Perahu.
Perahuku mengambang, ditengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda.
***
Aku tidak menemukanmu, begitupun kamu. Tiba-tiba saja semesta mengaturnya. Membuat sebuah konspirasi kecil. Secara tidak sadar, aku mulai membuat perahuku. Secara tidak sadar, aku menjadikanmu pelitaku. Secara tidak sadar, keberanian merasuk dalam jiwaku. Aku berlayar, ke laut lepas. Aku tak punya alasan khusus. Hanya sebuah kalimat sederhanamu yang menggiringku ke laut, "Aku suka biru, karena laut itu biru."
Bahagiaku kian sempurna. Ada laut biru--aku berlayar di pundaknya, merasakan ombak--anak-anak rambutnya ikut menari. Ada langit biru. Dan ada kamu. Cukuplah bagiku. Aku tak keberatan jika esok tak datang lagi.
Namun, entah bagaimana kamu pergi. Aku terlalu menikmati ketidak sadaranku. Aku lupa dan selalu lupa mengikat kamu erat. Kamu pergi, tanpa memberiku apapun. Sisa pelitamu, kompas, pun pesan. Hanya sirna begitu saja, seperti terbawa ombak, seperti menguap menjadi awan.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Tanpa arah, tanpa pelita, tanpa kamu."
Perahu ini hanya mengambang, gamang. Seperti aku.
Mungkin kamu bukan pelitaku. Mungkin kamu hanya seeekor kunang-kunang. Mungkin hanya aku yang buta, hanya aku yang tuli, hanya aku yang bisu. Atau kamu yang mati rasa? Karena bersamamu, semua terasa benar.
***
"Perahuku mengambang, di tengah lautan. Tanpa awak, tanpa nahkoda. Semua mengambang, gamang. Mana yang lebih baik? Mencari pelita baru dengan perahu yang sama? Atau karamkan saja sekalian? Masa bodoh dengan pelita. Atau lebih baik pulang dan menata hati?"
***
27.10.12
Sarah Aghnia Husna
Monday, October 29, 2012
Wednesday, October 10, 2012
Kisah Hujan, Bumi dan Matahari
Hujan memeluk bumi, menebus tetes demi tetes rindu yang tersimpan lama.Bumi bukannya tidak suka pada matahari, matahari menghangatkannya, sungguh. Matahari begitu setia. Hanya saja ia butuh hujannya. Rindu itu usai sudah. Terbayar lunas. Goresan pelangi menandakan perpisahan mereka. Mereka-- hujan dan bumi berpisah, membawa asa. Semoga semesta kembali berkonspirasi mempertemukan mereka. Hujan menitip pesan bagi matahari, agar menjaga buminya selama ia pergi. Manusia yang menggerutu ketika hujan tiba hanyalah mereka yang tidak tahu, betapa bumi dan hujan saling merindu. Mereka adalah yang tidak tahu betapa mereka menunggu semesta mempertemukan mereka. Mereka adalah yang seharusnya mulai belajar bahwa cinta tidaklah harus selalu bersama. Mereka adalah yang harus belajar bahwa sedikit saja kebahagiaan adalah sesuatu yang layak dibalas dengan syukur.
Oktober 2012,
sarah aghnia husna
Oktober 2012,
sarah aghnia husna
Subscribe to:
Comments (Atom)