Monday, April 9, 2012

tentang sebuah hubungan

Semua orang bilang kalau sebuah hubungan terbangun dari sebuah komitmen. Tanpa komitmen hubungan itu tidak akan berhasil alias GAGAL. Tapi buat saya, hubungan tanpa komitmen akan jauh lebih menyenangkan, tidak mengikat dalam hal ini saya tidak berbicara mengenai pernikahan. Saya beranggapan masa remaja seperti yang sedang saya alami tidak akan menyenangkan jika harus berkomitmen. Jadi saya lebih memilih untuk tidak berkomitmen. Ambigu mungkin, bahakan tabu. Tapi ya ini opini saya.

sepi

Sakit. Rasa kesepian bahkan lebih sakit dari luka di tangan saya. Di saat waktu terus berputar dan saya hanya bisa menyaksikan. Saat semua orang enggan untuk sekerdar bersua. Dan keheningan mencekat menikam saya perlahan. Menikmati setiap detik rasa sakit itu menyusup dalam raga saya. Membunuh sya perlahan tanpa ampun. Saat itu, sejenak saya tidak ingat bagaimana caranya bahagia. Saya lupa rasanya terjebak dalam lautan manusia. Yang ada hanya saya. Dan waktu. Dan hampa. Dan dari situlah saya belajar untuk menghargai setiap detik luapan bahagia, menyimpan letupan-letupan kecil untuk setiap ekspresi. Dan menikmati setiap lembaran baru kehidupan untuk di ingat, sebagai memori abadi hidup.

april 2012, sarah aghnia husna

Tuesday, April 3, 2012

The Last Wish : Sebuah Film

Boleh saya teriak?
AAAAAAAAAAAA!
Film garapan pH asam-basa (ngaco) yang digawangi saya dan kawan-kawan memenangkan lomba film di sma 8 dan masuk nominasi di malang film festival.
speechless.

Monday, April 2, 2012

Kita

Ingatkah kamu sore-sore yang telah kita lalui bersama? Dan. Hangatnya matahari jam setengah empat sore favorit saya yang selalu kamu herankan. Juga, dua bangku yang selalu menjadi saksi bisu pertemuan-pertemuan kita yang menyenangkan. Taukah kamu, saya merindukan kamu dengan sangat? Merindukan candaan kita tentang hidup. Merindukan dua cangkir kafein pekat yang selalu saya sajikan untuk kita berdua. Namun entah kenapa akhir-akhir ini tidak tersentuh olehmu. Orang bilang saya gila. Mungkin. Mereka bilang, kamu tidak nyata. Hanya siluet, hanya bayangan yang lewat. Tapi saya yakin, kita masih ada. Ya. Kita. Semua tentang saya dan kamu. Semua waktu yang terlewat bersama antara saya dan kamu. Mereka mungkin hanya iri atau mengada-ada. Iya, kan? Saya rindu kita. Jadi, maukah kamu kembali mengisi bangku kosong di hadapan saya dan kembali mengisi hati saya dengan butiran kebahagiaan? Saya harap, ya.