hai.
hari ini saya ingin share tentang acara tahunan sekolah saya. festifal film smansa.
pada ajang ini, setiap kelas wajib membuat sebuah film pendek dengan durasi 15 menit.
daaaan. oh. men. saya rasa saya seduikit pesimis. kelas saya begitu pasif. belum lagi kelas seberang yang memiliki seorang editor video yang dewanya bukan main.
yah.
hopefully.
Thursday, February 23, 2012
Sunday, February 19, 2012
terimakasih
terimakasih buat @nadoremii yang kadang nampar saya dengan omongannya. sakit. tapi bermanfaat.
saya memang tidak bisa sempurna. tapi doakan saja saya bisa lebih baik dari ini.
terimakasih sahabat kecil saya, @nadoremii
saya memang tidak bisa sempurna. tapi doakan saja saya bisa lebih baik dari ini.
terimakasih sahabat kecil saya, @nadoremii
coretan kecil buat kamu, gi.
Hai, gi. gimana kabar? Basi ya nanya kabar terus-terusan. orang jelas kamu pasti baik-baik aja dan enjoy sama hidup kamu. Nggak. Aku bukan mau minta maaf. Aku tau kamu bosen dengerinnya.
Aku tau kamu marah males banget sama aku. Aku juga nggak berharap kamu baca ini.
Aku cuma pengen bilang makasih. Buat semuanya lah yang nggak bisa aku sebutin.
Waktumu, candaan kita, cerita-cerita.
Gi.
Aku capek nunggu dimaafin, capek nunggu kamu sadar kalau kamu itu childish banget bersikap gini.
Tapi setiap aku pengen move on, semua info tentang kamu dateng, nyeret rindu buat masuk lagi ke hati dan pikiranku.
Gi.
Aku kangen, nggak pengen kamu pergi. Pengen dimaafin terus kita balik kayak dulu.
Dulu?
Haha. asing ya.
Kalau aku inget kamu lagi, aku bakal buat catetan-catetan kayak gini, Gi.
Biar nguap. Biar lega.
Sukses sama bandmu ya, aku masih doain kamu.
sarah aghnia husna
Aku tau kamu marah males banget sama aku. Aku juga nggak berharap kamu baca ini.
Aku cuma pengen bilang makasih. Buat semuanya lah yang nggak bisa aku sebutin.
Waktumu, candaan kita, cerita-cerita.
Gi.
Aku capek nunggu dimaafin, capek nunggu kamu sadar kalau kamu itu childish banget bersikap gini.
Tapi setiap aku pengen move on, semua info tentang kamu dateng, nyeret rindu buat masuk lagi ke hati dan pikiranku.
Gi.
Aku kangen, nggak pengen kamu pergi. Pengen dimaafin terus kita balik kayak dulu.
Dulu?
Haha. asing ya.
Kalau aku inget kamu lagi, aku bakal buat catetan-catetan kayak gini, Gi.
Biar nguap. Biar lega.
Sukses sama bandmu ya, aku masih doain kamu.
sarah aghnia husna
Thursday, February 16, 2012
secarik pesan rindu
Sudah dua kali kamu mampir dalam mimpi-mimpi saya. Membuai saya seolah tidak ada apa-apa. Bisakah kamu berhenti hadir dalam mimpi saya dan menyapa saya dalam kehidupan nyata saja?
Asal kamu tahu, saya terkadang lelah mengharapkan kamu kembali. Tetapi kamu malah jadi sering mampir dan mengajak rindu bermain di hati dan pikiran saja. Jangan melenakan saya akan hal yang tidak pasti.
Saya rindu kamu, saya ingin kamu. Dalam kenyataan, bukan ketidakpastian seperti ini.
Asal kamu tahu, saya terkadang lelah mengharapkan kamu kembali. Tetapi kamu malah jadi sering mampir dan mengajak rindu bermain di hati dan pikiran saja. Jangan melenakan saya akan hal yang tidak pasti.
Saya rindu kamu, saya ingin kamu. Dalam kenyataan, bukan ketidakpastian seperti ini.
uncolour sky, uncolour life
uncolour sky, uncolour life.
Entah ada angin apa, saya ingin membahas ini. Ya, tentang uncolour sky, uncolour life - langit yang tak berwarna, hidup pun sama. Tak berwarna.
Kalau orang bilang saya ngaco, langit tidak mungkin tidak berwarna. Biarlah. Itu kata mereka. Buat saya langit tidak pernah berwarna. Ia tampak berwarna karena ada sinar matahari.
Kadang azure, kadang abu-abu, kadang kuning lime, kadang merah keunguan. Jadi buat saya, langit tidak berwarna, hanya saja ia membiaskan cahaya yang ada. Oke, bukan itu pokok bahasannya.
Seperti langit, hidup juga tidak berwarna. Apa warna hidup? Merah? Jingga? Putih? Hitam? Atau malah abu-abu?
Sekali lagi buat saya hidup tidak pernah berwarna. Ia hanya "membiaskan" warna dari apa yang kita rasakan saja.
Kadang hidup terasa indah dan cerah saat hal menyenangkan menghampiri kita, kelabu saat sedih menggantung, atau tetap tidak berwarna saat hidup kita stuck dan jenuh.
Saya dan hidup saya juga begitu.
Salah satu yang ingin saya ceritakan adalah musibah yang menimpa saya baru-baru ini. Ada warna baru yang mampir dan menorehkan goresan dalam hidup saya.
Bohong kalau saya tidak menangis, Tuhan tahu saya menangis sore itu. Bohong kalau saya nyaman dengan tempat tinggal baru saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur. Bohong besar kalau saya tidak miris dengan kehidupan saya.
Saya tidak suka berbohong. Fake. Tapi saya tidak ingin orang melihat kelemahan saya. Saya tidak selemah itu, setidaknya untuk sekedar berdiri sendiri.
Sejak hari itu hidup saya berubah. Hidup keluarga saya. Hampir seratus delapan puluh derajat. Kami harus memulai semua dari awal lagi. Kata mama saya, kami harus memulai hidup baru.
Rumah saat ini memang lebih besar, tingkat pula. Tapi bohong sekali lagi kalau saya nyaman. Saya jengah. Ini bukan rumah saya. Memang sudah dibeli orang tua saya, tapi buat saya ini bukan bagian dari kehidupan saya. Tidak ada kenangan di sini. Belum. Mungkin akan, atau tidak sama sekali.
Saya mungkin terguncang. Tuhan menegur saya dan keluarga dengan musibah itu, membuat saya untuk pertamakalinya berharap hujan cepat usai. Sebelumnya Tuhan juga menegur saya. Dengan membiarkan orang terdekat saya pergi. Menampar keluarga saya dengan keadaan saudara saya.
Hari-hari saya kelabu. Hidup saya membiaskan warna perasaan saya. Tidak hitam atau putih. Abu-abu mungkin. Saya sendiri tidak yakin.
Ayah saya bilang, semua pasti ada hikmahnya. Saya juga yakin begitu.
Tapi.
Hidup bukanlah langit. Hanya mirip, tapi tak serupa.
Langit tidak akan pernah bisa menentukan warna apa yang akan ditorehkan padanya. Tapi hidup bisa. Hidup menggantungkan warnanya pada saya, pada kamu, pada kita.
Warna yang dibiaskan hidup tergantung kita. Tergantung bagaimana cara kita membuat warna dalam hidpu ini tampak berwarna, tampak indah dan menyenangkan.
Karena langit bukan hidup dan hidup bukan langit. Hidup ada untuk dijalani, bukan hanya dipandangi. Hidup untuk dimengerti. Hidup untuk dinikmati.
uncolour sky, uncolour life. unpredictable sky, unpredictable life.
Mereka sama, tapi tak serupa.
Entah ada angin apa, saya ingin membahas ini. Ya, tentang uncolour sky, uncolour life - langit yang tak berwarna, hidup pun sama. Tak berwarna.
Kalau orang bilang saya ngaco, langit tidak mungkin tidak berwarna. Biarlah. Itu kata mereka. Buat saya langit tidak pernah berwarna. Ia tampak berwarna karena ada sinar matahari.
Kadang azure, kadang abu-abu, kadang kuning lime, kadang merah keunguan. Jadi buat saya, langit tidak berwarna, hanya saja ia membiaskan cahaya yang ada. Oke, bukan itu pokok bahasannya.
Seperti langit, hidup juga tidak berwarna. Apa warna hidup? Merah? Jingga? Putih? Hitam? Atau malah abu-abu?
Sekali lagi buat saya hidup tidak pernah berwarna. Ia hanya "membiaskan" warna dari apa yang kita rasakan saja.
Kadang hidup terasa indah dan cerah saat hal menyenangkan menghampiri kita, kelabu saat sedih menggantung, atau tetap tidak berwarna saat hidup kita stuck dan jenuh.
Saya dan hidup saya juga begitu.
Salah satu yang ingin saya ceritakan adalah musibah yang menimpa saya baru-baru ini. Ada warna baru yang mampir dan menorehkan goresan dalam hidup saya.
Bohong kalau saya tidak menangis, Tuhan tahu saya menangis sore itu. Bohong kalau saya nyaman dengan tempat tinggal baru saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur. Bohong besar kalau saya tidak miris dengan kehidupan saya.
Saya tidak suka berbohong. Fake. Tapi saya tidak ingin orang melihat kelemahan saya. Saya tidak selemah itu, setidaknya untuk sekedar berdiri sendiri.
Sejak hari itu hidup saya berubah. Hidup keluarga saya. Hampir seratus delapan puluh derajat. Kami harus memulai semua dari awal lagi. Kata mama saya, kami harus memulai hidup baru.
Rumah saat ini memang lebih besar, tingkat pula. Tapi bohong sekali lagi kalau saya nyaman. Saya jengah. Ini bukan rumah saya. Memang sudah dibeli orang tua saya, tapi buat saya ini bukan bagian dari kehidupan saya. Tidak ada kenangan di sini. Belum. Mungkin akan, atau tidak sama sekali.
Saya mungkin terguncang. Tuhan menegur saya dan keluarga dengan musibah itu, membuat saya untuk pertamakalinya berharap hujan cepat usai. Sebelumnya Tuhan juga menegur saya. Dengan membiarkan orang terdekat saya pergi. Menampar keluarga saya dengan keadaan saudara saya.
Hari-hari saya kelabu. Hidup saya membiaskan warna perasaan saya. Tidak hitam atau putih. Abu-abu mungkin. Saya sendiri tidak yakin.
Ayah saya bilang, semua pasti ada hikmahnya. Saya juga yakin begitu.
Tapi.
Hidup bukanlah langit. Hanya mirip, tapi tak serupa.
Langit tidak akan pernah bisa menentukan warna apa yang akan ditorehkan padanya. Tapi hidup bisa. Hidup menggantungkan warnanya pada saya, pada kamu, pada kita.
Warna yang dibiaskan hidup tergantung kita. Tergantung bagaimana cara kita membuat warna dalam hidpu ini tampak berwarna, tampak indah dan menyenangkan.
Karena langit bukan hidup dan hidup bukan langit. Hidup ada untuk dijalani, bukan hanya dipandangi. Hidup untuk dimengerti. Hidup untuk dinikmati.
uncolour sky, uncolour life. unpredictable sky, unpredictable life.
Mereka sama, tapi tak serupa.
Saturday, February 11, 2012
hari ke dua puluh sembilan : tukang pos cinta
Hai, kau. Iyaa, kau. Yang sedang membaca deretan kata yang mungkin tak akan berarti untukmu.
Si tukang pos yang selalu sabar (atau mungkin ogah-ogahan) membaca seiap surat yang dimention ke akun twitter. Si tukang pos yang kadang muncul di timelineku dengan tweet-tweet galau. Atau sajak yang mungkin kadang tak kumengerti artinya.
Adimas Immanuel.
Awalnya namamu terasa asing di teligaku. Namun lambat laun, aku jadi terbiasa.
Haha, aku bingung sendiri membuat surat cinta untuk tukang posku sendiri.
Tapi semalam, ide ini muncul begitu saja, menguap seiring dengan kata-kata yang sedang kau baca ini.
Taukah kau? Rasanya tak rela setelah ini tanggal 14 akan datang. Saat kegiatan ini harus diakhiri. Saat tidak ada alasan lagi untuk mention. Saat rasanya malas sekali menulis tanpa alamat.
Aku tidak mengenalmu. Apalagi sok kenal.
Aku hanya mengagumi deretan kata yang kau buat. Mengagumi kesabaranmu membaca puluhan atau bahkan ratusan surat yang masuk setiap harinya. Pasti repot. Mungkin lelah. Atau bosan setiap hari membaca hal itu-itu saja.
Kau hebat. Haha. Dan sabar sekali lagi.
Untukmu, si lelaki tukang pos.
Ini adalah luapan kagumku. Yang (semoga) tersampaikan lewat kalimat dalam surat ini.
Nah, bekerjalah lagi. Masih banyak hal-hal yang menantimu di luar sana. Bersemangatlah!
untuk Adimas Immanuel, si lelaki tukang pos.
Friday, February 10, 2012
hari ke dua puluh delapan : pesan sayang untuk lelaki terbaik
Halo. Ehm. Agak sulit menulis surat cinta seperti ini untukmu. Entah apa yang harus kutuliskan padamu. Entah mengapa aku begitu ingin menuliskan ini untukmu. Terlepas dari rasa kagumku yang luar biasa meluap padamu. Speechless, begitu orang bilang.
Yang jelas, tanpa pernah kau sadari aku mengamatimu. Dan mengagumimu, tentu saja.
Aku selalu tahu waktu-waktu yang kau lalui sepanjang hari. Kau lelaki yang rajin, kau tak pernah melewatkan waktu ibadahmu. Setiap pagi, kau cukur kumis halus yang mulai tumbuh agar terlihat rapi. Rambut ikalmu terkadang sedikit mencuat karena terburu-burunya dirimu. Kadang, perutmu tak sempat terisi di pagi hari karena berharganya waktumu. Hanya beberapa teguk kopi pekat yang selalu mengisi pagimu. Tapi karenanya, kadang kau mengeluh tidak sehat karena ternyata beberapa teguk kopi bukan solusi yang baik untuk pagimu.
Kau adalah lelaki terbaik dalam hidupku. Walau terkadang kau meninggalkanku karena panggilan-panggilan mendadak dari temanmu. Tak apa. Aku tetap sayang padamu. Meskipun kadang kau lupa ulang tahunku. Tak apa, aku senang kau tetap mengucapkannya walau sedikit terlambat. Ya, aku tahu. Mungkin kau tidak lupa. Hanya canggung untuk memulai pembicaraan karena kesibukanmu yang membatasi pertemuan kita. Aku tahu persis kau bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Tapi rasa sayangku tak pernah berkurang sedikitpun.
Sedang apa kau sekarang?
Apa sedang mengangkat sebuah telepon maha penting?
Atau dalam perjalanan pulang?
Mungkinkah kau pulang larut lagi?
Sulit kukatakan, tetepi lewat coretan kecil ini aku ingin kau mengerti. Betapa aku menyayangimu. Betapa aku merindukanmu. Aku rindu kecupan manis di puncak kepalaku seperti saat kau akan pergi jauh. Rindu celetukan-celetukanmu di sela percakapan kita. Rindu tawa renyahmu. rindu saat kau di rumah, melewati waktu bersama, untuk sekedar duduk santai.
Aku sayang sekali padamu..
Untuk ayahku tercinta yang sedang bekerja, terimakasih untuk semua yang telah kau beri padaku.
Aku sayang padamu.
Peluk dan cium dari jauh, sampai ketemu di rumah.
Yang jelas, tanpa pernah kau sadari aku mengamatimu. Dan mengagumimu, tentu saja.
Aku selalu tahu waktu-waktu yang kau lalui sepanjang hari. Kau lelaki yang rajin, kau tak pernah melewatkan waktu ibadahmu. Setiap pagi, kau cukur kumis halus yang mulai tumbuh agar terlihat rapi. Rambut ikalmu terkadang sedikit mencuat karena terburu-burunya dirimu. Kadang, perutmu tak sempat terisi di pagi hari karena berharganya waktumu. Hanya beberapa teguk kopi pekat yang selalu mengisi pagimu. Tapi karenanya, kadang kau mengeluh tidak sehat karena ternyata beberapa teguk kopi bukan solusi yang baik untuk pagimu.
Kau adalah lelaki terbaik dalam hidupku. Walau terkadang kau meninggalkanku karena panggilan-panggilan mendadak dari temanmu. Tak apa. Aku tetap sayang padamu. Meskipun kadang kau lupa ulang tahunku. Tak apa, aku senang kau tetap mengucapkannya walau sedikit terlambat. Ya, aku tahu. Mungkin kau tidak lupa. Hanya canggung untuk memulai pembicaraan karena kesibukanmu yang membatasi pertemuan kita. Aku tahu persis kau bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Tapi rasa sayangku tak pernah berkurang sedikitpun.
Sedang apa kau sekarang?
Apa sedang mengangkat sebuah telepon maha penting?
Atau dalam perjalanan pulang?
Mungkinkah kau pulang larut lagi?
Sulit kukatakan, tetepi lewat coretan kecil ini aku ingin kau mengerti. Betapa aku menyayangimu. Betapa aku merindukanmu. Aku rindu kecupan manis di puncak kepalaku seperti saat kau akan pergi jauh. Rindu celetukan-celetukanmu di sela percakapan kita. Rindu tawa renyahmu. rindu saat kau di rumah, melewati waktu bersama, untuk sekedar duduk santai.
Aku sayang sekali padamu..
Untuk ayahku tercinta yang sedang bekerja, terimakasih untuk semua yang telah kau beri padaku.
Aku sayang padamu.
Peluk dan cium dari jauh, sampai ketemu di rumah.
Subscribe to:
Posts (Atom)