Thursday, June 28, 2012

Lelaki Bersayap Hujan


Saya baru pertama melihat kamu, tadi siang. Tuhan mempertemukan kita saat hujan turun ke bumi, menyapa saya dengan gerimis kecil. Juga dengan desah lembut angin yang terkadang mampir di antara kulit saya. Saya merapatkan lipatan tangan saya di depan dada, berharap dinginnya akan berkurang. Percuma. Saya menyeringai merutuki usaha sia-sia saya.
Lalu kamu datang, dan kita bertukar pandang layaknya kisah cinta dalam sebuah novel. Mata kita beradu sepersekian detik. Kilatan sepersekian detik itu memacu jantung saya untuk memompa lebih cepat. Untuk berlari lebih heboh layaknya pacuan kuda. Tapi kamu segera berlalu sesaat.
Ah. Ini bukan tempat dan waktu yang tepat. Saya merajuk kepada takdir yang tidak menjadwalkan segalanya dengan tepat dan cermat—setidaknya belum. Saya menunggu kamu keluar dari sana, sebuah tempat pencetakan foto kecil di sudut jalan. Saya baru sadar kamu sedari tadi menenteng sebuah kamera yang juga menggantung di lehermu yang terlihat jenjang, indah.
Tetapi, tidak akan terjadi percakapan. Persis seperti yang saya ramalkan sebelumnya. Saya tidak punya banyak waktu. Dan seperti mengerti, kamu muncul  dengan seorang teman. Tidak, saya masa bodoh dengan temanmu. Saya lebih tertarik dengan sesuatu di balik punggungmu. Saya berharap saya berimajinasi karena saya melihat untaian sayap indah melengkung terbentuk oleh butiran gerimis yang membelah bumi. Saya mengerjapkan mata, takjub.
Lalu kamu mengobrol. Ah. Saya rasa kamu perlu mendapat sebuah medali. Kamu sukses membuat saya jatuh cinta, tenggelam dalam imajinasi liar bernama asa. Termakan oleh cahaya yang terlihat berpendar di wajahmu yang berseri.
Kulitmu cokelat, terbakar teriknya matahari.
Badanmu yang tegap dan tinggi, saya mungkin hanya sepundakmu.
Matamu. Saya benar-benar jatuh cinta. Matamu yang tampak seperti garis tipis di bawah bingkai alismu yang tebal. Sipit, tapi memancarkan kehangatan yang sempurna.
Kemeja lengan pendek berbahan flannel kotak-kotak cokelat dengan celana pendek warna senada melekat indah membalut ragamu.
Ah. Rambutmu, saya suka sekali. Beberapa helai menjuntai layu dan basah menyentuh dahimu akibat terpaan gerimis yang kamu tembus.
Saya masih mengamati kamu. Dan terus begitu.
Saya harap temanmu mulai jengah dan membisikkanmu kata-kata semacam ini; Hei, gadis itu terus memandangimu. Saya rasa dia tertarik padamu. Datang dan sapalah dia.
Saya masih terus menunggu kamu datang, di bawah gerimis yang mulai reda dan menyeret matahari untuk segera bertugas lagi. Saya masih berdiri sendiri mengagumi setiap jengkal titipan Tuhan yang dipercayakan melekat di ragamu.
Tapi.
Saya sudah bilang waktu saya tidak lama. Saya sudah bilang saya tidak punya cukup, apalagi banyak waktu. Seseorang menghampiri saya, membuyarkan fantasi gila saya dan menyeret saya pada kenyataan. Saya masih memandangi kamu. Berharap kamu sedikit saja berpaling melihat saya. Dan hanya ekor mata itu yang terakhir saya tangkap. Ekor mata yang menunjukkan bahwa kamu menyadari keberadaan saya.
Taukah kamu, lelaki bersayap hujan? Saya terus berdoa pada Tuhan hingga kini.
Tuhan, bolehkah saya berharap? Bolehk ah saya bertemu dengan dia lagi—lelaki bersayap hujan? Bolehkah saya sejenak saja sekali lagi mengagumi ciptaanmu? Bolehkah saat waktu itu tiba segala ketidakmungkinan menjadi mungkin, dimana segala sesuatunya terasa tepat? Bolehkah saatnya nanti takdir mampu menjadwalkannya dengan sempurna? Bolehkah saya?

Thursday, May 24, 2012

Bahagia

Kebahagiaan itu sederhana.
Sesederhana kata hai dalam percakapan, tapi memulai semuanya.
Sesederhana kalimat 'apa kabar?' dalam sebuah percakapan, namun menghangatkan percakapan.
Sesederhana mengorek memori lama, lalu mensyukuri setiap detik yang terlah berlalu.
Dan
kebahagiaan saya sesederhana melihat kamu bahagia tanpa sepotong kata hai atau apa kabar lalu mensyukuri setiap detik yang telah saya lalui bersam kamu.
Sesederhana itu.

#firstgame

Tadi itu saya--Sarah. Yang kamu terima bukan permen--coklat.
Suka?

saya punya cerita rahasia

Kamu sedang berada dalam permainan kecil saya. Dimana aturannya saya yang menentukan. Cukuplah kamu penasaran saja dengan kejutan saya. Karena, saat kamu tahu siapa saya--saat saya terungkap, selesai sudah. Permainan ini akan berakhir. Permainan ini seperti bom waktu saya tidak pernah tahu kapan akan meledak. Tapi saya tahu pasti akan meledak.

Tuesday, May 15, 2012

Kemarin, saya sempat membuka postingan-postingan lama saya dari blog saya yang lama. Ya ampun. frontal.
Jadi hari ini saya akan mencoba memakai bahasa lama. yeah, check this out aja lah ya.
Well, sebenernya aku nggak tau sih apa yang bakal aku bahas hari ini. Di hadapanku sekarang guru bilogiku tercinta, Bu Ellen lagi koar-koar masalah biologi yang merembet kemana-mana. Ngalor ngidul. *sigh
Oya, aku baru inget. Aku pengen share masalah kelasku aja lah ya. Walaupun ada orang-orang freak di sini, tetep, aku sayang sama mereka. Adaa aja yang bikin aku kangen sama mereka. Kecuali sama beberapa orang, yah. Yang ga akan aku sebut namanya demi nama baik dia. Dan lagi aku nggak pernah mau ingin kayak dia. Ngumbar nama orang di blog buat diomongin karena ga suka. No way.
Okay. Lanjut. Di kelasku, XI IPA 1 ini, aku punya kalau nggak salah itung 9 temen deket cewek. Terus ada beberapa temen deket cowok yang mungkin bisa ikut aku itung. Sisanya nggak terlalu deket, dan ada dua orang yang aku rasa freak. Freak? Why? Secret kali ya.
Terus, abis ini aku UAS *pentingamat*, sedihnya sih jadi bakal ganti kelas.
Udah ah, malah ga seru. Yaudah lah ya.
Ciao.

Monday, May 7, 2012

Mesin waktu


Kita berandai-andai, solah telah lama mengenal dan hanya mengungkit masa kanak-kanak.
Kita saling berbagi seolah kita telah jauh melangkah bersama.
Tapi kita selalu lupa mengikat semuanya erat dalam  genggaman dalam sebuah ikatan.
Atau tidak peduli sama sekali.
Andai kala itu Tuhan menunjukkan padaku sebuah mesin waktu.
Andaikan boleh melongok ke depan waktu itu, mungkin saat ini
kita tidak terpisah dan terpencar mengejar asa masing-masing.

Tuesday, May 1, 2012

clue

Saya tidak tahu apakah kamu akan mengikuti clue yang saya berikan. Bahkan saya juga tidak pernah tahu apakah kamu sempat membaca surat yang saya berikan. Yang jelas, saya akan teap menulis ini walaupun kamu belum tentu akan membukanya.
Hai. apa kabar? Saya serius berkata bahwa saya akan merindukanmu. Haha. Lancang sekali saya berkata seperti itu pada orang yang tidak saya kenal.
Ini saya.