Lelaki matahari--biarlah kamu kusebut begitu.
Tawamu mengembang, duniaku berputar.
Wednesday, November 7, 2012
Friday, November 2, 2012
Obrolan Secangkir Teh
Aku merasakan radarmu memanggilku, memintaku bergegas. Ah, ternyata aku sedikit terlalu menikmati hangatnya matahari. tenang saja, aku tidak berhenti mencarimu, tidak akan. aku hanya menerima jamuan minum teh dari waktu.
Waktu mengajakku singgah sejenak dari perjalananku. Kami banyak mengobrol. apalagi topiknya kalau bukan kamu. Kami berandai-anadai dan waktu terus memberondong pertanyaan. Bagaimana jika seandainya kamu tidak lagi menungguku? Bagaimana jika seandainya semesta meminta waktuku? Bagaimana jika seandainya perjalannanku masih jauh? Tidakkah aku lelah? Aku hanya tertawa, menjawab sekenanya. Aku tidak mengkhawatirkan hal-hal itu. Aku lebih khawatir dengan pikiran terburuk yang bercokol di otakku.
Bagaimana jika seandainya aku memutuskan untuk berhenti mencari kamu?Bagaimana jika seandainya itu terjadi? Bagaimana jika seandainya aku menyerah? Apakahkamu masih menungguku? apakah aku sanggup berhenti dan merelakan kamu?
Aku meletakkan cangkir tehku dan berpamitan pada waktu. ia memberengut--belum puas, tapi tetap mengantarku ke depan pagar rumahnya, ramah. Memintaku singgah lagi kapan-kapan. Aku tersenyum saja, tidak mengiyakan. Aku masih memikirkan perkara kamu.
Bukankah seharusnya sebuah hubungan selalu seperti secangkir teh? Cangkirnya menjaga teh agar tidak tumpah, agar tetep aman di sana. Walaupun tahu teh itu tidak akan selamanya mengepul. Sedangkan teh? Ia bukannya sengaja menghilangkan panasnya. Keadaan yang memaksanya. Kalau bisa, ia ingin mengepul selamanya. Tapi apa daya, ia hanyabisa mempersembahkan apa yang ia punya--sepenuh hati. Aroma dan rasa manis dari butiran gula yang larut.
Radarmu kembali memanggil.
Tunggu saja. Aku akan datang. Aku pasti datang.
Jadi pastikan kamu masih di sana dan menyambutku dengan hangat. Atau mungkin dengan sepenuh hati--apapun bentuknya.
30.10.12
Sarah Aghnia Husna
Monday, October 29, 2012
Perahu
Perahu.
Perahuku mengambang, ditengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda.
***
Aku tidak menemukanmu, begitupun kamu. Tiba-tiba saja semesta mengaturnya. Membuat sebuah konspirasi kecil. Secara tidak sadar, aku mulai membuat perahuku. Secara tidak sadar, aku menjadikanmu pelitaku. Secara tidak sadar, keberanian merasuk dalam jiwaku. Aku berlayar, ke laut lepas. Aku tak punya alasan khusus. Hanya sebuah kalimat sederhanamu yang menggiringku ke laut, "Aku suka biru, karena laut itu biru."
Bahagiaku kian sempurna. Ada laut biru--aku berlayar di pundaknya, merasakan ombak--anak-anak rambutnya ikut menari. Ada langit biru. Dan ada kamu. Cukuplah bagiku. Aku tak keberatan jika esok tak datang lagi.
Namun, entah bagaimana kamu pergi. Aku terlalu menikmati ketidak sadaranku. Aku lupa dan selalu lupa mengikat kamu erat. Kamu pergi, tanpa memberiku apapun. Sisa pelitamu, kompas, pun pesan. Hanya sirna begitu saja, seperti terbawa ombak, seperti menguap menjadi awan.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Tanpa arah, tanpa pelita, tanpa kamu."
Perahu ini hanya mengambang, gamang. Seperti aku.
Mungkin kamu bukan pelitaku. Mungkin kamu hanya seeekor kunang-kunang. Mungkin hanya aku yang buta, hanya aku yang tuli, hanya aku yang bisu. Atau kamu yang mati rasa? Karena bersamamu, semua terasa benar.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Semua mengambang, gamang. Mana yang lebih baik? Mencari pelita baru dengan perahu yang sama? Atau karamkan saja sekalian? Masa bodoh dengan pelita. Atau lebih baik pulang dan menata hati?"
***
27.10.12
Sarah Aghnia Husna
Perahuku mengambang, ditengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda.
***
Aku tidak menemukanmu, begitupun kamu. Tiba-tiba saja semesta mengaturnya. Membuat sebuah konspirasi kecil. Secara tidak sadar, aku mulai membuat perahuku. Secara tidak sadar, aku menjadikanmu pelitaku. Secara tidak sadar, keberanian merasuk dalam jiwaku. Aku berlayar, ke laut lepas. Aku tak punya alasan khusus. Hanya sebuah kalimat sederhanamu yang menggiringku ke laut, "Aku suka biru, karena laut itu biru."
Bahagiaku kian sempurna. Ada laut biru--aku berlayar di pundaknya, merasakan ombak--anak-anak rambutnya ikut menari. Ada langit biru. Dan ada kamu. Cukuplah bagiku. Aku tak keberatan jika esok tak datang lagi.
Namun, entah bagaimana kamu pergi. Aku terlalu menikmati ketidak sadaranku. Aku lupa dan selalu lupa mengikat kamu erat. Kamu pergi, tanpa memberiku apapun. Sisa pelitamu, kompas, pun pesan. Hanya sirna begitu saja, seperti terbawa ombak, seperti menguap menjadi awan.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Tanpa arah, tanpa pelita, tanpa kamu."
Perahu ini hanya mengambang, gamang. Seperti aku.
Mungkin kamu bukan pelitaku. Mungkin kamu hanya seeekor kunang-kunang. Mungkin hanya aku yang buta, hanya aku yang tuli, hanya aku yang bisu. Atau kamu yang mati rasa? Karena bersamamu, semua terasa benar.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Semua mengambang, gamang. Mana yang lebih baik? Mencari pelita baru dengan perahu yang sama? Atau karamkan saja sekalian? Masa bodoh dengan pelita. Atau lebih baik pulang dan menata hati?"
***
27.10.12
Sarah Aghnia Husna
Wednesday, October 10, 2012
Kisah Hujan, Bumi dan Matahari
Hujan memeluk bumi, menebus tetes demi tetes rindu yang tersimpan lama.Bumi bukannya tidak suka pada matahari, matahari menghangatkannya, sungguh. Matahari begitu setia. Hanya saja ia butuh hujannya. Rindu itu usai sudah. Terbayar lunas. Goresan pelangi menandakan perpisahan mereka. Mereka-- hujan dan bumi berpisah, membawa asa. Semoga semesta kembali berkonspirasi mempertemukan mereka. Hujan menitip pesan bagi matahari, agar menjaga buminya selama ia pergi. Manusia yang menggerutu ketika hujan tiba hanyalah mereka yang tidak tahu, betapa bumi dan hujan saling merindu. Mereka adalah yang tidak tahu betapa mereka menunggu semesta mempertemukan mereka. Mereka adalah yang seharusnya mulai belajar bahwa cinta tidaklah harus selalu bersama. Mereka adalah yang harus belajar bahwa sedikit saja kebahagiaan adalah sesuatu yang layak dibalas dengan syukur.
Oktober 2012,
sarah aghnia husna
Oktober 2012,
sarah aghnia husna
Thursday, September 27, 2012
percakapan pohon oak
pohon oak kepada daun:
aku hanya tidak ingin membiarkannya terus menggantung. ia hanya akan lelah dan tak akan sanggup bertahan sampai musim semi tiba.
daun kepada pohon oak:
aku hanya tidak ingin memberatkan dia dengan keberadaanku. ia hanya akan terus menjagaku dan itu tidak membuatnya merasa nyaman. aku akan menggugurkan diriku dan membiarkan yang lain mengisi hidupnya.
aku hanya tidak ingin membiarkannya terus menggantung. ia hanya akan lelah dan tak akan sanggup bertahan sampai musim semi tiba.
daun kepada pohon oak:
aku hanya tidak ingin memberatkan dia dengan keberadaanku. ia hanya akan terus menjagaku dan itu tidak membuatnya merasa nyaman. aku akan menggugurkan diriku dan membiarkan yang lain mengisi hidupnya.
Tuesday, September 11, 2012
aku
aku lelah.
aku ingin pulang.
aku jengah.
aku rindu rumah.
aku ingin terbang.
bebas.
aku ingin terjun.
lepas.
kemudian.
rumah bernyanyi untukku.
burung menari bersamaku.
tanah seempuk kapas.
dan aku kembali
seperti selembar kertas.
aku ingin pulang.
aku jengah.
aku rindu rumah.
aku ingin terbang.
bebas.
aku ingin terjun.
lepas.
kemudian.
rumah bernyanyi untukku.
burung menari bersamaku.
tanah seempuk kapas.
dan aku kembali
seperti selembar kertas.
Saturday, September 8, 2012
#hari ketiga :Kepada Kamu
Kepada Kamu.
Apa kabar? Di sana pasti kamu senang sekali, ya.
Pagi ini gerimis mendekap bumi dengan hangat. Aku senang sekali. Bukankah kamu pernah bilang, saat awan mendung menggantung kamu akan lekas berdoa untukku. Agar setiap tetes gerimis yang menyentuh kulitku, terkandung doa tulus darimu. Aku merasa kamu sedang memelukku hangat. Kamu pasti sudah menduga gerimis akan datang dan kamu pasti sudah berdoa kan? Aku juga sudah, tenang saja.
The ache I feel inside
Is where the life has left your eyes
I'm alone for our last goodbye
But you're free
Adrift on your ocean floor
I feel weightless, numb, and sore
A part of you in me is torn
And you're free
Apa kabar? Di sana pasti kamu senang sekali, ya.
Pagi ini gerimis mendekap bumi dengan hangat. Aku senang sekali. Bukankah kamu pernah bilang, saat awan mendung menggantung kamu akan lekas berdoa untukku. Agar setiap tetes gerimis yang menyentuh kulitku, terkandung doa tulus darimu. Aku merasa kamu sedang memelukku hangat. Kamu pasti sudah menduga gerimis akan datang dan kamu pasti sudah berdoa kan? Aku juga sudah, tenang saja.
Flowers cut and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you're free
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you're free
Tadi malam aku bermimpi, aku bermimpi tentang kita. Rasanya baru kemarin. Rasanya baru kemarin kamu mendekap aku hangat di pelukanmu. Baru kemarin kamu menggandeng aku sambil berjalan menyusuri bibir pantai. Bukankah memang baru kemarin, kamu mengecup puncak kepalaku sambil mengacak rambutku? Iya, kan?
The ache I feel inside
Is where the life has left your eyes
I'm alone for our last goodbye
But you're free
Asal kamu tahu, aku rindu sekali padamu. Aku ingin pergi ke tempatmu, secepat yang aku bisa. Karena kamu tak mungkin menyusulku, kan? Tidak apa. Aku akan berangkat sendiri. Aku saja yang menyusulmu. Tapi kenapa kemarin kamu melarangku?
I remember you like yesterday, yesterday
I still can't believe you're gone, oh...
I remember you like yesterday, yesterday
And until I'm with you, I'll carry on
I still can't believe you're gone, oh...
I remember you like yesterday, yesterday
And until I'm with you, I'll carry on
Jarak ini menyiksaku, kamu tahu? Bukan. Kalau cuma jarak tidak apa. Aku bisa mengunjungimu. Semua ini benar-benar menyikasku. Jarak, waktu, bahkan mungkin. Dimensi.
Adrift on your ocean floor
I feel weightless, numb, and sore
A part of you in me is torn
And you're free
Kamu bilang kamu akan menungguku. Aku tahu kamu pasti tidak akan berbohong. Tapi bagaimana denganku? Bagaimana aku bisa bersabar? Bagaimana aku bisa tanpamu? Sungguh, aku ingin segera menyusulmu.
I woke from a dream last night
I dreamt that you were by my side
Reminding me I still had life
In me
I dreamt that you were by my side
Reminding me I still had life
In me
Kepada Kamu.
Aku rindu sekali.
Aku rindu caramu tertawa.
Aku rindu caramu mengacak rambutku.
Aku rindu caramu menggenggam tanganku.
Aku rindu caramu mendekapku.
Aku rindu wangi tubuhmu.
Aku rindu.
Sungguh, aku rindu.
I remember you like yesterday, yesterday
I still can't believe you're gone, oh...
I remember you like yesterday, yesterday
And until I'm with you, I'll carry on
I still can't believe you're gone, oh...
I remember you like yesterday, yesterday
And until I'm with you, I'll carry on
Kepada kamu.
Bisakah kamu sampaikan pada Tuhan agar menjaga kamu selama aku belum tiba di sana? Bisakah kamu sampaikan agar Tuhan memepercepat waktu pertemuan kita?
tertanda, kekasihmu.
kepada kamu, kekasihku di Surga.
Subscribe to:
Posts (Atom)
