Friday, November 30, 2012

putaran

jangan salahkan semesta.
jika hidupku, berputar di sekelilingmu.
jangan salahkan Tuhan.
jika pusaranmu terlalu menarikku kuat menuju semestamu.
jangan salahkan kamu, tuan.
jika kamu menjadi pusat perputaranku.


terbang

kudengar angin menyampaikan namaku, darimu.
mendadak gravitasiku hilang, tuan.
aku terbang, tanpa sayap, tanpa daya.
aku terbang, tuan.
aku terbang menuju semestamu

Saturday, November 17, 2012

Catatan kematian

aku menggali lagi tanah yang masih merah itu. telaga rindu itu kembali terkuak, air mengalir deras dari dalamnya. hanya saja, air telaga itu tak lagi menyakitiku. ia hanya membuatku mengambang, tanpa asa, tanpa rasa. maka, kutenggelamkan diriku tanpa ragu. kutulis sendiri nisanku di atasnya. semoga semesta mengirim kabarnya padamu.

We are awesome, as usual!

Jadi, sekitar sekitar sebulan yang lalu sekolah saya ngadain studi tour gitu ke Jogja buat nyambangin UGM dan sisanyaaa jalan-jalaaan~. So, ini beberapa foto yang bisa saya upload. Here we go...

w/ youngster, di rumah makan baru nyampe Jogja

foto semacam aib w/ fake twin sista dan pak loeki

again w/ youngster fam di museum x,y yang namanya nggak bisa aku inget

still in the same museum

Prambanan!
(perhatiin sensei deh.....)

UGM
 museum agaiin
 the most favorite photo for me

nyamnyam sarapan

okay, this is umam. the most insane boy in the world


 Okay, saya semacam bukan pendongen yang baik jadi tebak aja sendiri ceritanya. Hehe. Thanks for reading :D

w/ love,
sarah aghnia husna


Wednesday, November 7, 2012

Lelaki Matahari

Lelaki matahari--biarlah kamu kusebut begitu.
Tawamu mengembang, duniaku berputar.

Friday, November 2, 2012

Obrolan Secangkir Teh




Aku merasakan radarmu memanggilku, memintaku bergegas. Ah, ternyata aku sedikit terlalu menikmati hangatnya matahari. tenang saja, aku tidak berhenti mencarimu, tidak akan. aku hanya menerima jamuan minum teh dari waktu.
Waktu mengajakku singgah sejenak dari perjalananku. Kami banyak mengobrol. apalagi topiknya kalau bukan kamu. Kami berandai-anadai dan waktu terus memberondong pertanyaan. Bagaimana jika seandainya kamu tidak lagi menungguku? Bagaimana jika seandainya semesta meminta waktuku? Bagaimana jika seandainya perjalannanku masih jauh? Tidakkah aku lelah? Aku hanya tertawa, menjawab sekenanya. Aku tidak mengkhawatirkan hal-hal itu. Aku lebih khawatir dengan pikiran terburuk yang bercokol di otakku.
Bagaimana jika seandainya aku memutuskan untuk berhenti mencari kamu?
Bagaimana jika seandainya itu terjadi? Bagaimana jika seandainya aku menyerah? Apakahkamu masih menungguku? apakah aku sanggup berhenti dan merelakan kamu?
 Aku meletakkan cangkir tehku dan berpamitan pada waktu. ia memberengut--belum puas, tapi tetap mengantarku ke depan pagar rumahnya, ramah. Memintaku singgah lagi kapan-kapan. Aku tersenyum saja, tidak mengiyakan. Aku masih memikirkan perkara kamu.

Bukankah seharusnya sebuah hubungan selalu seperti secangkir teh? Cangkirnya menjaga teh agar tidak tumpah, agar tetep aman di sana. Walaupun tahu teh itu tidak akan selamanya mengepul. Sedangkan teh? Ia bukannya sengaja menghilangkan panasnya. Keadaan yang memaksanya. Kalau bisa, ia ingin mengepul selamanya. Tapi apa daya, ia hanyabisa mempersembahkan apa yang ia punya--sepenuh hati. Aroma dan rasa manis dari butiran gula yang larut.

Radarmu kembali memanggil.

Tunggu saja. Aku akan datang. Aku pasti datang.

Jadi pastikan kamu masih di sana dan menyambutku dengan hangat. Atau mungkin dengan sepenuh hati--apapun bentuknya.

30.10.12

Sarah Aghnia Husna