Hai. Salam rindu dari sini.
Meski sebenarnya baru saja menginjak sembilan bulan, seperti bayi dalam kandungan, rinduku pada kalian semakin buncah saja.
Apa kabar? Sehat, kan? Apa kalian sudah tambah dewasa? Yang wanita mulai bermakeup, yang lelaki mulai sibuk merawat diri? Hihi. Atau kalian semakin jauh lebih tinggi dari aku? Hehe.
Bagaimana kuliahnya? Apa sudah semakin dekat dengan cita-cita kalian?
Bagaimana kisah cintanya? Apa hati-hati kalian masih seperti masa SMA?
Aku rindu sekali dengan kalian semua. Meski jarak memisahkan kita, semoga Tuhan selalu menjaga hangatnya rindu dalam tiap hati kita.
ps. jaga kesehatan, lagi musim sakit!
salam rindu dari Surabaya,
pukpuk ranger 35- sarah aghnia husna
Friday, February 21, 2014
Wednesday, February 19, 2014
hari ke#19 : Kepadamu, yang Meragu
Kepadamu, yang Meragu.
"you say that you love the rain but you open your umbrella when it rains. you say that you love the sun but you find a shadow spot when it shines. you say that you love the wind, but you close your window when it blows.
"that's why i'm affraid you said that you love me too." - William Shakespeare
Begitu, kah yang kau ragukan? Yang kau takutkan? Sungguh, bagaimana mungkin Shakespeare membuatmu begitu lemah, membuatmu mundur beberapa langkah dari kita?
Baiklah kalau kau meragukanku. Tidak apa, aku masih akan tetap mengulurkan tanganku untuk menggandengmu dan mengosongkan bahuku untuk persandaran lelahmu.
Tapi, mari coba kau dengarkan aku sejenak. Aku menyukai hujan, tetesannya lembut sekali. Aku membuka payungku, apakah berarti aku membencinya? Tidak. Seberapapun kau menyukainya, ketika itu membuatmu sakit dan terluka, apa kau bahkan harus mengorbankan dirimu? Bagiku, ketika kau bisa mencintai dirimu, berarti artinya kau juga sudah siap memberikannya untuk orang lain.
Aku menyukai matahari, tapi aku tetap saja berteduh. Apa aku bersembunyi? Tidak. Tidak selamanya kau harus berdampingan dengan yang kau cintai. Hubungan dengan tanpa jarak, sungguh seperti kata tanpa spasi. Menyesakkan.
Aku menyukai angin, tapi mengapa aku menutup jendela? Aku tidak menutup diriku, atau kemungkinan tentang kita. Ada kalanya, setiap manusia ingin sekali menikmati kesendiriannya. Tidak selamanya, ketika itu berakhir aku akan kembali padamu saja.
Aku mencintaimu. Dan apa harus ada keraguan di dalamnya?
Jangan libatkan ragu dalam kita, cukuplah hubungan ini melibatkan aku, kau dan Tuhan saja.
"you say that you love the rain but you open your umbrella when it rains. you say that you love the sun but you find a shadow spot when it shines. you say that you love the wind, but you close your window when it blows.
"that's why i'm affraid you said that you love me too." - William Shakespeare
Begitu, kah yang kau ragukan? Yang kau takutkan? Sungguh, bagaimana mungkin Shakespeare membuatmu begitu lemah, membuatmu mundur beberapa langkah dari kita?
Baiklah kalau kau meragukanku. Tidak apa, aku masih akan tetap mengulurkan tanganku untuk menggandengmu dan mengosongkan bahuku untuk persandaran lelahmu.
Tapi, mari coba kau dengarkan aku sejenak. Aku menyukai hujan, tetesannya lembut sekali. Aku membuka payungku, apakah berarti aku membencinya? Tidak. Seberapapun kau menyukainya, ketika itu membuatmu sakit dan terluka, apa kau bahkan harus mengorbankan dirimu? Bagiku, ketika kau bisa mencintai dirimu, berarti artinya kau juga sudah siap memberikannya untuk orang lain.
Aku menyukai matahari, tapi aku tetap saja berteduh. Apa aku bersembunyi? Tidak. Tidak selamanya kau harus berdampingan dengan yang kau cintai. Hubungan dengan tanpa jarak, sungguh seperti kata tanpa spasi. Menyesakkan.
Aku menyukai angin, tapi mengapa aku menutup jendela? Aku tidak menutup diriku, atau kemungkinan tentang kita. Ada kalanya, setiap manusia ingin sekali menikmati kesendiriannya. Tidak selamanya, ketika itu berakhir aku akan kembali padamu saja.
Aku mencintaimu. Dan apa harus ada keraguan di dalamnya?
Jangan libatkan ragu dalam kita, cukuplah hubungan ini melibatkan aku, kau dan Tuhan saja.
Monday, February 17, 2014
Hari ke#17: Secangkir Senja di Matamu
Kepada pemilik mata secangkir senja.
Hei. Aku suka sekali memandang jauh ke dalam matamu. Sungguh teduh dan menentramkan. Aku melihat hamparan pasir luas disana, juga deburan ombak serupa di laut lepas. Tak lupa secangkir senja yang dituang begitu indah.
Hei. Aku suka sekali memperhatikan biji matamu diam-diam. Lucu sekali, bergerak ke kanan, ke kiri, lalu kau berkedip-kedip.
Apa seumur hidupmu kau selalu merasa bahagia seperti ini? Matamu berkata begitu, berbinar cerah sekali. Atau kau begitu pintar menyimpan lukamu dibalik secangkir senja di matamu?
Hei. Aku suka sekali memandang jauh ke dalam matamu. Sungguh teduh dan menentramkan. Aku melihat hamparan pasir luas disana, juga deburan ombak serupa di laut lepas. Tak lupa secangkir senja yang dituang begitu indah.
Hei. Aku suka sekali memperhatikan biji matamu diam-diam. Lucu sekali, bergerak ke kanan, ke kiri, lalu kau berkedip-kedip.
Apa seumur hidupmu kau selalu merasa bahagia seperti ini? Matamu berkata begitu, berbinar cerah sekali. Atau kau begitu pintar menyimpan lukamu dibalik secangkir senja di matamu?
Sunday, February 16, 2014
hari ke#16: Sendu yang Menggelayut
Kepada Sendu yang Menggelayutimu.
Kepadamu, Sendu.
Aku peringatkan padamu sekali ini saja, berhentilah memayunginya. Jangan membuatnya terbuai oleh keteduhanmu yang ragu. Sesungguhnya, masing-masing dari kita tahu, ia hanya sedang mencari arah dan bebenah dari masa lalu. Ia boleh saja berteduh padamu, sesekali. Tapi jangan biarkan ia menutup jendelanya dari aku--dari hal yang membuatnya melaju.
Kepadamu, hei, yang digelayuti Sendu.
Mari. Mari melaju bersama, tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya harus percaya, saat kau jatuh nanti, ada aku di belakangmu.
Kepadamu, Sendu.
Aku peringatkan padamu sekali ini saja, berhentilah memayunginya. Jangan membuatnya terbuai oleh keteduhanmu yang ragu. Sesungguhnya, masing-masing dari kita tahu, ia hanya sedang mencari arah dan bebenah dari masa lalu. Ia boleh saja berteduh padamu, sesekali. Tapi jangan biarkan ia menutup jendelanya dari aku--dari hal yang membuatnya melaju.
Kepadamu, hei, yang digelayuti Sendu.
Mari. Mari melaju bersama, tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya harus percaya, saat kau jatuh nanti, ada aku di belakangmu.
Saturday, February 15, 2014
Hari ke#15: Kepadamu
Kepadamu.
"if you need help, ask."
Aku tahu. Bukannya kau tidak mau, tapi kau tidak tahu bagaimana. Sejak awal kau tidak mau membiasakan diri untuk meminta, kau selalu ingin melayani. Itu baik, tapi terkadang menyakitimu.
Aku tahu dengan sangat baik. Kau hanya ingin terlihat baik-baik saja. Kau memang tidak suka mengalah, apalagi terlihat kalah dan lemah.
Baiklah, begini saja. Jangan berubah, jika kau merasa lelah, aku punya dua telinga untuk mendengarkanmu dan sepotong bahu tempatmu bersandar.
"if you need help, ask."
Aku tahu. Bukannya kau tidak mau, tapi kau tidak tahu bagaimana. Sejak awal kau tidak mau membiasakan diri untuk meminta, kau selalu ingin melayani. Itu baik, tapi terkadang menyakitimu.
Aku tahu dengan sangat baik. Kau hanya ingin terlihat baik-baik saja. Kau memang tidak suka mengalah, apalagi terlihat kalah dan lemah.
Baiklah, begini saja. Jangan berubah, jika kau merasa lelah, aku punya dua telinga untuk mendengarkanmu dan sepotong bahu tempatmu bersandar.
Thursday, February 13, 2014
hari ke#13 : Kepada Kau yang Berjanji
Kepada Kau yang Berjanji Tak Akan Menangis Lagi .
Sudah kubilang padamu, jangan percaya siapapun. Percayalah hanya padaNya. Manusia hanya akan membuatmu sakit.
Kau membuktikannya sendiri betapa kejamnya makhluk bernama manusia itu. Dan akhirnya luka lamamu teriris lagi, kan?
Akhirnya kau hanya akan terus membentengi dirimu lebih rapat. Kembali kepada ketidakpercayaanmu yang lalu. Padahal akhir-akhir ini kulihat kau mengakrabi kepercayaanmu pada manusia. Miris.
Hapus air matamu, kau sudah berjanji. Semenjak membaca puisi Adimas Immanuel. Engkau Berjanji Tak Akan Menangis Lagi, judulnya.
Kuatlah. Tegarlah. Berdirilah sendiri.
Sudah kubilang padamu, jangan percaya siapapun. Percayalah hanya padaNya. Manusia hanya akan membuatmu sakit.
Kau membuktikannya sendiri betapa kejamnya makhluk bernama manusia itu. Dan akhirnya luka lamamu teriris lagi, kan?
Akhirnya kau hanya akan terus membentengi dirimu lebih rapat. Kembali kepada ketidakpercayaanmu yang lalu. Padahal akhir-akhir ini kulihat kau mengakrabi kepercayaanmu pada manusia. Miris.
Hapus air matamu, kau sudah berjanji. Semenjak membaca puisi Adimas Immanuel. Engkau Berjanji Tak Akan Menangis Lagi, judulnya.
Kuatlah. Tegarlah. Berdirilah sendiri.
Wednesday, February 12, 2014
hari ke#12: Tiga
Halo. Maaf kemarin tidak menulis untukmu lagi. Kemarin aku sibuk sekali, walaupun itu tidak pantas jadi alasan. Bagaimana hari-hari pertamamu di perantauan untuk yang kedua kali ini? Kalau kau setuju denganku, sejujurnya semua ini melelahkan, bukan? Tapi tidak sepertiku, kau jarang mengeluh.
Aku ingin sekali bertanya kabar secara langsung, setidaknya dengan membuat ponselmu bergetar atau me-mention surat ini padamu. Tapi kurasa, aku tidak seberani itu. Di hadapanmu keberanianku mencicit.
Baiklah, aku rasa mungkin ini surat terakhirku padamu. Jika aku memikirkanmu dan kepalaku rasanya ingin meledak, aku akan menuliskannya lagi untukmu.
Aku ingin sekali bertanya kabar secara langsung, setidaknya dengan membuat ponselmu bergetar atau me-mention surat ini padamu. Tapi kurasa, aku tidak seberani itu. Di hadapanmu keberanianku mencicit.
Baiklah, aku rasa mungkin ini surat terakhirku padamu. Jika aku memikirkanmu dan kepalaku rasanya ingin meledak, aku akan menuliskannya lagi untukmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)