Wednesday, February 5, 2014

Hari ke#5: Si Baik Hati

Kepada kamu, si baik hati.
Terima kasih karena selalu datang membantu aaat aku dalam kesulitan. Terima kasih untuk tidak pernah mengeluh, meski aku seringkali egois. 
Segala kebaikanmu, aku suka. Semua membuatku berarti dan bahagia.

Kamu si baik hati tetap bersamaku sampai nanti, ya.

Tuesday, February 4, 2014

hari ke #4: Ini (mungkin bukan) Surat Cinta

Kepada Adimas Immanuel.

Mas Dimas, saya suka sekali semua tulisannya. Baik yang di blog ataupun yang di buku. Bahkan, tulisan di halaman depan buku Pelesir Mimpi yang saya beli sudah saya baca berulang kali.
Ini (mungkin bukan) surat cinta.
Dua hari lagi saya berulang tahun. Bolehkah saya minta kado sebuah puisi dari Mas Dimas? Saya harap iya.

Terima kasih.

Sarah Aghnia Husna

Monday, February 3, 2014

Hari ke #3 : Kepada Bapak @SBYudhoyono

Kepada Yth. Presiden RI,
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
di tempat

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat pagi, Pak. Perkenalkan nama saya Sarah Aghnia Husna salah satu dari dua ratus juta jiwa rakyat Indonesia--kalau saya tidak salah info. Maaf saya begitu lancang mengirim surat ini untuk Bapak. Sungguh, saya tidak bermaksud begitu. Apa kabar, Pak? Semoga Tuhan selalu memberi limpahan rahmat-Nya pada Bapak. Saya berharap Bapak sendirilah yabg membaca surat ini, bukan staf kepresidenan, karena ini surat saya untuk Bapak pribadi. Ini memang surat cinta, Pak, tapi sekedar surat cinta seorang rakyat kepada presidennya.

Terlepas dari banyak berita soal masa kepemimpinan Bapak, saya mau berterima kasih karena selama dua periode kepemimpinan Bapak ini, saya yakin Bapak sudah mengusahakan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Terima kasih, Pak, semoga Tuhan sendirilah yang akan membalas semua jasa Bapak. Karena saya percaya tidaklah mudah memimpin bangsa yang besar ini.

Saya sering menduga-duga bagaimana lelahnya Bapak menjadi seorang presiden, menjadi pemimpin bagi dua ratus juta manusia di negara tercinta ini. Saya tidak tahu pastinya, tapi barangkali berkali lipat lebih penat dari sekedar mengerjakan tugas kuliah. Oleh karenanya, sekali lagi saya ingin berterima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam. Banyak perubahan baik yang terjadi delapan tahun belakangan ini tentu termasuk andil Bapak juga. Terima kasih, Pak, telah menjadi sosok pemimpin bagi bangsa kami.

Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan, semoga Bapak selalu diberi kesehatan dan limpahan rezeki dari yang Maha Kuasa. Maaf apabila ada salah kata dalam surat saya dan tentunya terima kasih sudah menyempatkan membaca surat sepele saya ini.
Wassalamualaikum W. Wb.


Dari salah satu rakyatmu,
Sarah Aghnia Husna

Sunday, February 2, 2014

Hari ke #2 : Kepada Kamu

Kepada kamu, yang mungkin masih meringkuk di balik selimut tebalmu sambil menatap layar ponsel. Atau sudah bersiap pergi karena ingat ada janji hari ini. Selamat siang, semoga harimu menyenangkan.

Kepada kamu.
Ingatkah 3 tahun yang lalu? Saat saya begitu menikmati setiap percakapan kita. Saat tidak ada kata pagi-siang-malam karena setiap hari terasa pagi terus. Saat saya begitu teguh menunggu hujan mampir di kota kita agar kita bisa menikmatinya bersama. Sudah lama juga, ya.

Apa kabar? Akhirnya kamu menjawabnya juga setelah hampir penuh tiga tahun saya menunggu.
Baik, katamu. Ajaib. Hari itu hujan tidak turun rasanya, tapi pertama kali semenjak tiga tahun itu kamu kembali membiarkan saya menyapa kamu lagi.
Tanpa kamu tahu, tiga tahun ini saya masih suka iseng mencari tahu soal kamu. Atau barangkali kamu tahu tapi diam saja. Kamu kan serba tahu seperti biasa. Mungkin kamu  membiarkan sajasaya menumpuk penasaran dan rindu saya biar menggunung begitu saja. Dan membuat saya sekarang bisa mentertawakan masa lalu dengan lega

Saya suka sekali hujan, gegara kamu. Karena saat hujan, suasana hati kamu baik sekali. Kita bisa mengobrol lancar sepeti aliran air hujan di genteng rumahku. Membiarkan kamu mengeluh dengan kejadian-kejadian yang menimpamu hari ini. Saya suka sekali mendengarkan kamu bercerita. Mungin kamu seharusnya jadi pencerita saja, hihi.

Kepada kamu.
Kali ini saya sadar, tidak ada yang perlu disesali perkara tiga tahun yang lalu. Yang sudah berlalu mungkin memang begitu adanya harus terjadi.
ps. saya hubungi kamu saat hujan turun hari ini.

Saturday, February 1, 2014

Hari ke #1 : Surat Untuk Mama

Untuk Mama,
di rumah.

Ma, saat saya terpikir menulis surat ini adalah saat kita menengok album foto beberapa tahun yang lalu waktu kita liburan ke Bromo. Saat itu, saya melihat mata mama berkaca-kaca. Mungkin mama terharu, betapa cepat waktu berjalan menyalip kita.

Ma, saya mau minta maaf. Akhir-akhir ini saya membuat mama dan ayah tentunya kecewa. Maafkan saya, saya tidak bermaksud begitu. Saya akan berusaha lebih baik lagi. Saya juga mau minta maaf  perkara semenjak saya jauh dari rumah, saya jarang pulang untuk menengok. Sebenarnya, bukan hanya waktu dan keadaan yang mempersulit. Saya juga takut, saya takut merasakan keengganan  kembali ke kota itu untuk mengais ilmu lagi. Sungguh, rumah membuat saya betah berlama-lama pulang. Ia menjadi pisau bermata dua, madu sekaligus racun bagi saya. Pulang itu candu. Bahkan sekarang saat saya betlibur di rumah, saya mulai merasakan keengganan itu lagi.

Ma, maaf saya memang lebih sulit untuk bicara langsung perkara begini. Saya lebih fasih menerjemahkannya dalam kata. Terima kasih untuk semua pengertian dan kasihmu selama ini. Semoga Tuhan selalu menjaga dan membalas kebaikanmu.Amin.


Anakmu, Sarah.

Sunday, August 11, 2013

-

dulu, ketika ia masih suka bertanya banyak pada orang-orang yang bertubuh lebih tinggi-besar darinya, ia tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.
ia akan terus sibuk bertanya dan membuat orang-orang dewasa itu mendesah malas. semakin dilayani, semakin bawel saja mulut kecilnya bertanya soal yang lain.
ketika ia beranjak besar--tingginya sudah hampir sama dengan orang gede yang selalu ia tanyai, iajustru lebih banyak diam. berusaha memahami walaupun tidak mengerti.
banyak hal yang tidak bisa ia pertanyakan walau ingin. banyak hal yang tidak pernah menemukan jawabannnya walau harus. banyak hal yang membuatnya lebih memilih diam.
terkadang, lebih menyenangkan untuk tidak mengerti apa-apa daripada menanggung luka pada ujung keingintahuan.

Tuesday, July 2, 2013

-

bisa jadi ia pecinta hujan.
ia selalu menari dalam pelukan hujan.
ia tak pernah mengeluh meski hujan menusuk permukaan kulitnya yang rapuh.

barangkali ia pemuja hujan.
sejak pertama hujan mengetuk pintu jendelanya, tak terlewatkan semalam pun jika hujan memghampirinya.

tapi ia selalu cemburu, karena hujan selalu datang bersama mendung.
ia benci sekali mendung.
mendung selalu mengantar perkabungan padanya.
mendung tak pernah bersahabat dengannya.

ia hanya ingin ditemani. 
ia tidak suka sendirian.
hari inipun ia masih meringkuk di kolong langit.
berharap hujan akan merindukannya.