Saturday, July 28, 2012

Tarian Aurora

Aku berjalan menyusuri hampa bernama angkasa. Langkahku tertancap pada tumpukan batu penghalang raksasa, tempatku bersua dengan waktu dan pengap yang kian menghimpit. Aku melihat denyut nadiku melemah, seperti siap menyapa ajal. Namun ketakutan itu kembali menghampiri, menyeretku ke kenyataan yang kadang sudah tak bersekat dengan kefanaan. Jadi kuputuskan mengambil sebuah pil untuk ditelan.
Suara langkah mendekat mengusik sepi yang kucintai. Seorang gadis berambut ikal berjalan mendekat membawa sekarung kecil entah apa berwarna cokelat. Rambutnya yang berwarna azure membuatku memaafkan kelancangnnya mendekati  wilayahku. Warna azure--warna langit yang diam-diam lama kurindukan sekaligus warna terlarang.
Siapa kau?
Tak akan lagi penting siapa aku ketika asa mulai menyesakkan dadamu dan menghimpitmu dalam keputusasaan
Gadis tadi duduk di batu sebelahku.
Ini napas simpananku. Aku jarang menggunakannya dan lebih sering menyimpannya,
Ia menunjuk karung kecil yang ia pegang dengan wajah hampa. Ia melanjutkan bicaranya yang kuanggap racauan saja.
Seumur hidupku, aku tak akan menggunakan napas sebanyak ini. Aku pasti akan terus menyimpannya. Tetapi sebuah bunga tidak akan mekar terlalu lama. Ia harus mengorbankan kematiannya demi generasi yang baru.Seperti aku, aku rela mengorbankan apapun demi melihat kedua orang tuaku di Bumi.
Bumi--planet yang disebut-sebut planet terlarang--
Ia berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan melintasi batu penghalang raksasa dengan tenang. kulihat kakinya banyak berdarah. ia tetap berjalan sampai ke puncak walau sudah kularang.
Namaku Aurora, kuharap kau akan mengingatnya.
Ia menghabiskan seluruh napas yang ia kumpulkan sepanjang hidupnya dan menghilang setelah melompat dari puncak batu penghalang.
Di balik batu itu. Tempat gadis itu melompat. Tempat aurora  terjun adalah lubang hitam. Yang menyerap siapa saja ke dalamnya. Banyak mitos yang mengatakan lubang itu menembus ke planet terlarang bernama Bumi. Namun entah.
**
Lama setelah aku kembali kuat menatap angkasa tanpa gelisah dan resah yang lama menghampiriku, semua orang ribut membicarakan hal aneh. Seberkas cahanya berwarna azure melintang indah di atas angkasa.
Azure?
Aurora. Aurora pasti sedang menari di atas sana.
***

Wednesday, July 11, 2012

Puisi Rangga dalam Sebuah Film

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
kulari ke pantai kemudian teriakku
sepi, sepi dan sendiri
aku benci

Aku ngin bingar
aku mau di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga 
jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya
biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh

Ah...ada malaikat menyulam
jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan
belok ke pantai .........

.


"How can I love when i'm afraid to fall?"
--Christina Perri- A Thousand Years

Tentang Kematian


                Seorang lelaki berlari membelah malam. Peluh mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Ia tampak lelah, namun sesekali ia menoleh ke belakang. Waspada. Walau begitu, ia tetap memaksa mengayuhkan langkahnya yang kian memendek karena energinya yang menipis setelah seharian lebih ia berlari. Juga karena dahan-dahan dan ranting-ranting pohon yang mulai mengganggunya.
                Dua Hari yang lalu, mimpi itu kembali datang. Ia akan mati besok, artinya ia kan mati setelah hari ini dalam beberapa jam ke depan. Seseorang datang ke dalam mimpinya dan mengatakan hal itu padanya. Sebelumnya selama seminggu tidurnya tak lagi nyenyak. Ia terus bermimpi tanpa ujung yang jelas. Mulai dari rentetan masa kecilnya hingga sebuah mimpi dimana ia melihat seluruh keluarganya menangisi jasadnya.
                Sempat ia mendatangi “orang pintar” dan bertanya perihal mimpi-mimpinya. Lelaki tua di hadapannya mendadak pucat pasi setelah menyembur air yang entah apa campurannya ke dupa yang terbakar. Wajahnya seputih jenggotnya yang panjang hampir sedada. Saat ia bertanya apa yang lelaki tua itu lihat, lelaki itu berulang kali berkata, Sebentar, dan kembali merapal mantra.
                Bau dupa bakar kian menyengat, menyeruak ke seluruh ruangan menusuk hidungnya yang mulai tak nyaman. Lelaki tua yang katanya “orang pintar” itu akhirnya mendesah, menyerah kemudian berkata, Kau akan mati. Besok. Di saat fajar pertama mulai menyinari bumi.
                Ia tersentak. Bagaimana orang pintar ini tahu pesan di mimpi terakhirnya bahkan sebelum ia mengatakannya? Namun, ia kembali bertanya, Dimana?
                Saya tidak tahu, saya hanya membaca dan menafsirkan apa yang datang dalam mimpimu, lelaki tua itu berujar sambil menggeleng.
                Ia hampir gila. Atau mungkin sudah. Ia akan mati besok! Pikiran pertama yang melintas di kepalanya adalah ia tidak boleh tidur. Itu hanya akan mempermudah kematian menyergapnya tanpa permisi. Ia lantas hampir seharian menyusuri kota, mencari kafein terbaik yang paling ampuh untuk membuatnya terjaga.
                Waktu memburunya. Genderang kemar=tian terasa memekakkan telinganya.
                Ia berlari menjauhi kota. Berharap ada tempat persembunyian baginya. Dimana tiada sesuatupun disana, hanya dirinya. Kalau perlu ia ingin sekali berkelana menembus dimensi, menipu waktu juga takdirnya. Dan hari mulai berganti malam. Kelam menyeliimuti bumi. Suasana mencekam menggelayutinya di antara atmosfer dalam hutan ini.
Waktunya tak banayk untuk kabur dari kematiannya. Jika ia berhasil kabur setidaknya hingga fajar datang sekali lagi saja, mungkin ia bisa lolos.
                Otaknya mulai tidak beres. Ia berkhayal seperti apakah wujud malaikat yang akan menjemputnya? Seperti apakah rasanya mati? Sakitkah? Ia terkekeh.
                Namun sepersekian detik kemudian ia mengusir pikiran-pikiran gila dalam benaknya dan kembali mempercepat larinya. Ia terus berlari dan sesekali melirik jam di tangannya. Sebentar lagi. Hanya sedikit lagi. Detik terakhir di hari itu matahari mulai tampak bersinar walau masih malu-malu.
                Dan ia bebas!
                Ia tidak melihat sosok itu. Sosok yang beberapa menit yang lalau sibuk ia bayangkan. Ia merasa ringan. Ringaaaaan sekali. Ia menghela napas lega. Namun aneh. Ia tak merasa lelah setelah hampir sehari lebih ia berlari. Ia tak merasa….
                Dimana detak jantungnya? Dimana embusan napasnya? Dimana hangatnya suhu tubuhnya?
                Ia menoleh ke bawah dan mendapati raganya tergolek bermandikan darah di dasar sebuah jurang. Lelaki itu tak dapat berpikir banyak. Ia berusaha mencari tahu dengan melihat sekeliling. Matanya tibia-tiba membelalak saat melihat suatu sisi.
                Kemudian gelap.
                Genderang kematian kemudian mengantarkannya menuju tujuan selanjutnya. Malaikat pencabut nyawa, Tuhan, penghuni langit dan bumi mungkin terkekeh dengan usahanya yang sia-sia. Sebuah asa tanpa harapan nyata.
                Tak akan ada yang dapat lolos dari kematian. Pun saat kau bersembunyi di tempat yang tak akan dapat dijangkau siapapun di dunia yang fana ini.
Kematian adalah pasti. Kematian adalah sebuah keniscayaan. Dimana ia akan mengantarmu untuk pemberhentianmu yang selanjutnya dari hiruk pikuk duniamu.