Kepada Tuan Kaki Panjang.
Bagaimana kabarmu, Tuan? Aku teramat yakin kamu sudah melupakan julukan ini. Baiklah aku akui, mungkin hanya aku yang suka dengan julukan ini tanpa memikirkan perasaanmu. Maafkan aku, tapi biarkan aku memanggilmu begitu untuk kali terakhir.
Sedang apa? Ingin rasanya aku bertanya begitu, tapi kamu tahu nyaliku sangat ciut. Mengobrol langsung saja aku gelagapan. Perilakuku berubah 180 derajat di depanmu, mana bisa aku jaga imageku?
Aku sudah tidak menghitung lagi berapa lama aku begini. Entahlah, kali ini aku lebih banyak bersyukur aku begini dan begitu. Kita jarang mengobrol, tapi syukurlah aku tahu ada waktu-waktu kita bertemu, bersama yang lain. Kita tidak pernah saling bertanya kabar, tapi syukurlah diam-diam aku selalu tahu kabarmu. Aku selalu diam-diam memperhatikanmu, tanpa perlu kamu sadari.
Mungkin akupun telah sampai pada titik dimana kerelaan mengantarkanku untuk selalu siap melepasmu. Dan akupun rasanya telah siap jika itu terjadi. Karena dengan hanya melepaskanmu aku bisa tetap diam-diam memperhatikanmu. Karena jika aku tetap serakah, jarak kita akan kian jauh.
Tuan, baiklah aku akan berhenti memanggilmu begitu. Kepadamu, semoga hari-harimu menyenangkan.
Saturday, January 31, 2015
Friday, January 30, 2015
hari pertama : surat peringatan
Kepada:
Si Tukang Pos, @catatansidoy
Hai.
Mari sebut ini surat (peringatan) cinta. Agar kau berhati-hati membacanya. Bacalah dengan seksama, jangan terlewat satu katapun. Aku peringatkan sekali lagi, jangan sampai lalai membacanya.
Oya, aku bahkan belum memperkenalkan diri. Panggil saja aku Sarah, semua orang memanggilku begitu. Aku sangat suka menulis, apapun itu. Aku juga suka dengan tidur. Ya, saat aku bersedih aku akan cepat tertidur, terkadang bisa begitu lama. Saat aku senang, aku akan sulit tertidur, tetapi aku akan bangun dengan senang. Dan saat aku gelisah, kantuk bahkan tak menyentuhku, aku akan terjaga semalaman.
Baiklah, cukup itu saja tentang diriku. Mari kembali ke intinya. Aku memperingatkanmu agar mengirim setiap surat dengan baik, agar setiap detak dalam surat itu sampai dengan selamat. Aku memperingatkanmu agar kau rajin menyemangati supaya kotak suratmu selalu rutin penuh. Aku memperingatkanmu, agar kau selalu bersemangat dan tersenyum, agar setiap insan yang menulis turut merasakan cintamu. Maka akupun akan memperingatkan diriku agar rutin menulis setiap harinya.
Haha, sungguh aku mengumpulkan keberanianku untuk menulis ini. Siapa aku, memperingatkanmu? Maka maafkan kelancanganku ini. Semoga harimu menyenangkan bersama tumpukan surat di 30 hari ke depan.
Anak Pos,
Sarah.
Thursday, January 1, 2015
Perkara Pertemanan
Segala sesuatu, seberat apapun usaha untuk mendapatkannya, akan lebih sulit tentang bagaimana ia mempertahankannya. Seperti sebuah hubungan, sesederhana sebuah pertemanan. Tidak sulit untuk memulai pertemanan, apalagi untuk orang kita, yang terkenal ramah itu. Bagi kebanyakan orang, sekali bertegur sapa, dua kalibertemu dan mengobrol, tiga kali menemukan dan menghabiskan waktu untuk itu, sudah memenuhi syarat dipanggil teman.
Tidak ada teori pasti bagaimana manusia bisa saling berteman beitu lama, dengan adanya campur tangan budaya, kebiasaan,bahkan ego masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, layaknya hal lain, pertemanan bukan bernilai pada angka seberapa lama ia bersama, tapi seberapa lama ia berproses. Berproses, tidaklah pernah mudah.
Jangan tersinggung jika kamu merasa tersisih dari teman-temanmu (entah darimana asalnya, setiap individu memiliki insting ini). Boleh jadi kamu melewatkan prosesnya. bagi saya, ada tiga kemungkinan.
Pertama, kamu tidak berusaha mengikuti jejak temanmu, atau temanmu tidak bisa mengikuti langkahmu, entah kamu yang terlalu cepat ataudia yang terlalu lamban. Kalau kamu membaca ini, kamu harus memperbaiki ritme pertemananmu.
Kemungkinan kedua, boleh jadi, ia tidak suka mengikuti langkah orang lain. Tipe ini adalah teman yang idealis. Berjalan masing-masing tetapi tetap menghargai.
Kemungkinan ketiga adalah favorit saya. Berteman itu, akan m=semakin raket ketika frekuensi bertemu semakin sering. Bukan hanya soal lamanya berteman, sekali lagi, tapi prosesnya. Berteman adalah proses. Ini mencakup dua kemungkinan sebelumnya. Dengan terbiasa bertemu, kamu akan semakin mahir memainkan ritme dan semakin menghargai. Semakin banyak angka frekuensinya, mau tidak mau setiap individu akan belajar tentang individu lain.
Berteman itu, berproses. Jangan sembarang menilai jika kamu tidak berkecimpung dalam prosesnya. janagn tersinggung ika kamu tidak dilibatkan di dalamnya, boleh jadi kamu belum masuk dalam prosesnya. Setiap pertemanan memiliki prosesnya sendiri. Tidak akan sama, karena dasarnya setiap individu tidak ada yang saam. Bahkan setiap individu punyatakaran masing-masing untuk mengukur pertemanannya.
Baiklah. berproseslah dengan baik. Mempertahankan akan jauh lebih sulit pada awalnya. Tapi pribahasa jawa bilang, "witing trisno jalaran soko kulino" (cinta itu tumbuh karena terbiasa). Maka, biasakanlah berproses, kawan.
Tidak ada teori pasti bagaimana manusia bisa saling berteman beitu lama, dengan adanya campur tangan budaya, kebiasaan,bahkan ego masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, layaknya hal lain, pertemanan bukan bernilai pada angka seberapa lama ia bersama, tapi seberapa lama ia berproses. Berproses, tidaklah pernah mudah.
Jangan tersinggung jika kamu merasa tersisih dari teman-temanmu (entah darimana asalnya, setiap individu memiliki insting ini). Boleh jadi kamu melewatkan prosesnya. bagi saya, ada tiga kemungkinan.
Pertama, kamu tidak berusaha mengikuti jejak temanmu, atau temanmu tidak bisa mengikuti langkahmu, entah kamu yang terlalu cepat ataudia yang terlalu lamban. Kalau kamu membaca ini, kamu harus memperbaiki ritme pertemananmu.
Kemungkinan kedua, boleh jadi, ia tidak suka mengikuti langkah orang lain. Tipe ini adalah teman yang idealis. Berjalan masing-masing tetapi tetap menghargai.
Kemungkinan ketiga adalah favorit saya. Berteman itu, akan m=semakin raket ketika frekuensi bertemu semakin sering. Bukan hanya soal lamanya berteman, sekali lagi, tapi prosesnya. Berteman adalah proses. Ini mencakup dua kemungkinan sebelumnya. Dengan terbiasa bertemu, kamu akan semakin mahir memainkan ritme dan semakin menghargai. Semakin banyak angka frekuensinya, mau tidak mau setiap individu akan belajar tentang individu lain.
Berteman itu, berproses. Jangan sembarang menilai jika kamu tidak berkecimpung dalam prosesnya. janagn tersinggung ika kamu tidak dilibatkan di dalamnya, boleh jadi kamu belum masuk dalam prosesnya. Setiap pertemanan memiliki prosesnya sendiri. Tidak akan sama, karena dasarnya setiap individu tidak ada yang saam. Bahkan setiap individu punyatakaran masing-masing untuk mengukur pertemanannya.
Baiklah. berproseslah dengan baik. Mempertahankan akan jauh lebih sulit pada awalnya. Tapi pribahasa jawa bilang, "witing trisno jalaran soko kulino" (cinta itu tumbuh karena terbiasa). Maka, biasakanlah berproses, kawan.
Hilang
Aku kehilangan yang jelas-jelas kurengkuh
Karena jenuh yang kian keruh akan membunuhmu tanpa ampun
Akupun hany ingin berteduh dalam pikiranmu, tanpa sekalipun mengeluh
Tapi, bagaimana aku bisa bertahan, jika sisa-sisa badai itu masih menyakitimu/
Bagaimana aku bisa berjalan, jika kau bahkan tak sanggup berdiri?
Karena jenuh yang kian keruh akan membunuhmu tanpa ampun
Akupun hany ingin berteduh dalam pikiranmu, tanpa sekalipun mengeluh
Tapi, bagaimana aku bisa bertahan, jika sisa-sisa badai itu masih menyakitimu/
Bagaimana aku bisa berjalan, jika kau bahkan tak sanggup berdiri?
Subscribe to:
Comments (Atom)