Kepada Tuan Kaki Panjang.
Bagaimana kabarmu, Tuan? Aku teramat yakin kamu sudah melupakan julukan ini. Baiklah aku akui, mungkin hanya aku yang suka dengan julukan ini tanpa memikirkan perasaanmu. Maafkan aku, tapi biarkan aku memanggilmu begitu untuk kali terakhir.
Sedang apa? Ingin rasanya aku bertanya begitu, tapi kamu tahu nyaliku sangat ciut. Mengobrol langsung saja aku gelagapan. Perilakuku berubah 180 derajat di depanmu, mana bisa aku jaga imageku?
Aku sudah tidak menghitung lagi berapa lama aku begini. Entahlah, kali ini aku lebih banyak bersyukur aku begini dan begitu. Kita jarang mengobrol, tapi syukurlah aku tahu ada waktu-waktu kita bertemu, bersama yang lain. Kita tidak pernah saling bertanya kabar, tapi syukurlah diam-diam aku selalu tahu kabarmu. Aku selalu diam-diam memperhatikanmu, tanpa perlu kamu sadari.
Mungkin akupun telah sampai pada titik dimana kerelaan mengantarkanku untuk selalu siap melepasmu. Dan akupun rasanya telah siap jika itu terjadi. Karena dengan hanya melepaskanmu aku bisa tetap diam-diam memperhatikanmu. Karena jika aku tetap serakah, jarak kita akan kian jauh.
Tuan, baiklah aku akan berhenti memanggilmu begitu. Kepadamu, semoga hari-harimu menyenangkan.
terima kasih :)
ReplyDelete