Wednesday, February 12, 2014

hari ke#12: Tiga

Halo. Maaf kemarin tidak menulis untukmu lagi. Kemarin aku sibuk sekali, walaupun itu tidak pantas jadi alasan. Bagaimana hari-hari pertamamu di perantauan untuk yang kedua kali ini? Kalau kau setuju denganku, sejujurnya semua ini melelahkan, bukan? Tapi tidak sepertiku, kau jarang mengeluh.

Aku ingin sekali bertanya kabar secara langsung, setidaknya dengan membuat ponselmu bergetar atau me-mention surat ini padamu. Tapi kurasa, aku tidak seberani itu. Di hadapanmu keberanianku mencicit.

Baiklah, aku rasa mungkin ini surat terakhirku padamu. Jika aku memikirkanmu dan kepalaku rasanya ingin meledak, aku akan menuliskannya lagi untukmu.

Monday, February 10, 2014

Hari ke#10: Dua

Kali ini aku lebih berani untuk menatap matamu, meski diam-diam. Seperti kemarin malam. Kau terlihat begitu lelah dan mengantuk. Darimana? Baru bangun tidur? Haha aku begitu penasaran, tapi aku diam saja.

Perasaan ini muncul lagi, tak bisa kupungkiri. Jadi kunikmati saja waktu-waktu pertemuan kita yang nyaris tanpa obrolan.Yang singkat, tapi begitu kutunggu.

Baiklah begitu saja, selamat kuliah, semoga harimu menyenangkan.

Sunday, February 9, 2014

Hari ke#9: Satu

Pernahkan satu kali saja dalam hidupmu, kau menyimpan rasa diam-diam pada seseorang sampai bertahun waktunya, sampai rahasia itu menyatu dalam ragamu? Pernahkah kau menyukainya tanpa ingin mengusiknya, melihatnya dari jauh saja cukup?

Baiklah, teknologi memang semakin canggih. Tapi teknologi tidak sejalan dengan keberanianku berbicara padamu. Teknologi memang mempersempit jarak, tapi rasanya tidak untuk kita--atau aku yang merindukanmu.

Aku berharap 'witing tresno jalaran soko kulino' itu juga berlaku untuk 'witing ra tresno maneh jalaran soko kulino'. Tapi rasanya salah, saat bertemu lagi selalu ada kupu-kupu yang menggelitik dan bersemayam di perutku. Dan aku benci pada aku yang datar-datar saja, bersikap seolah kita orang asing saja.

Pernakah, sekali saja dalam hidupmu, terlintas aku dalam benakmu?

Saturday, February 8, 2014

Hari ke#8 : Hei, Mata Kenari

Kepada lelaki yang mempunyai sepasang mata kenari.

Halo. Halo, kamu yang berhasil mengaduk perasaanku sampai runyam begini. Aku tahu kamu baik-baik saja, dari  judul lagu yang kamu dendangkan sepanjang hari. Tapi mana kamu tahu perasaanku, semenjak lagu indah itu kamu dendangkan dengan riang.

Aku berharap bisa mengucapkan salam perpisahan denganmu. Tapi usahaku selalu gagal. Baiklah, begini saja. 
Asalkan kamu bahagia dan mengizinkan aku terus di dekatmu, aku tidak akan mengeluh. Aku janji. Jadi tetaplah berbahagia seperti itu, aku juga akan bahagia dengan sedikit menahan degup tak wajar dalam diriku.

Thursday, February 6, 2014

Hari ke#6: Separuh.

Kepada separuh yang lain.

Separuh yang baik, semoga kamu bertambah banyak, semakin beranak pinak menjadi layak. Sesekali kamu boleh mengalah pada separuh yang lain, jangan membela jika kamu merasa sakit. Karena akan percuma jika kamu hanya memberi bahagia tanpa ikut mengecapnya. Tetap dan teruskanlah apa yang menurutmu baik dan benar, jangan takut.

Separuh yang buruk, semoga kamu selalu dapat menahan diri, agar menjadi manusiawi. Sesekali kamu boleh membela diri jika memang dirasa perlu, jika memang yang buruk itu baik untukmu. Tapi ingat, saat maju, ketakutan hanya akan membuatmu kukut. Tegarlah.

Delapan belas, banyaklah bersyukur. Angka itu banyak sekali, tidak semua diberi sebanyak itu. Dewasalah, tapi tetap berbahagialah layaknya kanak-kanak.

18 : infinite happiness .

Wednesday, February 5, 2014

Hari ke#5: Si Baik Hati

Kepada kamu, si baik hati.
Terima kasih karena selalu datang membantu aaat aku dalam kesulitan. Terima kasih untuk tidak pernah mengeluh, meski aku seringkali egois. 
Segala kebaikanmu, aku suka. Semua membuatku berarti dan bahagia.

Kamu si baik hati tetap bersamaku sampai nanti, ya.