmu mundur beberapa langkah dari kita?

Baiklah kalau kau meragukanku. Tidak apa, aku masih akan tetap mengulurkan tanganku untuk menggandengmu dan mengosongkan bahuku untuk persandaran lelahmu.

Tapi, mari coba kau dengarkan aku sejenak. Aku menyukai hujan, tetesannya lembut sekali. Aku membuka payungku, apakah berarti aku membencinya? Tidak. Seberapapun kau menyukainya, ketika itu membuatmu sakit dan terluka, apa kau bahkan harus mengorbankan dirimu?  Bagiku, ketika kau bisa mencintai dirimu, berarti artinya kau juga sudah siap memberikannya untuk orang lain.

Aku menyukai matahari, tapi aku tetap saja berteduh. Apa aku bersembunyi? Tidak. Tidak selamanya kau harus berdampingan dengan yang kau cintai. Hubungan dengan tanpa jarak, sungguh seperti kata tanpa spasi. Menyesakkan.

Aku menyukai angin, tapi mengapa aku menutup jendela? Aku tidak menutup diriku, atau kemungkinan tentang kita.  Ada kalanya, setiap manusia ingin sekali menikmati kesendiriannya. Tidak selamanya, ketika itu berakhir aku akan kembali padamu saja.

Aku mencintaimu. Dan apa harus ada keraguan di dalamnya?
Jangan libatkan ragu dalam kita, cukuplah hubungan ini melibatkan aku, kau dan Tuhan saja.

Monday, February 17, 2014

Hari ke#17: Secangkir Senja di Matamu

Kepada pemilik mata secangkir senja.

Hei. Aku suka sekali memandang jauh ke dalam matamu. Sungguh teduh dan menentramkan. Aku melihat hamparan pasir luas disana, juga deburan ombak serupa di laut lepas. Tak lupa secangkir senja yang dituang begitu indah.

Hei. Aku suka sekali memperhatikan biji matamu diam-diam. Lucu sekali, bergerak ke kanan, ke kiri, lalu kau berkedip-kedip.

Apa seumur hidupmu kau selalu merasa bahagia seperti ini? Matamu berkata begitu, berbinar cerah sekali. Atau kau begitu pintar menyimpan lukamu dibalik secangkir senja di matamu?

Sunday, February 16, 2014

hari ke#16: Sendu yang Menggelayut

Kepada Sendu yang Menggelayutimu.

Kepadamu, Sendu.
Aku peringatkan padamu sekali ini saja, berhentilah memayunginya. Jangan membuatnya terbuai oleh keteduhanmu yang ragu. Sesungguhnya, masing-masing dari kita tahu, ia hanya sedang mencari arah dan bebenah dari masa lalu. Ia boleh saja berteduh padamu, sesekali. Tapi jangan biarkan ia menutup jendelanya dari aku--dari hal yang membuatnya melaju.

Kepadamu, hei, yang digelayuti Sendu.
Mari. Mari melaju bersama, tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya harus percaya, saat kau jatuh nanti, ada aku di belakangmu.

Saturday, February 15, 2014

Hari ke#15: Kepadamu

Kepadamu.

"if you need help, ask."

Aku tahu. Bukannya kau tidak mau, tapi kau tidak tahu bagaimana. Sejak awal kau tidak mau membiasakan diri untuk meminta, kau selalu ingin melayani. Itu baik, tapi terkadang menyakitimu.

Aku tahu dengan sangat baik. Kau hanya ingin terlihat baik-baik saja. Kau memang tidak suka mengalah, apalagi terlihat kalah dan lemah.

Baiklah, begini saja. Jangan berubah, jika kau merasa lelah, aku punya dua telinga untuk mendengarkanmu dan sepotong bahu tempatmu bersandar.