kantor pos
ia tua, oranye dan terabaikan
semenjak banyak yang meniru kerjanya
semenjak orang menganggap ia bau apak, batu tanah
tapi ia tetaplah si oranye yang dulu
tetap menyambut ramah semua surat yang singgah
meski
surat-surat di sudut ruangan sudah mengomel minta segera dikirim
mereka tak betah, mencibir tempat tua itu
kantor pos
tempat persinggahan yang berusaha mengikuti laju waktu
namun malah diterkam maut
lorong-lorongnya bernyanyi lirih
menyambut keniscayaan
kantor pos
si tua, oranye yang menjadi saksi
betapa pernah ada cinta dalam dirinya
betapa cinta begitu mudah berganti menjadi sunyi
No comments:
Post a Comment
saya tidak keberatan dengan komentar :D