Kepada kamu, yang sedang jatuh cinta. Kepada hati, yang sedang berdebar-debar. Bagaimana kabar cinta? Apakah ia masih membuatmu malu-malu seperti dulu? Apakah perutmu masih dipenuhi kupu-kupu ketika tangannya menggenggammu? Ah, jatuh cinta memang selalu menarik, bukan?
Kepada hati, aku tahu jatuh cinta tak hanya membuatmu berdebar senang, cinta juga membuatmu sakit bukan? Kamu yang jatuh, terkadang cemas, gelisah, bahkan tersedu. Jatuh cinta memang adalah jatuh yang sesungguhnya, ketika kamu merasa sangat bahagia terbang, melayang saat terjun, kamu tidak sadar, selalu ada sakit yang harus kamu rasakan setelahnya. Bukan perkara sakitnya, kita sama-sama tahu, seberapapun sakitnya jatuh cinta, kita selalu menikmati prosesnya. Kita selalu menikmati rasa pahitnya, karena tahu akan ada manis di ujungnya.
Hei, hati, apakah kamu akhirnya paham? Penantian panjangmu itu akan menunjukkan seberapa besar kualitas jatuhmu pada cinta. Orang bilang, semakin besar cinta, semakin ia tak kasat mata. Kau tau apa sebabnya? Karena ia telah bermetamorfosa menjadi penerimaan dan keikhlasan. Coba tengok ibuku yang tak pernah kudengar mengucap kata cinta di depanku, tapi sesungguhnya aku tahu, tak pernah terlewat ia menyebut namaku dalam setiap untaian doanya.
Kepada hati yang sedang jatuh cinta. Jatuhlah, terjunlah dengan bebas, tapi ingat, cinta bukan soal perkara memiliki, hakikatnya, kamu jatuh untuk menerima dan berserah.
No comments:
Post a Comment
saya tidak keberatan dengan komentar :D