kepada tuan masa depan.
aku menunggumu, meringkuk, lapuk
menunggu kau menyapaku dengan hangat seperti secangkir kafein pekat di pagiku yang kelabu.
aku memejamkan mataku erat, berharap saat aku membuka mata kau sedang mendekapku hangat.
aku menyimpan semua perasaanku, tawaku, di dalam sebuah kotak.
agar saat kau ketemukan nanti, kau bisa menikmati semua letupan-letupan kecil yang lama kupendam sendiri.
agar saat kau menemukanku nanti, kau tahu betapa aku begitu ingin menemukanmu.
kepada tuan masa depan, datanglah segera.
Friday, August 31, 2012
Tuesday, August 28, 2012
Setoples
aku masih menagih janjimu.
aku rela membiarkan waktu memburuku dan membunuhku demi janjimu.
tepatilah segera.
aku haus dan lapar.
kenyangkan aku.
puaskan aku.
beri aku janjimu.
demi janjimu, setoples penuh kenangan dengan bumbu canda dan tawa.
aku rela membiarkan waktu memburuku dan membunuhku demi janjimu.
tepatilah segera.
aku haus dan lapar.
kenyangkan aku.
puaskan aku.
beri aku janjimu.
demi janjimu, setoples penuh kenangan dengan bumbu canda dan tawa.
Thursday, August 16, 2012
Mimpi
Aku menunggu gelisah, hari sudah merangkak menuju kegelapan.
Kemudian kau datang, dengan sepeda tuamu itu. Menawarkan sebuah tumpangan untuk kembali.
Aku mengangguk pasrah dan membaca apa yang kau pikirkan.
Sepeda tua itu beranjak jauh. Dan sampai di pemberhentian yang seharusnya.
Dan aku mengucapkan terimakasih yang seharusnya.
Kau menggenggam tanganku dan melepaskanku pergi.
***
Aku membuka mataku yang silau disapa sinar matahari. Membaca situasi sekeliling ranjangku.
Ada sesuatu mengganjal. Setangkai mawar kering menyembul dari balik bantal.
Lelaki dalam mimpiku itu rupanya membiarkan aku menyimpan pemberiannya semalam.
***
Kemudian kau datang, dengan sepeda tuamu itu. Menawarkan sebuah tumpangan untuk kembali.
Aku mengangguk pasrah dan membaca apa yang kau pikirkan.
Bagaimana aku tahu, jika sekalipun tidak dia menyandarkan kepalanya padaku sebagai tempat singgah dan merasa aman?Aku tersenyum menyambutmu. Aku duduk dan memelukmu erat sembari menyandarkan kepalaku di punggungmu.Dan aku menikmati irama jantungmu yang tak keruan menyambutku.
Sepeda tua itu beranjak jauh. Dan sampai di pemberhentian yang seharusnya.
Dan aku mengucapkan terimakasih yang seharusnya.
Kau menggenggam tanganku dan melepaskanku pergi.
***
Aku membuka mataku yang silau disapa sinar matahari. Membaca situasi sekeliling ranjangku.
Hanya mimpi. Sial.Aku kembali menarik selimut dan memasukkan tanganku ke balik bantal.
Ada sesuatu mengganjal. Setangkai mawar kering menyembul dari balik bantal.
Lelaki dalam mimpiku itu rupanya membiarkan aku menyimpan pemberiannya semalam.
***
Subscribe to:
Comments (Atom)