Tuesday, July 2, 2013

-

bisa jadi ia pecinta hujan.
ia selalu menari dalam pelukan hujan.
ia tak pernah mengeluh meski hujan menusuk permukaan kulitnya yang rapuh.

barangkali ia pemuja hujan.
sejak pertama hujan mengetuk pintu jendelanya, tak terlewatkan semalam pun jika hujan memghampirinya.

tapi ia selalu cemburu, karena hujan selalu datang bersama mendung.
ia benci sekali mendung.
mendung selalu mengantar perkabungan padanya.
mendung tak pernah bersahabat dengannya.

ia hanya ingin ditemani. 
ia tidak suka sendirian.
hari inipun ia masih meringkuk di kolong langit.
berharap hujan akan merindukannya.

Monday, July 1, 2013

balasan sepotong rindumu

Kepada kamu, yang mungkin sedang meringkuk di sofa sambil memandangi layar ponsel. Menunggu saya menghubungi, sekedar mengucap 'selamat malam'. Atau sesekali melirik pintu berharap saya berjingkat masuk memeluk kamu.

Bagaimana kabar kamu? Sungguh saya sedang tidak baik, saya rindu sekali dengan kamu. Saya hampir gila menghitung hari yang tetsisa agar lekas menemui kamu. Haha. Tidak mempan ya, menangkis cemberut kamu?

Saya sadar, saya bujan lelaki yang romantis. Saya tidak sanggup memberi waktu saya sepenuhnya pada kamu. Saya tidak mungkin terus-terusan menelpon kamu. Kamu tahu mengapa.

Saya minta maaf, saya bukan lelaki baik. Dan kamu terlalu sempurna bagi saya
Sudahlah, kata-kata tak akan mampu menjelaskan dengan penuh.

Yang penting, saya akan datang. Maaf sekali lagi sudah terlalu banyak membuat kamu menunggu.

Tunggu saya, ya? Saya tidak akan membuat kamu kecewa lagi.

Wednesday, June 5, 2013

kantor pos

kantor pos

ia tua, oranye dan terabaikan
semenjak banyak yang meniru kerjanya
semenjak orang menganggap ia bau apak, batu tanah

tapi ia tetaplah si oranye yang dulu
tetap menyambut ramah semua surat yang singgah
meski
surat-surat di sudut ruangan sudah mengomel minta segera dikirim
mereka tak betah, mencibir tempat tua itu

kantor pos
tempat persinggahan yang berusaha mengikuti laju waktu
namun malah diterkam maut
lorong-lorongnya bernyanyi lirih
menyambut keniscayaan

kantor pos
si tua, oranye yang menjadi saksi
betapa pernah ada cinta dalam dirinya
betapa cinta begitu mudah berganti menjadi sunyi

Tuesday, June 4, 2013

kausa

--kausa

kausa bermetamorfosa menjadi
layaknya intensitas teko pada cangkir yang semula kosong
dan kini terisi hamparan ladang yang tersembunyi
kolong langit yang malu untuk menampakkan diri
pun basah tanah terkena gerimis tadi sore

kausa menjadi penting
karena tanpanya rasa tak akan menemukan asa
dan temali pertemanan tak akan pernah terikat rapi
bahkan boleh jadi kenangan akan sekedar dimakan waktu

kausa bermetamorfosa
karena ia adalah penentu
dimana insan akan terus belajar
perkara kesalahan dan pemvenaran.

Friday, May 10, 2013

perkara hujan

hujan menikam jantungku, ibu
ia tepat mendarat pada asa yang tergolek mati rasa
mencabik luka yang belum kering sepenuhnya
hujan datang mengantar pilu
membawa pulang sesuatu bernama kenangan

dulu
hujan memberi rasa aman
membangkitkan kehangatan
datang dengan beribu kejutan dan cipratan kebahagiaan

meski begitu, ibu
hujan selalu purna bagiku
rintiknya mungkin tak sehangat dulu memelukku
tapi hujamannya saat ini jauh lebih memberi arti
betapa tidak semua berakhir dengan paripurna

ibu
senja ini hujan kembali mengetuk jendela kamarku
rintiknya selembut dulu,
]menyodorkan asa beribu rasa []

Betapa

aku menyaksikan kamu melabuh, jauh
meninggalkan siluet sebidang raga yang selaluu kurindu
dari jarak ribuan kilo, masih kuingat jelas bau tubuhmu
pun suara yang selalu menyapaku kala aku membuka mata di pagi buta
taukah kamu, beribu banyak betapa menelusup dalam rasa semenjak kamu tak pernah menoleh lagi?
tak terhitung jumlahnya, tuan
orang bilang n kali, tiada berujung, katanya
aku masaih berdiri pilu, di atas perahu yang sudah setengah karam
menyaksikan kamu hilang ditelan malammerasakan dinginnya air telaga merenggut raga
aku memutuskan menyerah saja perkara kamu
karena kamu bahkan lebih rumit dari cacing integralataupun garis singgung lingkaran
karena kamu dan aku bahkan tak pernah menemukan koordinat titik temu
hari ini, tuan
aku memutuskan menyerah, melepas asa yang terlalu tinggi kugantungkan
aku melupakan segala betapa;
betapa rindu begitu menyiksaku hingga nelangsa bertahun belakangan
betapa []

Tuesday, March 19, 2013

hujan

--hujan hujan sore itu mengantar berjuta rindu yang lama menguap
melalui tetesan-tetesannya , rindu diajak berdamai dengan semesta,
agar jangan lagi menghindar
meski rindu dan semesta sama-sama diam
hujan tahu mereka bercakap dalam bisu
cukuplah hening yang membahasakan tutur kata mereka
dan cukuplah hujan yang menjadi saksi letupan rasa yang kembali tumbuh