hujan menikam jantungku, ibu
ia tepat mendarat pada asa yang tergolek mati rasa
mencabik luka yang belum kering sepenuhnya
hujan datang mengantar pilu
membawa pulang sesuatu bernama kenangan
dulu
hujan memberi rasa aman
membangkitkan kehangatan
datang dengan beribu kejutan dan cipratan kebahagiaan
meski begitu, ibu
hujan selalu purna bagiku
rintiknya mungkin tak sehangat dulu memelukku
tapi hujamannya saat ini jauh lebih memberi arti
betapa tidak semua berakhir dengan paripurna
ibu
senja ini hujan kembali mengetuk jendela kamarku
rintiknya selembut dulu,
]menyodorkan asa beribu rasa []
Friday, May 10, 2013
Betapa
aku menyaksikan kamu melabuh, jauh
meninggalkan siluet sebidang raga yang selaluu kurindu
dari jarak ribuan kilo, masih kuingat jelas bau tubuhmu
pun suara yang selalu menyapaku kala aku membuka mata di pagi buta
taukah kamu, beribu banyak betapa menelusup dalam rasa semenjak kamu tak pernah menoleh lagi?
tak terhitung jumlahnya, tuan
orang bilang n kali, tiada berujung, katanya
aku masaih berdiri pilu, di atas perahu yang sudah setengah karam
menyaksikan kamu hilang ditelan malammerasakan dinginnya air telaga merenggut raga
aku memutuskan menyerah saja perkara kamu
karena kamu bahkan lebih rumit dari cacing integralataupun garis singgung lingkaran
karena kamu dan aku bahkan tak pernah menemukan koordinat titik temu
hari ini, tuan
aku memutuskan menyerah, melepas asa yang terlalu tinggi kugantungkan
aku melupakan segala betapa;
betapa rindu begitu menyiksaku hingga nelangsa bertahun belakangan
betapa []
meninggalkan siluet sebidang raga yang selaluu kurindu
dari jarak ribuan kilo, masih kuingat jelas bau tubuhmu
pun suara yang selalu menyapaku kala aku membuka mata di pagi buta
taukah kamu, beribu banyak betapa menelusup dalam rasa semenjak kamu tak pernah menoleh lagi?
tak terhitung jumlahnya, tuan
orang bilang n kali, tiada berujung, katanya
aku masaih berdiri pilu, di atas perahu yang sudah setengah karam
menyaksikan kamu hilang ditelan malammerasakan dinginnya air telaga merenggut raga
aku memutuskan menyerah saja perkara kamu
karena kamu bahkan lebih rumit dari cacing integralataupun garis singgung lingkaran
karena kamu dan aku bahkan tak pernah menemukan koordinat titik temu
hari ini, tuan
aku memutuskan menyerah, melepas asa yang terlalu tinggi kugantungkan
aku melupakan segala betapa;
betapa rindu begitu menyiksaku hingga nelangsa bertahun belakangan
betapa []
Subscribe to:
Comments (Atom)